Pojok Humam Hamid
Indonesia dan BRICS: Posisi Bebas Aktif dan Ketidaksenangan AS
Di tengah semua itu, bendera Merah Putih Indonesia berkibar. Bukan di pinggir lapangan, tapi di tengah gelanggang BRICS.
Oleh: Ahmad Humam Hamid*)
SEJARAH kadang bergerak seperti jarum jam yang longgar—berputar tergesa di satu detik, melambat di detik berikutnya, lalu tiba-tiba melompat melewati angka-angka yang dulu dianggap tak terbayangkan.
Tahun 2025 mungkin akan dikenang sebagai salah satu lompatan itu.
Ketika BRICS--forum ekonomi yang dulu dipandang sebagai klub eksotik negara-negara berkembang--tiba-tiba menjadi magnet bagi kekuatan menengah yang ingin mengubah peta permainan dunia.
Dan di tengah semua itu, bendera Merah Putih Indonesia berkibar.
Bukan di pinggir lapangan, tapi di tengah gelanggang.
Di sebuah ruang pertemuan berlampu gantung kristal di Rio de Junairo, bahasa yang terdengar bercampur: Portugis, Rusia, Hindi, Mandarin, Arab, dan bahasa Indonesia.
Di ujung ruangan, bendera-bendera BRICS berkibar seperti kanvas masa depan yang sedang dilukis ulang.
Dari luar, hujan tipis membasahi jalan, tapi di dalam, udara dipenuhi senyum diplomatis, bisik-bisik strategi, dan tatapan penuh kalkulasi.
Masuknya Indonesia ke BRICS bukan sekadar catatan kaki dalam buletin diplomatik.
Ini adalah pesan, bahwa kita tidak puas lagi hanya menjadi penonton ketika peta ekonomi global digambar ulang.
BRICS hari ini mencakup lebih dari 45 persen populasi dunia, 36 % PDB global, dan hampir 20 % perdagangan internasional.
Lebih penting lagi, ia menjadi simbol keinginan negara-negara non-Barat untuk berdagang, berinvestasi, dan bernegosiasi di luar orbit tunggal dolar AS.
Washington tentu mendengar pesan itu, dan tidak menyukainya.
Baca juga: Trump Ngamuk ke BRICS, Ancam Kenakan Tarif Tambahan 10 Persen ke Anggotanya, Indonesia Terancam
Ujian awal bagi Indonesia
Bagi Amerika, BRICS bukan sekadar forum ekonomi.
| 821 Tahun Banda Aceh: Mau ke Mana Kota Kita? |
|
|---|
| Irwandi, Mualem, dan “Peunutoh”: “JKA Bandum” vs “JKA Kudok” - Akankah Lahir Paradoks Kebijakan? |
|
|---|
| MDCP Prabowo dan Trump: Kenapa Kita Harus Tahu? |
|
|---|
| Makar atau Tak Nyaman? Membaca Mujani, Amsari, Fahri Hamzah, dan Mahfud MD |
|
|---|
| Iran dan Gencatan Senjata: “Lamuek” Hormuz, Nuklir, dan Adi Kuasa Timur Tengah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/humam-hamid-sosiolog-aceh-3.jpg)