Opini

‘Stunting’ dan Bonus Demografi Aceh

STUNTING atau pendek, bukan hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami ibu hamil dan balita, tapi penyebabnya multidimensi

‘Stunting’ dan Bonus Demografi Aceh
TRIBUNNEWS.COM
stunting 

Oleh Ibrahim

STUNTING atau pendek, bukan hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami ibu hamil dan balita, tapi penyebabnya multidimensi seperti pola pengasuhan anak yang kurang baik hingga minimnya pengetahuan ibu. Di samping itu, terbatasnya layanan kesehatan dari layanan ante natal care (pelayanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan), post natal care (pelayanan kesehatan untuk ibu setelah melahirkan) yang berkualitas, hingga asupan makan bergizi.

Ditambah lagi minimnya ketersediaan pangan di rumah tangga, karena status sosial ekonomi keluarga yang kurang memadai. Semua sepakat, petugas kesehatan bertanggung jawab terhadap masalah itu. Namun peran sektor, seperti petugas kesehatan (bidan dan pelaksana gizi) menjadi suatu keniscayaan. Optimalisasi layanan di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) mulai dari wanita usia subur, persiapan kehamilan, kesehatan ibu hamil, edukasi terhadap ibu hamil agar anak dilahirkan tidak stunting.

Tahapan itu ditambah dengan asuhan persalinan normal dengan baik, pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif dan makanan pendamping ASI sesuai umur, pemberian imunisai lengkap dan perawatan tumbuh kembang balita. Rentetan program itu harus berbanding lurus antara pusat dan daerah. Menjadi program membumi untuk seluruh rakyat negeri ini.

Publikasi terbaru badan kesehatan dunia (WHO) tahun lalu tentang penurunan stunting pada anak disebutkan secara global pada 2016, sebanyak 154,8 juta (22,9%) anak balita menderita stunting di dunia. WHO membatasi stunting di setiap negara, provinsi, dan kabupaten/kota hanya sebesar 20% dari jumlah balita di daerah itu. Indonesia proporsi status gizi stunting sebesar 30,8% (Riskesdas, 2018). Artinya, jauh dari target yang ditetapkan WHO. Lalu Aceh tercatat sebagai satu dari tiga provinsi dengan jumlah kasus stunting tertinggi di Tanah Air.

Bonus demografi
Kondisi stunting bukan sebatas berdampak pada fisik, tetapi juga pada kecerdasan. Terganggunya perkembangan sel otak berdampak pada kecerdasan dan kemampuan belajar rendah, karena kehilangan point IQ.

Anak dengan stunting juga berpotensi mengalami penyakit tidak menular (PTM). Risiko lainnya berpotensi mengalami obesitas karena terganggunya fungsi organ tubuh dalam sistem pencernaan. Akibatnya asupan makanan yang bergizi tidak menambah tinggi badan melainkan tumbuh ke samping (gemuk). Fungsi organ lainnya yang terganggu juga membuat anak stunting bisa menderita penyakit diabetes, jantung, stroke dan lain-lain. Dan itu semua akan berpengaruh terhadap kehidupannya di masa mendatang.

Saat ini Indonesia memiliki peluang bonus demografi pada rentang 2028-2031 nanti. Di mana usia produktif lebih besar dari usia non produktif, serta tingkat ketergantungan (dependency ratio) penduduk tidak produktif terhadap penduduk produktif cenderung rendah.

Melimpahnya jumlah penduduk usia produktif sejatinya harus dimanfaatkan untuk meningkatkan capaian-capaian program pembangunan di berbagai bidang. Namun jika angka balita stunting masih relatif tinggi, tentu itu menjadi ancaman serius. Bonus demografi menjadi berkah jika mempersiapkan generasi yang unggul dan berdaya saing dari negara-negara lainnya. Sebaliknya, akan menjadi musibah atau petaka jika tak mengatasinya sejak dini, saat ini juga.

Rekor Aceh dengan angka stunting tertinggi di Indonesia, tentu saja sangat memprihatinkan. Bonus demografi akan sirna jika diisi oleh sumber daya manusia (SDM) yang tidak berkualitas dan berdaya saing. Dan, akan menjadi ancaman terhadap pembangunan sosial ekonomi masyarakat Aceh. Bonus demografi tidak akan berarti apa-apa tanpa generasi sehat, karena dengan kondisi tubuh sehat mereka mampu memaksimalkan potensi diri dalam berbagai aspek kehidupan.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved