Polemik Harga Tiket

Aceh Ajukan Skema Tarif ke Presiden Soal Mahalnya Harga Tiket Pesawat untuk Keberangkatan Domestik

Fenomena ini dinilai sangat tidak baik dan tidak sehat, serta bisa menurunkan rasa nasionalisme.

Aceh Ajukan Skema Tarif ke Presiden Soal Mahalnya Harga Tiket Pesawat untuk Keberangkatan Domestik
KOLASE SERAMBINEWS.COM/BUDI FATRIA
Kolase foto suasana di terminal keberangkatan Bandara SIM Blangbintang Aceh Besar dan peta jalur penerbangan Banda Aceh - Jakarta, dan Banda Aceh - Kuala Lumpur - Jakarta. 

Laporan Herianto I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Plt Gubernur Nova Iriansyah menyesalkan sikap lalai yang diambil maskapai penerbangan udara di Indonesia yang menaikkan tarif ongkos udara tinggi, tapi tidak memprediksi ekses ekonomi yang lebih luas.

Seperti fenomena yang terjadi di Aceh saat ini, banyak masyarakat dari berbagai kalangan yang mau ke Jakarta menggunakan jalur Kuala Lumpur lebih dulu, naik pesawat Air Asia, dengan alasan untuk menghemat ongkos, karena tarif ongkos pesawat Garuda, Lion Air dan lainnya dinilai tinggi dan mahal.

Baca: Julian Castro, Mantan Menteri Perumahan Era Obama Maju sebagai Calon Presiden Amerika Serikat

Baca: Jangan Sampai Terlewat, Gerhana Bulan Pertama Tahun 2019 Jatuh Pada Bulan Januari, Catat Tanggalnya

Baca: Setelah 16 Tahun Dipisahkan oleh Penjara, Ibu dan Anak Palestina Ini Bersatu Hanya Sesaat

Sudah saatnya maskapai penerbangan melakukan uji publik dan sosialisasi yang terukur dan masif sebelum menaikkan tarif, terutama untuk maskapai milik negara, seperti Garuda.

Pemerintah Aceh akan menawarkan skema penentuan tarif yang lebih rasional, diawali dengan berkirim surat mempertanyakan kebijakan tarif tinggi di kepada Menhub dan ditembuskan kepada Presiden.

Pernyataan tersebut dikatakan Kadis Perhubungan Aceh, Junaidi kepada Serambi, Minggu (12/1) di Banda Aceh mengutip pernyataan Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah untuk dipublis ke media.

Menurut Junaidi sangat rasional, dan untuk mencegah dampak lebih buruk meluas sampai kepada ekonomi masyarakat, secepatnya dikaji ulang kembali.

Alasannya, menurut Junaidi, kalau sudah masyarakat harus menggunakan jalur luar negeri dan naik pesawat asing lebih dulu untuk menuju ke ibu kota negara, dengan alasan untuk menghemat ongkos, ketimbang naik pesawat domestik.

Fenomena ini dinilai sangat tidak baik dan tidak sehat, serta bisa menurunkan rasa nasionalisme.
Dampaknya, lanjut Junaidi, tidak hanya itu, tapi berbagai program pembangunan ekonomi di daerah, bisa kena imbas buruknya.

Antara lain, jumlah wisatawan nasional dan asing yang akan datang ke Aceh via Jakarta akan menurun drastis.

Ini harusnya menjadi pertimbangan bagi Menhub, Menteri BUMN, perusahaan maskapai penerbangan udara nasional, seperti garuda dan lainnya.

Menhub boleh-boleh aja menyatakan, tarif yang dijual maskapai penerbangan udara garuda dan swasta nasional masih di bawah tarif batas atas, tapi fenomena yang terjadi sekarang ini di Aceh dan berbagai daerah lainnya, setelah pihak maskapai udara menaikkan tarif barunya sejak Oktober 2018-Januari 2019 ini, untuk penerbangan lokal, banyak masyarakat yang sudah tidak lagi sanggup membeli tiket pesawat udara domestik untuk berpergian ke provinsi lainnya di Indonesia.

Buktinya, ungkap Junaidi, untuk pergi ke Jakarta dan kota besar lainnya di Pulau Jawa, Bandung, Yokgyakarta, Bandung, apakah untuk urusan pendidikan, bisnis dan keluarga, harus melalui Kuala Lumpur, Malaysia, dengan alasan untuk hemat biaya transportasi udara.

“Hal itu dilakukan masyarakat kita di Aceh, karena perbedaan harga tiket pesawat domestik Garuda, Lion dan lainnya dengan pesawat asing (Air Asia) untuk rute Banda Aceh -Jakarta via Kuala Lumpur dengan Banda Aceh-Jakarta, nilainya cukup fantastis antara 50-60 persen, dari harga tiket pesawat penerbangan demestik,”ujar Junaidi.(*)

Penulis: Herianto
Editor: Ansari Hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved