Citizen Reporter

“Pohon Kohler” di Korsel

KOHLER, lengkapnya Johan Harmen Rudolf Kohler, tentu tidak asing lagi di telinga orang Aceh

“Pohon Kohler” di Korsel
IST
IKHWAN REZA

OLEH IKHWAN REZA, putra Aceh kelahiran Pidie, Founder Kepo Syariah dan Bagidata, melaporkan dari Korea Selatan

KOHLER, lengkapnya Johan Harmen Rudolf Kohler, tentu tidak asing lagi di telinga orang Aceh. Dia adalah jenderal Belanda yang memimpin penyerangan terhadap Kerajaan Aceh pada tahun 1873. Kohler tewas setelah tertembak oleh pasukan Aceh tepat di jantungnya di bawah sebuah pohon geulumpang (Sterculia foetida) di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.

Pohon ini dinamakan Kohlerboom atau pohon Kohler oleh pihak Belanda dan menjadi saksi serta punya nilai sejarah yang sangat mendalam bagi rakyat Aceh. Pohon ini adalah simbol kebebasan dan perlawanan terhadap penjajah.

Sayangnya, situs bersejarah ini yang seharusnya menjadi warisan bukti kepahlawanan Aceh untuk anak cucu malah tak bisa dipertahahankan. Pohon Kohler ditebang pada 2015 pada saat pengerjaan proyek perluasan Masjid Raya Baiturrahman untuk pemasangan payung di era Gubernur Zaini Abdullah. Sampai saat ini saya sendiri tidak mendengar apakah ada upaya atau proses pengembalian situs sejarah ini.

Berbeda halnya yang terjadi di Korea Selatan (Korsel). Saat berjalan ke the War Memorial of Korea di Itaewon, saya menemukan sebuah pohon yang sangat menarik perhatian yang saya sebut seperti “Pohon Kohler” yang sebenarnya itu adalah pohon Douglas McArthur Jr, seorang panglima perang Amerika Serikat yang dianggap berjasa mempertahankan Korea Selatan dalam perang Korea 1950-1953.

Memang berbeda, Kohler adalah sosok yang dibenci rakyat Aceh dan kematiannya merupakan simbol kemenangan rakyat. Sedangkan Douglas McArthur adalah sosok yang dijunjung masyarakat Korea karena jasanya. Akan tetapi, kita dapat belajar tentang cara mereka menghargai sejarah Korea Selatan.

Pohon Douglas McArthur di Korea adalah sumbangan biji pohon dari pohon pine Douglas McArthur di Amerika Serikat. Sumbangan ini diberikan General McArthur Supporter Association pada tahun 1989 dan anak pohon yang tumbuh lagi disumbangkan ke the War Memorial Park. Tempat ini selesai dibangun pada Desember 1993 dan dibuka untuk umum pada 10 Juni 1994. Tujuan dibangunnya adalah sebagai bentuk edukasi kepada generasi baru dengan mengumpulkan bukti sejarah dari perang dari sudut pandang Korsel, agar menjadi pelajaran dan semangat agar suatu saat bisa bersatu kembali.

The War Memorial Park of Korea ini adalah war memorial landmark terbesar di dunia. Di sini banyak sekali dipajang senjata berat atau kendaraan perang yang digunakan selama perang. Banyak turis berfoto di atas tank, helikopter, missil, pesawat tempur, dan lain-lain di indoor displays maupun outdoor displays. Monumen perang yang dibuat untuk mengingat dan menjadi pelajaran, bukan suatu yang menakutkan apalagi menumbuhkan dendam. Justru sebagai bukti sebuah identitas yang bisa membuat rasa percaya diri tumbuh untuk berjuang agar lebih baik.

“Cucu” dari pohon McArthur ini pun ditanam dekat pintu masuk sebelah Stasiun Metro Samgakji yang dibuat juga berdekatan dengan patung “the brothers berpelukan”--dua kakak adik kandung yang harus berperang karena membela negara yang berbeda.

Jadi, pohon yang ada di the War Memorial of Korea ini sebenarnya hanya pohon yang diadakan, bukan yang benar-benar saksi sejarah seperti pohon Kohler di Aceh. Sayangnya, kita tak berhasil menyelamatkannya, bahkan di zaman yang harusnya kita sudah sadar akan pentingnya sejarah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved