Jurnalisme Warga

Menyusuri Riak Danau Lut Tawar

MATAHARI seperempat jarum jam lagi masuk ke kaki bukit. Panasnya mulai memudar seiring awan yang kian berarak

Menyusuri Riak Danau Lut Tawar
IST
Herman RN, Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Tim Peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh-Sumut.

Oleh Herman RN, Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Tim Peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh-Sumut.

MATAHARI seperempat jarum jam lagi masuk ke kaki bukit. Panasnya mulai memudar seiring awan yang kian berarak. Sesekali raja siang itu tertutup mega, sehingga sinarnya meredup. Sesekali pula tampak nyalang, sehingga sinarnya memantul di permukaan Danau Lut Tawar.

Dari atas boat mesin yang saya tumpangi, tampak jelas seakan matahari ada dua, satu di langit dan satu lagi di permukaan Danau Lut Tawar. Boat yang saya naiki melaju perlahan. Rute yang kami lalui mulai dari tepi danau sebelah barat menuju ke tepi danau sebelah timur, melintasi tengah danau sembari sesekali sedikit menepi mencari kedalaman air danau tersebut.

“Saya penasaran, seberapa dalam danau ini. Kita coba cari tahu ya. Silakan nikmati saja pemandangan yang ada,” ujar Ramdanu Martis, lelaki kelahiran 1960, yang hari itu menjadi nakhoda kami melintasi Danau Lut Tawar.

Lelaki yang saya sapa Pak Martis itu adalah nakhoda dadakan. Ia sebenarnya narasumber dalam penelitian saya dan teman-teman. Kebetulan saya dan tiga teman dari Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh-Sumut, sedang melakukan penelitian mengenai pelaku tradisi di Aceh Tengah. Pak Martis merupakan narasumber keenam kami.

Saya dan teman-teman disambut oleh Pak Martis pada sebuah tempat di tepi Danau Lut Tawar. Tempat itu kelak akan menjadi objek wisata edukasi. Di sana akan dibangun sebuah rumah adat Gayo yang dikelilingi berbagai motif kerawang.

Pada lokasi yang dibangun secara mandiri oleh Pak Martis itu akan ada berbagai seni ukir kayu dan batu. Tujuan Pak Martis sederhana, dengan objek lokasi wisata itu kelak masyarakat luas akan lebih mengenal Gayo dan Aceh karena di sana akan ada gambar bercerita tentang berbagai legenda dan mite yang berkembang di Tanoh Gayo.

Selepas berbincang lebih kurang dua jam setengah itulah, Pak Martis mengajak kami menyusuri danau bersejarah di Takengon tersebut. Pak Martis mengaku masih penasaran dengan kedalaman danau itu. Kebetulan ada sebuah boat pribadi yang ia datangkan sepuluh tahun silam. Namun, boat itu sangat jarang digunakan.

“Kebetulan ada kawan-kawan dari Banda Aceh. Saya mau menjadi nakhoda hari ini untuk teman-teman saya. Anggap saja ini sebagai penghormatan dari kami di sini yang tidak mampu memberi apa-apa,” ujarnya.

Saya dan tiga teman dari BPNB Aceh-Sumut langsung menaiki boat tersebut. Selain kami berempat, turut serta pemandu kami sejak hari pertama di Takengon, yakni seorang penyair bernama Mustafa yang lebih dikenal dengan sapaan Win Gemade. Ada juga Dr Joni, akademisi Universitas Gajah Putih (UGP) Takengon bersama putrinya yang mendampingi perjalanan kami membelah Danau Lut Tawar.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved