Selasa, 16 Juni 2026

Syirik Abad Modern

DALAM realita sehari-hari banyak orang beranggapan bahwa syirik hanyalah perilaku menyekutukan Allah secara terang-terangan

Tayang:
Editor: bakri
Oleh Mardin M.Nur

DALAM realita sehari-hari banyak orang beranggapan bahwa syirik hanyalah perilaku menyekutukan Allah secara terang-terangan yang dapat diamati secara indrawi. Seperti yang diutarakan Imam Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Utsman Az-Dzahabi dalam bukunya “Kitab al-Kabair wa Tabyin al-Maharim” bahwa syirik adalah menjadikan sesuatu tandingan bagi Allah, padahal Dia-lah yang menciptakan.

Apa yang diutarakan di atas benar dan sulit dibantah. Namun banyak kaum Muslimin tanpa sadar terjebak dalam kesyirikan. Ia tidak melakukannya secara terang-terangan. Tidak bisa diketahui secara indrawi. Namun diam-diam dan secara tersembunyi telah melakukan kesyirikan. Inilah yang populer disebut dengan syirik khafi, alias menyekutukan Allah secara tersembunyi. Syirik yang banyak dilakukan dalam kontek kekinian atau modern.

Banyak contoh syirik modern yang dapat ditunjukkan. Misalnya, menganggap yang menyembuhkan penyakit adalah dokter, tabib atau obat yang diminum. Tubuh tetap sehat dan bugar karena pola makan yang seimbang atau olah raga yang teratur. Jabatan yang diperoleh karena kepintaran, kedekatan atau kepiawaiannya memanfaatkan bantuan orang lain. Panen melimpah, karena keprofesionalannya mengolah tanah pertanian. Anak-anaknya pintar karena gizi yang diberikan memenuhi standar gizi yang ditentukan. Ia bisa sampai ke tujuannya tepat waktu, karena kepintarannya menyetir kenderaan.

Sekarang mari tanyakan pada diri masing-masing. Apakah anda sering melakukan itu? Menganggap segala sesuatu yang terjadi hanya terhenti sampai di semua sebab-sebab itu? Menganggap bahwa semua sebab itulah yang menyebabkan terjadinya berbagai aktivitas anda secara wajar sesuai yang diinginkan. Lantas tidak ingat bahwa di jagad semesta ini sesungguhnya ada causa prima atau penyebab utama sebagai sebuah kekuatan yang Maha Dahsyat yang mampu mengatur dan melaksanakan segalanya.

Inilah yang saya sebut syirik modern. Syirik yang tanpa terasa dan disadari banyak dilakukan kaum muslimin. Tidak hanya terbatas di kalangan awam bahkan juga di kalangan intelek. Tidak hanya di kalangan yang berpendidikan rendah bahkan juga yang mengecap perguruan tinggi.

Diakui, dewasa ini sulit kita temukan kaum muslimin yang melakukan pekerjaan “syirik jali” atau menyekutukan Allah secara terang-terangan. Artinya selain mengakui akan eksistensi Allah, ia juga menyembah batu, pohon, bulan, nabi, malaikat, syeikh, jin, syaitan, bintang atau yang lainnya. Mengakui bahwa penyebab segala sesuatu yang dirasakannya bukan hanya semata Allah akan tetapi ada kekuatan supranatural lainnya.

Misi mengembalikan manusia dari “syirik jali” telah dilakukan Nabi Ibrahin as yang diawali dari keluarganya sendiri. Ia mencoba menyadarkan ayahnya sebagai seorang pemahat patung kayu, bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah pekerjaan sesat. Namun sang ayah tetap ngotot dan malah mengusir buah hatinya itu dari rumah.

Kejadian itu tidak membuat Ibrahim as menyerah apalagi patah semangat. Ia malah melanjutkan misinya yang lebih luas, menyadarkan masyarakatnya yang terlena dan dinina bobokkan oleh kesyirikan. Ia lalu memasuki tempat sesembahan mereka tanpa diketahui dan menghancurkan semua patung yang ada di sana dengan menyisakan satu patung yang paling besar dari segalanya.

“Mereka berkata, “Engkaulah yang melakukan ini terhadap sesembahan kami, hai Ibrahim?”. Ia berkata: “Tidak, malah itu dilakukan oleh yang terbesar dari mereka! Tanyakanlah kepada mereka kalau mereka dapat berbicara!” (QS. 21: 62-63).

Misi terbesar itu dilanjutkan Rasulullah Saw ketika pembebasan Kota Mekah. Ketika memasuki Ka’bah, dilihatnya dinding-dinding dipenuhi lukisan-lukisan malaikat dan para Nabi. Bahkan Ibrahim as dilukis sedang memegang azlam (anak panah tanpa kepala dan bulu). Sebuah patung burung dara dari kayu dan berhala Hubal. Di sekeliling Ka’bah tersusun berbagai patung berbagai ukuran.

Dengan tangannya sendiri, Nabi Muhammad Saw menghancurkan semua sesembahan Kaum Quraisy itu. Sesembahan itu dicampakkannya ke tanah. Ketika memandang gambar Ibrahim, ia berkata: “Mudah-mudahan Allah membinasakan mereka. Orang tua kita digambarkan mengundi dengan azlam! Apa hubungannya Ibrahim dengan azlam? Ibrahim bukan Yahudi dan bukan pula Nasrani. Tetapi ia seorang hanif yang menyerahkan diri kepada Allah dan bukan termasuk orang yang mempersekutukan Allah.” (Haekal, 2006 : 473). Itulah gambaran bentuk kesyirikan masa lalu. Kesyirikan yang dilakukan secara “jali”.

Bagaimana dengan sekarang? Di era modern, kaum Muslimin justru sebagian terjebak dengan “syirik khafi”. Syirik yang tidak dapat dilihat dengan mata, didengar oleh telinga, dicium oleh hidung, diraba dengan kulit dan dirasa dengan lidah. Syirik yang secara tidak langsung menafikan eksesistensi Allah sebagai Khaliq. Namun di sisi lain mengangkat makhluk pada posisi Khaliq. Hakikatnya tetap sama yakni mensekutukan Allah. Menjadikan adanya tandingan-tandingan Allah. Padahal Ia adalah Esa, tidak ada yang bisa menandingi-Nya.

Nabi Saw juga dengan tegas menyatakan bahwa syirik kepada Allah adalah dosa besar bahkan yang paling kolosal. “Maukah aku tunjukkan kepada kalian dosa besar yang paling besar? Yaitu, Syirik kepada Allah, “ (HR. Bukhari). Kepada para sahabat yang sedang mengerumuninya, ia berkata: Berbaiatlah kamu kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu,”(HR. Bukhari).

Karenanya, agar terhindar dari syirik khafi janganlah mengabaikan peran yang Maha Tunggal, Allah Taala. Melupakan penyebab utamanya. Ingat, apa pun yang terjadi semuanya atas izin Allah. Menyembuhkan penyakit, tubuh tetap sehat dan bugar, jabatan yang diperoleh, panen melimpah, hasil tangkapan ikan melebihi kapasitas, rezeki yang banyak diperoleh hari ini, sampai ke tujuannya tepat waktu, semuanya terjadi karena izin Allah. Ikhtiar maksimal untuk mencapai itu memang wajib, tidak boleh diabaikan. “Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah, (QS.59: 5).

Di bulan Ramadhan ini, mari bersihkan diri dari perbuatan-perbuatan yang membahayakan akidah kita. Yang bisa mengantarkan kita kepada kesyirikan, baik “jali” maupun “khafi”. Sehingga selesai Ramadhan mulia ini kita benar-benar fitrah.

* Penulis adalah mahasiswa Program Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 02:00 WIB
Belgium
Belgia
1 - 1
Egypt
Mesir
Grup H - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 05:00 WIB
Saudi Arabia
Arab Saudi
1 - 1
Uruguay
Uruguay
Grup G - Matchday 1
Selasa, 16 Juni 2026 | 08:00 WIB
Iran
Iran
Live
New Zealand
Selandia Baru
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved