50% Tanaman Pala Abdya Mati Diserang Hama

Serangan hama terhadap tanaman pala di Aceh Barat Daya (Abdya) terus berlangsung

50% Tanaman Pala Abdya Mati Diserang Hama
Getty Images
Ilustrasi buah pala. 

BLANGPIDIE - Serangan hama terhadap tanaman pala di Aceh Barat Daya (Abdya) terus berlangsung. Akibatnya, dari 2.697 hektare (ha) areal tanaman pala di kabupaten itu diprediksi 50% (1.248 ha) di antaranya sudah punah diserang hama. Hama sangat mematikan itu mulai menyerang sejak belasan tahun lalu dan hingga saat kini belum berhasill dikendalikan.

Ribuan hektare tanaman pala yang sudah mati itu mendesak untuk diremajakan melalui program rehabilitasi tanaman, di samping perlunya dicarikan obat pembasmi hama pala yang benar-benar ampuh. “Bila tidak, maka tanaman perkebunan yang pernah menjadi primadona bagi petani Abdya itu segera tinggal kenangan,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) Abdya melalui Kabid Perkebunan, Azwar SHut kepada Serambi, Kamis (14/2).

Menurutnya, luas areal tanaman pala di Abdya 2.697 ha. Tanaman perkebunan itu tersebar di delapan kecamatan dari sembilan kecamatan di Abdya, kecuali Kecamatan Susoh.

Diakuinya bahwa tanaman pala banyak yang mati diserang hama penggerek batang dan jamur busuk akar. “Berdasarkan data sementara yang diperoleh dari kelompok tani bahwa tanaman pala yang telah mati akibat serangan hama seluas 716 hektare,” ujarnya.

Azwar mengatakan, data tentang luas areal tanaman pala yang mati seluas 716 ha akibat serangan hama masih bersifat sementara. Sebab, dari hasil amatan lapangan tanaman pala yang mati diyakini melebihi data tersebut. “Dari 2.697 ha tanaman pala, diperkirakan 50 persen (1.348 ha) di antaranya telah mati akibat serangan hama,” kata Kabid Perkebunan pada Distanpan Abdya itu. Tanaman pala yang mati terkena serangan hama itu terjadi di delapan kecamatan, dari Babahrot hingga Lembah Sabil, kecuali Kecamatan Susoh karena tak memiliki tanaman pala. Serangan hama terparah di Kecamatan Jeumpa, terutama kawasan pegunungan Gampong Alue Seulaseh, Alue Sungai Pinang, Jeumpa Barat, Kuta Jeumpa, dan Cot Manee.

Di Kecamatan Setia, hama sangat ganas tersebut menyerang tanaman pala di kawasan Gunong Jirat, yakni kawasan perkebunan pala petani dari tiga gampong/desa setempat. Hama yang membuat tanaman pala mati mendadak itu juga menyerang tanaman pala milik petani Kecamatan Blangpidie, Tangan-Tangan, Manggeng, dan Lembah Sabil.

Kabid Perkebunan, Azwar menambahkan, hama penggerek batang dan jamur akar tersebut mulai terjadi sejak belasan tahun lalu, tapi hingga sekarang belum ditemukan obat pembasmi yang ampuh. Selain tenaga ahli dari Dinas Perkebunan Provinsi Aceh, Tim IPB Bogor juga sudah turun ke lapangan untuk melakukan pengendalian hama yang sangat mematikan itu, namun belum menunjukkan hasil memuaskan.

Hama penggerek batang dan jamur akar busuk membuat tanaman pala mati secara mendadak. Hama yang sangat sulit dikendalikan itu membuat tanaman pala layu daun dan segera berubah menjadi kuning, tak lama kemudian mati sehingga tanaman pala yang semula tampak hijau dalam waktu singkat hanya tinggal ranting.

Hama ini bukan saja menyerang tanaman pala tua atau telah berumur puluhan tahun, tetapi juga tanaman pala muda atau tanaman yang diremajakan. “Peristiwa ini merupakan pukulan berat bagi petani yang mengandalkan pendapatan sehari-hari dari produksi pala. Terlebih lagi ketika produksi menurun drastis, harga pala di tingkat petani juga menurun,” kata Zainal Abidin, warga Kecamatan Setia kepada Serambi beberapa waktu lalu.

Dikatakan, petani mendesak Pemkab Abdya dalam hal ini Distanpan segera mencari solusi untuk menangani serangan hama yang meresahkan tersebut. Misalnya, menyalurkan bibit pala yang tahan hama kepada petani untuk melakukan rehabilitasi tanaman pala yang telah punah atau mengganti tanaman pala yang mati dengan tanaman jenis lain, seperti tanaman kopi.

Sementara itu, Kepala Distanpan Abdya melalui Kabid Perkebunan, Azwar SHut kepada Serambi menjelaskan, tanaman pala yang telah mati akibat serangan hama dilakukan rehab tanaman. Tahun 2019 ini, Dinas Perkebunan Aceh melakukan rehabilitasi tanaman pala di Abdya seluas 400 ha.

Kegiatan rehabilitasi memanfaatkan APBA 2019 sedang dilakukan pendataan calon petani dan calon lahan (CPCL) kelompok tani pala di delapan kecamatan. “Hasil pendataan CPCL segera dikirim ke provinsi,” kata Azwar.

Melalui kegiatan rehabilitasi tersebut petani diberikan bantuan bibit pala yang disesuaikan dengan luas areal pala yang telah mati. Lahan seluas 1 ha bisa ditanami bibit pala 120 batang dengan jarak tanaman 9 x 9 meter. (nun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved