BNN Deteksi 29 Jalur Tikus

Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Aceh mendeteksi 29 jalur tikus sebagai jalan masuk narkoba ke Aceh

BNN Deteksi 29 Jalur Tikus
SERAMBITV.COM
Kepala BNNP Aceh, Faisal Abdul Naser 

* Penyelundupan Narkoba ke Aceh

BANDA ACEH - Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Aceh mendeteksi 29 jalur tikus sebagai jalan masuk narkoba ke Aceh, terutama untuk jenis sabu-sabu. Bahkan satu pelabuhan resmi, yakni Pelabuhan Kuala Langsa, masuk dalam list jalur yang kerap digunakan bandar dan kurir narkoba memasok sabu-sabu ke Aceh (Lihat, jalur penyelundupan).

Informasi itu diungkapkan Kepala BNN Aceh, Brigjen Pol Drs Faisal Abdul Naser MH, dalam konferensi pers tentang pelaksanaan Desa Bersinar (Bersih Narkoba) dan Inpres Nomor 6 Tahun 2018 tentang rencana aksi Nasional Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) di Provinsi, Rabu (13/2).

“Pelabuhan tikus digunakan sebagai jalur masuk kapal-kapal kecil yang sulit dijangkau pengawasan petugas, sehingga kita harapkan seluruh pihak tergugah dan sama-sama menaruh perhatiannya untuk menyelamatkan generasi muda Aceh. Aceh saat ini dalam kondisi bahaya, darurat narkoba. Karena, sekarang narkoba mulai merambah pelosok desa dan menyasar semua umur dan status sosial, mulai petani sampai anak-anak kita,” tegasnya.

Jenderal bintang satu ini mengungkapkan, sebagian besar jalur tikus itu berada di pantai utara dan timur Aceh dan terbentang sepanjang pesisir Selat Malaka, terutama Aceh Tamiang dan Aceh Timur. Kalau tugas P4GN di Aceh hanya menjadi bagian tugas dan tanggung jawab dari aparat penegak hukum semata, maka dapat dipastikan para bandar dan kurir yang memasok narkoba ke Aceh semakin leluasa. Ketika kepedulian untuk menyelamatkan Aceh sudah mulai luntur, kata dia, maka kehancuran negeri dan generasi muda Aceh itu semakin dekat.

Ia menerangkan, salah satu faktor lancarnya jalur tikus selama ini digunakan bandar dan kurir narkoba, karena pelaku sudah pernah merasakan untung besar dari bisnis haram itu, ditambah masyarakat di sekitar jalur yang menjadi jalur pasokan narkoba itu apatis atau tidak peduli. “Jadi, untuk menghancurkan Aceh dan generasi muda ini ke depan, berbagai cara dilakukan. Malah, para pelaku yang pernah ditangkap mengaku tergiur diberi upah sampai Rp 20 juta hanya dengan membawa 1 kg sabu. Beginilah cara para gembong sabu itu menghancurkan kita. Kami imbau, mari sama-sama kita selamatkan Aceh dan generasi muda ini ke depan,” harap Brigjen Faisal.

Kepala BNN Aceh Brigjen Faisal menjelaskan, di Aceh dibentuk 85 Desa Bersinar (Bersih dari Narkoba) yang merupakan program kerja sama BNN dengan Kemendagri. “Desa Bersinar ini merupakan wujud implementasi Inpres Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Rencana Aksi Nasional P4GN,” ujarnya.

Permasalahan narkotika sudah merambah ke kalangan warga desa, sehingga BNN Aceh mencanangkan program Desa Bersinar yang diharapkan dapat meningkatkan peran masyarakat menangkal penyalahgunaan narkotika, karena dalam penanganan permasalahan narkotika harus melibatkan semua elemen dan seluruh lapisan masyarakat bawah. “Jadi, melalui program Desa Bersinar ini diharapkan masyarakat dapat menangkal diri dan lingkungannya dari pengaruh penyalahgunaan narkoba,” ujar Brigjen Faisal.(mir)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved