Opini

‘Stunting’ dan Bonus Demografi Aceh

STUNTING atau pendek, bukan hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami ibu hamil dan balita, tapi penyebabnya multidimensi

‘Stunting’ dan Bonus Demografi Aceh
TRIBUNNEWS.COM
stunting 

Jika pada 2030 nanti populasi penduduk stunting menjadi jumlah penduduk terbesar, maka dipastikan mereka menjadi generasi tidak produktif, kualitas, dan berdaya saing sesuai tuntutan globalisasi dewasa ini. Padahal kita memasuki era Revolusi Industri 4.0 yang membutuhkan generasi kreatif, produktif dan berdaya saing secara global. Bukan sebatas bersaing di tingkat lokal dan nasional.

Upaya strategis
Untuk menghindari persoalan di atas, maka berbagai upaya harus dilakukan, seperti pemerataan ekonomi, mengurai angka kemiskinan, dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan secara merata di Aceh.

Distribusi tenaga kesehatan secara merata dan tidak menumpuk pada titik perkotaan harus dibenahi. Sehingga, seluruh pelosok daerah ini mendapat layanan dari tangan-tangan terampil petugas medis dan paramedis. Bukan sebatas petugas medis yang tidak kompeten di bidangnya.

Saat ini, hampir seluruh desa ditempatkan bidan yang sejatinya bisa mendeteksi dini potensi stunting. Itu bisa dilakukan sejak kehamilan sampai balita. Sayangnya, tidak semua bidan memiliki sensitivitas untuk isu stunting, belum lagi ditemukan fakta bahwa masih ada di antara mereka tidak menetap di desa tempat tugasnya.

Upaya lain harus meningkatkan pengetahuan kaum ibu tentang gizi.

Dalam hal ini, ibulah sebagai pemeran utama sekaligus sutradara dalam menjaga kesehatan keluarga. Dan, yang juga tak kalah penting adalah menyelaraskan komitmen kepala daerah dengan program yang dijalankan untuk menangani masalah stunting. Koordinasi multi sektor (kesehatan, perikanan, pertanian, perekonomian dan pemberdayaan masyarakat) harus menjadi fokus utama.

Sinkronisasi lintas sektor ini bisa berupa sosialisasi dan edukasi berkesinambungan untuk meningkatkan kesadaran keluarga dan masyarakat terkait risiko stunting. Pembangunan akses pangan dan gizi berkualitas, sehingga ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga akan terpenuhi utamanya untuk ibu hamil dan balita. Terakhir, pembangunan infrastruktur air bersih dan sanitasi memenuhi syarat kesehatan untuk kebutuhan hidup dan menghambat timbulnya penyakit, khususnya penyakit infeksi.

Diharapkan dengan intervensi yang tepat, faktor risiko stunting dapat dicegah. Bahkan mereka yang memiliki riwayat kurang gizi saat balita, tetap bisa dioptimalkan sebagai modal Aceh meraih bonus demografi. Pertanyaannya kemudian adalah sejauh mana kita mempersiapkan pembangunan manusia dewasa ini akan menentukan sejauh mana kita berhasil memanfaatkan peluang. Selamat Hari Gizi Nasional ke-59 tahun 2019. Mari perangi stunting!

Dr. Ibrahim, SKM., M.Kes., Dosen Akademi Kesehatan Pemkab Aceh Utara/Praktisi Kesehatan Masyarakat. Email: ibrahimbram29@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved