Citizen Reporter

Berburu Makanan Halal di Nagoya

JIKA kita bicara tentang kota tujuan wisata paling populer di Jepang, sangat mungkin yang terlintas di benak

Berburu Makanan Halal di Nagoya
IST
BILLAL FARANOV

OLEH BILLAL FARANOV, Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, sedang ikut pertukaran mahasiswa di Nagoya Gakuin University

JIKA kita bicara tentang kota tujuan wisata paling populer di Jepang, sangat mungkin yang terlintas di benak para pembaca adalah Tokyo, Osaka, dan Kyoto. Padahal, ada satu kota lain yang sangat menarik untuk dikunjungi, yakni Nagoya.

Saya sedang berada di sini untuk mengikuti kuliah dua semester sebagai perwujudan implementasi perjanjian kerja sama (MoU) yang telah ditandatangani Rektor Universitas Almuslim (Umuslim), Dr Amiruddin Idris MSi dan President Nagoya Gakuin University (NGU) Jepang, Prof Hisao Kibune, beberapa waktu lalu.

Nagoya merupakan ibu kota dari Prefektur (Provinsi) Aichi. Nagoya salah satu pusat ekonomi terpenting bagi Jepang karena di sini terdapat banyak industri manufaktur dan otomotif Jepang yang sangat terkenal. Misalnya, kantor dan pabrik Toyota, Honda, dan Mitsubishi. Bahkan, JR Central Tower of Nagoya atau Gedung Stasiun Kereta JR di pusat Kota Nagoya telah tercatat dalam Guiness Book of Record sebagai bangunan yang memiliki stasiun kereta tertinggi di dunia. Menariknya lagi, di lantai bawah tanah JR Tower tersebut terdapat pusat perbelanjaan terbesar dan yang pertama di Jepang.

Untuk angkatan ini kami dari Universitas Almuslim yang kuliah di Jepang hanya dua orang. Sekarang kami sudah hampir lima bulan di Negeri Matahari Terbit ini. Sudah hampir satu semester ini kami mengikuti perkuliahan dengan para mahasiswa yang berasal dari berbagai bangsa. Banyak hal dan pengalaman yang kami dapatkan di sini. Misalnya, dalam hal disiplin waktu dan kemandirian. Kami menyesuaikan diri dan ikuti kebiasaan orang Jepang.

Adapun perubahan yang sangat kentara terjadi pada pribadi saya adalah kedisiplinan dan selera makan. Sebelum datang ke Jepang sempat terbayang makanan Jepang tidak sesuai dengan lidah saya, tetapi khayalan acap kali bertentangan dengan kenyataan. Selama di Jepang saya justu lebih sering mengonsumsi makanan tanpa bahan berminyak. Bahkan saat jam sedang kuliah, saya sering tak pulang ke penginapan, melainkan saya sesuaikan dan terbiasa makan makanan praktis dan murah khas Jepang. Yaitu onigiri (nasi dibalut rumput laut) berisi ikan tuna saus mayonaise.

Tetapi saat makan malam, saya lebih sering makan di restoran tempat saya bekerja. Kebetulan, sejak dua bulan lalu saya mengikuti program arubaito atau program bekerja paruh waktu di salah satu restoran terkenal di Nagoya. Saat ini saya satu-satunya tenaga kerja asing yang bekerja di restoran ini. Saya ditempatkan di bagian dapur. Tentunya apabila sudah lapar dengan sangat mudah saya bisa dapatkan makanan untuk mengganjal perut.

Di restoran ini semua masakan diolah dengan menu dan masakan khas Nagoya serta beberapa makanan cepat saji ala Jepang lainnya. Adapun beberapa kuliner khas Nagoya yang terdapat di restoran ini, misalnya tebashaki (sayap ayam) yang terkenal ke seluruh negeri karena lezat, murah, dan cepat saji. Sayap ayam ini digoreng dengan cara yang tidak biasa, tak ada adonan khusus yang digunakan. Sayap hanya digoreng dengan lapisan bumbu yang ringan. Kemudian dibumbui kecap soyu (saus asin khas Jepang), lada, dan biji wijen.

Makanan Nagoya lainnya yang terkenal adalah hitumabushi, berasal dari wilayah yang menjadi produsen belut utama di Prefektur Aichi. Makanan ini harus dicampur dengan bahan tambahan seperti wasabi, daun bawang, dan rumput laut. Ada kalanya makanan ini dimakan dengan kaldu chazuke yang ringan.

Tak hanya itu, beberapa makanan khas Nagoya dianggap unik karena memadukan makanan khas Jepang dan western seperti, misalnya spagheti ankake yang mengombinasikan masakan Jepang dan Italia. Bahkan di restoran tempat saya bekerja beberapa menu masakan memang sudah mencerminkan percampuran budaya Jepang dan western, Misalnya, dalam satu paket makanan ada kombinasi udon dan ramen (khas Jepang), pizza (Italia), dan roti Prancis.
Baru beberapa bulan saya bekerja di restoran ini, tapi berat badan saya naik beberapa kilogram. Itu karena bagi pekerja, jika ingin memesan makanan tersebut kami hanya bayar 50%. Sebagai anak kuliah yang sedang dari kampung halaman kesempatan ini tentunya saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk menambah gizi dan lambong-lambong kopiah. He-he-he.

Akan tetapi, sebagai seorang muslim yang baik, tentunya saya juga harus teliti dalam memilih makanan yang halal untuk disantap. Soalnya, ada beberapa menu utama yang disajikan di beberapa restoran khas Jepang yang mengandung unsur babi (pork) atau di sini disebut buta. Tetapi alhamdulillah di Nagoya juga terdapat banyak restoran halal yang layak direkomendasikan untuk wisatawan muslim. Misalnya, restoran India, Pakistan, Mesir, dan Indonesia. Salah satu di antaranya adalah Restoran Bulan Bali di Sakae, pusat Kota Nagoya. Jadi, tak terlalu sulit berburu makanan halal (halal food) di Nagoya ini.

Menariknya, ketika beberapa kali saya berkunjung ke restoran halal di Nagoya, banyak restoran halal tersebut yang dipadati oleh warga lokal yang menyukai masakan halal. Menurut mereka, kategori halal sudah mengindikasikan bahwa makanan tersebut memang baik untuk dikonsumsi. Bagi kita umat Islam, hal ini tentulah sangat sesuai dengan yang tercantum di dalam Surah Albaqarah ayat 172 bahwa, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved