Mengenang Tsunami

Catatan Dari Rumah Surga

“Wah, Kak iki luar biasa produktifnya ya. Baru sepuluh hari nikah langsung dapat 30 anak”,

zoom-inlihat foto Catatan Dari Rumah Surga
Anak-anak surga sahabat rekreasi ke Jantho - Mei 2005

WAKTU terus berlalu, berapa pun waktu berlalu tak mampu menghilangkan kenanganku tentang 26 desember 2004. Tak mampu tertulis duka lara yang terasa tapi tak sedikit pula hikmah dibaliknya. Tsunami merubah alur dan settingan hidupku, mengantarkanku kepada mereka; bocah-bocah kecil yang terpisah dari orang tua dan sanak saudara mereka.

Di sebuah rumah bernama syurga sahabat, kami berkumpul tanpa ayah tanpa ibu. Dengan keragaman daerah dan bawaan trauma yang beragam pula, mereka, bocah-bocah kecil itu lugu dan tak gampang menerima kedatangan orang lain.

Secara pribadi, aku pun sempat khawatir ketika harus menerima amanah menjadi kepala pengasuh di surga sahabat (pondok yatim) itu. Karena, aku juga seorang korban tsunami yang  butuh bantuan dan penguatan. Namun, ketika aku melihat wajah-wajah mereka yang lucu, jujur  dan bersih, kekuatan dan keberanianku untuk menjadi kepala pengasuh pun seketika hadir. Bismillah, ku jalani amanah ini dengan kesungguhan.

Ku awali kebersamaanku -didampingi suami dan tiga pengasuh lainnya- dengan perkenalan dan bercengkrama dengan mereka. Padahal, aku baru saja sepuluh hari melepaskan masa gadisku dengan menikahi relawan yang sejak 4 Maret 2005 resmi menjadi suamiku.

Karenanya, sering aku dan suami dicandai oleh relawan lainnya dengan ungkapan seperti, “Wah, Kak iki luar biasa produktifnya ya. Baru sepuluh hari nikah langsung dapat 30 anak”, atau yang lainnya sembari senyam-senyum menggoda.

Satu hal yang awal yang kami tanamkan pada mereka, kami adalah kakak bagi mereka. Bukan ibu, karena sungguh tidak akan pernah mampu menjadi ibu bagi mereka. Ketika mereka telah menerima kehadiran kita maka mudah bagi kita untuk bersama mereka.

Saat itu, tiga bulan pascatsunami, yang mereka butuhkan adalah teman dan sahabat. Teman untuk bercerita, bermain, dan sahabat untuk mengadu dan bermanja, karena tsunami telah memisahkan mereka – juga kami para pengasuh- dari orang-orang yang menyayangi kami. Maka aku dan bersama pengasuh lainnya berusaha untuk menjadi teman dan sahabat terbaik bersama.

Sungguh, tak mudah mengubah perilaku akibat trauma mereka. Banyak tahapan yang harus kami kerjakan, namun tahap utama yang harus kami lakukan adalah ‘mencuri’ hati mereka. Biarkan lah hati mereka senang dan nyaman terlebih dahulu, baru kemudian arahan demi arahan kita sampaikan. Sebab, hati itu hanya bisa direngkuh oleh hati pula.

Sedangkan materi hanya sebagai sarana untuk mendekap hati.
Beragam tingkah laku mereka; dari yang takut melihat orang lain sampai yang mudah menangis. Beragam pula peristiwa terjadi dipondok itu, dari bangun tidur sampai tidur kembali. Rumah itu tak pernah sepi, mulai mandi pagi sampai tidur malam. Di pondok itu kami tinggal dan mengatur hidup kami, saling mengingatkan dan saling menyayangi. Tanpa hati dan cinta, kami tak akan berkumpul disini bersama.

Kami sadar tak akan mampu mengawasi 30 anak perempuan dengan beragam tingkatan umur selama 24 jam, karena mereka juga punya aktivitas diluar rumah. Maka kami menanamkan nilai lain kepada mereka bahwa sesungguhnya yang bertanggung jawab atas diri mereka adalah mereka sendiri.

Di mana pun mereka berada, apa pun yang mereka lakukan, jika baik akan berakibat baik pula kepada mereka, demikian pula sebaliknya. Jangan sampai mereka berbuat baik hanya di depan kakak pengasuh saja. Kebaikan dan atau kejahatan yang mereka lakukan itu ibarat wewangian, walaupun rapat mereka menyimpannya, suatu saat pasti akan ketahuan.

Satu rumah berisikan 30 manusia sudah jelas tingkahpun tidak kurang 30 macam. Keributan dan masalah juga pasti ada, namun bukan masalah yang harus kita tiadakan, tapi bagaimana kita mengajarkan mereka cara menyelesaikan masalah, terbuka dan jujur  kunci utama penyelesaian masalah.

Semua anak-anak mendapat perlakuan yang sama, jangan ada yag dibeda-bedakan, ada waktu berkumpul untuk bercerita, baik kumpul perkamar atau kumpul bersama, ada waktu makan bersama, belajar bersama,bermain bersama,dan menangis bersama.

Ya, kami pernah berdoa dan menangis bersama. Siapa pun pasti akan menitikkan air mata jika mengenang peristiwa itu. Tapi hidup harus melaju ke hadapan, masih ada masa depan yang harus dibina.

Di pondok itu banyak kegiatan yang dilakukan demi menambah kemampuan dan keterampilan anak. Dari pendidikan agama, pendidikan formal, dan pendidikan non formal seperti computer, kemampuan berbahasa, keterampilan tangan dan cara bersosialisasi di masyarakat. Itu semua dilakukan karena kami yakin kami tak akan mungkin selalu bersama mereka. Ada waktu dimana mereka harus mandiri dan hidup di tengah-tengah masyarakat.

Memang, hanya satu tahun waktu aku dan suami bersama mereka di surga sahabat itu. Namun demikian, diluar pondok kami akan terus bersaudara hingga akhir masa. Hingga saat ini, hamper setiap bulan, ada saja di antara mereka yang maen ke gubuk kecil kami. Dan, tak jarang mereka sampai nginap untuk melepas rindu.

Kini, tujuh tahun kemudian, diantara mereka sudah ada yang menjadi ibu rumah tangga, mahasiswi di dalam maupun di luar negeri. Ada yang menjadi pedagang, ada pula yang mengajar, bekerja dan berpenghasilan.

Adik-adikku, apa pun peran kalian sekarang jalanilah peran itu sebaik mungkin. Karena setiap kebaikan yang kalian lakukan akan menghasilkan kebaikan-kebaikan selanjutnya. Man yaza’ yahshud, siapa yang menanam pasti akan menuai dan memanen hasilnya.

Salam cinta dan rindu dari kakak dan abang kalian; Risky Sopya, dan Ahmad Arif. ***


Risky Sopya
Mantan kepala pengasuh rumah Surga Sahabat, Neusu, Banda Aceh.
-----------------
Kenangan dalam bentuk tulisan dapat dikirimkan ke email: kenangtsunami2612@serambinews.com beserta foto diri, keluarga, dan kerabat yang meninggal akibat tsunami. Tak terkecuali korban selamat (survivor) yang kini telah mampu bangkit menata kehidupannya kembali.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved