Ikan Jurung yang Mahal dan Langka dari Lokop, Aceh Timur, Jadi Mata Pencaharian Warga

Sedangkan, jika mentah atau baru ditangkap ikan jurung dijual bervariasi sesuai dengan ukuran

Ikan Jurung yang Mahal dan Langka dari Lokop, Aceh Timur, Jadi Mata Pencaharian Warga
SERAMBINEWS.COM/SENI HENDRI
Bantalidan warga Gampong Ujung Karang, Kecamatan Serba Jadi Lokop, Aceh Timur, memperlihatkan ikan jurung yang ditangkap di sungai Lokop, Minggu (6/1/2019). 

Laporan Seni Hendri | Aceh Timur

SERAMBINEWS.COM, IDI – Ikan jurung merupakan salah satu ikan air tawar yang hidup di sungai Lokop, Kecamatan Serbajadi, Aceh Timur.

Selain ikan jurung, di sungai yang bermuara ke sungai Simpang Jernih, dan Aceh Tamiang ini, juga terdapat ikan dundung, kebaro, lele, gabus, mujahir, dan sejumlah ikan liar lainnya.

“Tapi setiap harinya warga fokus mencari ikan jurung. Karena harganya mahal,” ungkap Zainuddin, Keuchik Gampong Lokop, Kecamatan Serbajadi, Aceh Timur, kepada Serambi, Senin (7/1/2019).

Baca: Alhamdulillah, Hujan Guyur Meulaboh, Semoga Padamkan Kebakaran Hutan dan Lahan

Baca: Sabang Mulai Tanam Kurma Perdana

Menurut Zainuddin, selain dijual mentah, ikan jurung juga dikeringkan dengan cara disalai atau diasapkan, dengan harga jual Rp 90-100 ribu perkilogram.

“Rp 90-100 itu harga jual di Lokop, jika dibawa ke Gayo Lues bisa mencapai Rp 130 ribu perkilogram,” jelas Zainuddin, seraya menyebutkan, kadang-kadang warga dari daerah lain juga datang ke Lokop khusus mencari ikan tersebut.

Sedangkan, jika mentah atau baru ditangkap ikan jurung dijual bervariasi sesuai dengan ukuran.

Baca: Burung Ini Harganya Rp 40 Juta, Tapi Dijual Online Rp 2 Juta, Terungkap Pencurinya

Baca: Besok Bisa Dilihat Pengumuman CPNS, 272 CPNS Pidie Dinyatakan Lulus

“Jika panjangnya sekitar 15 inci harganya Rp 200 ribu per ekor. Sedangkan, kalau panjangnya sampai 1 meter, harganya mencapai 500 ribu per ekor,” jelas Zainuddin. Sedangkan ikan dundung harga jualnya Rp 25-35 ribu perkilogram.

Selain berkebun, jelas Zainuddin, sebagai warga di Lokop setiap harinya bermata pencaharian mencari ikan di sungai Lokop, dengan cara dipancing, dijala, dan memasang jaring.

“Mencari ikan merupakan tradisi nenek moyang yang telah turun menurun yang masih dipraktekkan warga Lokop,” ujar Zainuddin.

Baca: Tuntut Stabilkan Harga Gas Elpiji 3 Kg, Warga Unjuk Rasa ke Disdagkop dan UKM Aceh Timur

Baca: Tepis Rumor Mistis, Tim SAR Lanjutkan Pencarian Keuchik Blang Makmur Abdya Sampai Besok

wisatawan menikmati kesegaran Sungai Lokop Aceh Timur, Senin (7/1/2019)
wisatawan menikmati kesegaran Sungai Lokop Aceh Timur, Senin (7/1/2019) (SERAMBINEWS.COM/SENI HENDRI)

Apabila menghadapai hari besar Islam, seperti menjelang Hari Raya, atau Maulid Nabi Besar Muhammad SAW, warga Lokop, berkelompok dan menginap di hutan mencari ikan Jurung.

“Setiap kelompok 4-5 orang. kadang-kadang nginap di hutan selama seminggu, hasilnya bisa mencapai 25-30 kg ikan jurung, kemudian dibagi dan dijual,” ungkap Zainuddin.

Namun demikian, sebagian warga setiap harinya tetap saja ada yang mencari ikan, baik siang, maupun malam hari.

Baca: Pemerintah Jangan Terlena Menguatnya Rupiah ke Rp 14.024, Begini Pesan Mantan Menkeu 

Baca: Ini Ciri-ciri Pengusaha Bersama Artis Vanessa Angel Dalam Kamar Hotel, Ternyata Masih Bujang

Selain mencari ikan, mata pencarian warga Lokop umumnya berkebun, yang ditanami pinang, kakao, dan sejumlah tanaman lainnya.

“Tapi kami masih terkendala jalan pertanian, karena baik pergi ke ladang, maupun pulang, membawa bekal, dan hasil pertanian, kami junjung di kepala, karena belum adanya pembangunan jalan produksi pertanian. Kadang-kadang pergi jam 7 pagi, sampai ke ladang pukul 11. WIB, begitu sejak zaman dulu,” ungkap Zainuddin. (*)

Penulis: Seni Hendri
Editor: Hadi Al Sumaterani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved