Mengenang Tsunami
Akhirnya Saya Bisa ke Australia
Tidak pernah sedikit pun terlintas dalam benak dan pikiran saya sebelumnya bahwa hari tersebut ternyata menjadi momen terakhir kebersamaan kami
Tidak pernah sedikit pun terlintas dalam benak dan pikiran saya sebelumnya bahwa hari tersebut ternyata menjadi momen terakhir kebersamaan kami. Saat itu saya masih kuliah di IAIN Ar-Raniry semester 7 dan tinggal bersama keluarga kakak saya.
Alangkah luar biasanya musibah itu yang kiranya sulit dilukiskan dengan kata-kata. Bukan hanya kehilangan keluarga dan skripsi yang hampir rampung saya selesaikan pada saat itu, namun juga benar-benar seperti lenyapnya seketika segala semangat hidup yang sudah terbangun selama lebih dari dua dekade.
Hari terus berganti dan waktu pun terus berlalu, mengiringi kebimbangan hati yang tak berujung kala itu. Betapa sulit menjalaninya di saat-saat awal. Namun, suatu ketika saya berpikir, “Haruskah aku menjalani hidup dengan kegalauan yang luar biasa ini, sampai kapan aku akan bisa begini?”
Setelah merenung saya paham bahwa saya harus melakukan sesuatu dan berusaha berkontribusi untuk Aceh Pascatsunami. Ternyata terus menerus larut dalam kesedihan itu tidak menghasilkan lebih banyak manfaat dan saya harus banyak berbuat untuk daerah saya tercinta tersebut sesuai dengan kapasitas saya yang sangat terbatas itu.
Setelah beberapa tahun berlalu, akhirnya Allah SWT mewujudkan impian saya untuk meraih kesempatan melanjutkan studi program Pascasarjana di University of Queensland, Australia melalui Beasiswa Ford Foundation tahun 2010.
Sungguh ternyata terdapat hikmah yang tidak disangka-sangka di balik setiap musibah yang kita alami. Aceh 7 tahun yang lalu yang porak-poranda dilanda tsunami telah menjadi Aceh baru yang telah dan sedang berbenah menuju Aceh yang lebih bermartabat.
Mari kita isi dan bangun Aceh sesuai dengan kapasitas yang kita miliki, apa pun profesi yang kita jalani. Isilah hari-hari Aceh kini dengan hal-hal positif sembari merenung serta mengenang musibah yang tercatat dengan tinta emas tersebut pada 7 tahun silam.
Kita tidak boleh berpangku tangan, berkontribusilah sekecil apa pun itu. Sebagaimana hikmah tsunami beberapa tahun silam yang sudah terbuka tabir hikmahnya sekarang ini, sungguh akan ada hikmah juga di balik hal-hal positif yang kita alami dan lakukan saat ini. Hanya Allah SWT yang akan menyingkap hikmah NYA kepada kita suatu saat nanti. Allahu A’lam.
Zulyadaini Hasan
Mahasiswa Pascasarjana University of Queensland, Australia
Guru SMKN 1 Bandar Baru, Pidie Jaya.
--------------------------------------------
Kenangan dalam bentuk tulisan dapat dikirimkan ke email:
kenangtsunami2612@serambinews.com beserta foto diri, keluarga, dan
kerabat yang meninggal akibat tsunami. Tak terkecuali korban selamat
(survivor) yang kini telah mampu bangkit menata kehidupannya kembali.