Ambil Semen di Krueng Raya, Truk Antre 3 Hari

Sopir truk angkutan yang ingin mendapatkan Semen Padang di Pelabuhan Krueng Raya, harus mengantre

Ambil Semen di Krueng Raya, Truk Antre 3 Hari
Proses bongkar muat semen di Packing Plan Semen Padang, di Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Aceh Besar. 

BANDA ACEH - Sopir truk angkutan yang ingin mendapatkan Semen Padang di Pelabuhan Krueng Raya, harus mengantre sampai tiga hari. Penyebabnya, mesin pengepakan Semen Padang di tempat tersebut sering macet. Hal itu disampaikan Petugas Keamanan Silo Semen Padang Krueng Raya, Aris, kepada Wakil Ketua I DPRA, Sulaiman Abda, saat berkunjung ke lokasi itu, kemarin.

Untuk stok semen, kata Aris, di silo itu masih ada sekitar 16 ribu ton dan minggu ini masuk lagi 8.000 ton. Sehingga totalnya 24.000 ton. Dalam dua pekan terakhir, lanjutnya, jumlah truk yang datang mengambil Semen Padang ke Pelabuhan Krueng Raya, cukup banyak. Sehingga mereka harus mengantre sampai tiga malam empat hari, baru mendapat giliran memuat semen. Antrean panjang itu, kata Aris, terjadi akibat pasokan Semen Andalas yang diproduksi PT Holcim Indonesia di Lhoknga, Aceh Besar sudah dua minggu tersendat. Sehingga truk memilih untuk memuat Semen Padang ke Pelabuhan Krueng Raya.

Masalah yang dialami di Silo Pelabuhan Krueng Raya, ungkap Aris, mesin pengepakan semen sering berhenti tiba-tiba. Bahkan, dalam sehari hal itu bisa terjadi dua sampai tiga kali. Soal penyebab macetnya mesin pengepakan semen tersebut, Aris mangatakan, pihaknya belum mendapat penjelasan dari teknisi. “Masalah ini sudah kami laporkan ke manajemen di Padang. Manajer teknik dan produksi serta pemasaran yang sedang berada di Padang, baru kembali ke Banda Aceh, Senin (4/2) mendatang,” ungkap Aris.

Sulaiman Abda mengatakan dirinya berkunjung di tempat itu untuk melihat apakah proses pengepakan Semen Padang masih berjalan lancar atau tidak. Sebab, dalam beberapa waktu terakhir semen makin langka di pasaran. Hal itu terjadi karena terganggunya produksi Semen Andalas oleh PT Holcim Indonesia.

Masalah ini, menurut Sulaiman, harus disikapi Disperindag Aceh dan Plt Gubernur Aceh, Nova Iriansyah. Caranya antara lain melaporkan kepada Menperindag untuk bisa dibantu pasokan semen dari Pulau Jawa atau Kalimantan guna mengisi kekosongan Semen Andalas yang menguasai 70 persen pasar semen di Aceh.

Sopir truk semen lintasan Meulaboh, Muntazar, mengatakan, dirinya sudah tiga malam menginap di Pelabuhan Krueng Raya dan baru dapat muatan 450 sak semen untuk dibawa ke Meulaboh. Keluhan hampir sama juga disampaikan sopir truk asal Blang Pidie, Surya, dan Saleh Ardi, sopir truk semen dari Banda Aceh.

Sementara itu, Semen Padang dalam sepekan terakhir menguasai pasar di Meulaboh, Aceh Barat. Penyebabnya, stok Semen Andalas yang diproduksi PT Holcim Indonesia, di Lhoknga, selama ini kosong.

Amatan Serambi, kemarin, pada sejumlah toko bahan bangunan di Jalan Singgahmata II Meulaboh, hanya tersedia Semen Padang yang dipasok dari Sumatera Barat melalui Pelabuhan Krueng Raya dan kemudian diteruskan melalui jalur darat ke Meulaboh. Karena hanya satu jenis semen yang ada di pasar, harga jual Semen Padang juga naik dari Rp 55 ribu menjadi Rp 57 ribu per sak (isi 40 kg).

Beberapa pedagang yang ditanyai kemarin mengaku, Semen Andalas sudah sepekan tak tersedia di pasaran.“Stok Semen Padang juga terbatas, sementara permintaan tinggi,” kata Mahdi, pedagang bahan bangunan di Meulaboh.

Warga di kawasan itu berharap pemerintah secara mencari solusi agar Semen Andalas kembali tersedia di pasaran. Sebab, semen merupakan salah satu bahan utama untuk kelancaran proyek kontruksi. “Bila semen yang dijual di pasar ada beberapa jenis, harganya bisa stabil,” kata Amrol, warga Meulaboh.(her/riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved