Jurnalisme Warga

Menyusuri Riak Danau Lut Tawar

MATAHARI seperempat jarum jam lagi masuk ke kaki bukit. Panasnya mulai memudar seiring awan yang kian berarak

Menyusuri Riak Danau Lut Tawar
IST
Herman RN, Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Tim Peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh-Sumut.

Empat puluh lima menit berlalu di atas permukaan danau. Hawa sejuk mulai menerpa. Dari tengah danau, saya melihat ke tepian. Rumah-ruman penduduk berbaris laksana pagar di kaki bukit.

Seperti di Thailand
Sekilas pemandangan tepi bukit tersebut seperti di Thailand. Tepi danau Lut Tawar saat dipandang dari tengah danau tak kalah indah dibanding Pulau Pha Ngan atau Trang di Selatan Thailand. Bedanya, Trang dan Pha Ngan benar-benar telah disulap menjadi pulau wisata, sedangkan Lut Tawar masih seperti apa adanya.

Boat yang saya naiki terus melaju hingga sampai di tepi danau sebelah timur. Sangat dekat dengan kawasan Bintang. “Kita sudah sampai di Bintang, tinggal mencari bulan,” gurau Win Gemade.

Dari navigasi GPS boat, tampak pemandangan bawah Danau Lut Tawar. Ternyata kumpulan ikan lebih banyak di sebelah barat tinimbang di sebelah timur. Saat boat kami masih berada di sebelah barat danau, ikan dengan berbagai ukuran terlihat bagai tumpukan batu. Namun, di sebelah timur, kumpulan ikan mulai kelihatan jarang.

Selain itu, GPS boat juga memperlihatkan lintasan yang kami lalui paling dalam 85 kilometer, ditambah sekitar 10 kilometer tumpukan sampah dan lumpur di bagian bawah. “Berarti lebih kurang 90 kilo kedalaman Lut Tawar ini,” ujar Pak Martis sembari mengamati layar GPS.

Boat yang kami tumpangi kemudian berputar haluan, kembali ke arah barat, tempat kami pertama melakukan perjalanan. Baru sebentar melaju, tiba-tiba saja boat itu mati.

Jantung saya nyaris berhenti tatkala seorang pemuda, anak Pak Martis, mengatakan sudah habis minyak. “Tenang, masih ada satu jeriken lagi,” katanya kemudian sambil tersenyum.

“Berarti satu kali lintasan dari timur ke barat menghabiskan 30 liter solar ya? Ini diisi 30 liter lagi? Total 60 liter?” tanya saya bertubi-tubi.

Pemuda itu mengangguk. “Kalau kita gunakan mesin lebih kecil PK-nya mungkin tidak sampai 60 liter,” lanjut sang pemuda.

Sejurus kemudian, suara mengaji mendayu dari tepi danau, baik sebelah utara maupun selatan. Petanda waktu Magrib segera tiba. Pak Martis mempercepat laju boat. Dalam laju boat yang lebih cepat dari semula, lambaian bayu lebih terasa.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved