Selamat Tinggal Parabola Besar

Antena parabola, harus diakui, sangat ‘berjasa’ bagi masyarakat yang tinggal di wilayah kosong alias blank spot.

zoom-inlihat foto Selamat Tinggal Parabola Besar
nationalgeographic

Oleh Arief Nazaruddin


Antena parabola, harus diakui, sangat ‘berjasa’ bagi masyarakat yang tinggal di wilayah kosong alias blank spot. Sebab, berkat piring raksasa inilah--melalui sistem satelit--mereka bisa menikmati siaran televisi di rumah masing-masing.


HADIRNYA siaran televisi berbayar (pay tv) menuai kritik dari banyak pihak. Para pemain lama mengatakan, pay tv di negeri ini sudah kebanyakan.

Adalah Asosiasi Pengusaha Multimedia Indonesia (APMI) yang meminta agar pemerintah membatasi jumlah perusahaan yang menyelenggarakan siaran televisi berbayar. Alasannya, jumlah pemain di sektor ini sudah kebanyakan. Menurut perhintungan Arya Mahendra Sinulingga, Sekjen APMI, Indonesia saat ini hanya membutuhkan lima tv berbayar.

Jumlah itu, kata dia, sudah maksimal. Sebagai contoh, di Malaysia saja hanya ada satu perusahaan yang menyelenggarakan pay tv dan di Filipina hanya ada dua perusahaan. Sedangkan di Indonesia, kini sudah berdiri ratusan perusahaan serupa. Data Kemenkominfo, tengah tahun lalu, mencatat di negeri ini ada sekitar 695 operator pay tv, yang sebagian besar merupakan perusahaan ‘illegal’.

Cukup banyak, memang. Tapi pertanyaannya, pantaskah usulan yang diajukan APMI tersebut? Soalnya, di negeri kepulauan terbesar di dunia (dengan 13.487 pulau) dengan luas lebih dari 1,9 juta km persegi ini sangat banyak daerah blank spot. Di wilayah Indonesia bagian Timur saja, tercatat ada sekitar 32.000 desa Sementara di wilayah barat dan tengah masih ada ribuan desa yang bernasib sama.

Itu sebabnya, penjualan antena parabola di tanah air laris manis. Saat ini ada sekitar empat juta rumah-tangga yang memanfaatkan parabola untuk menangkap siaran televisi. Dan angka itu diyakini akan terus bertumbuh karena belum memenuhi kebutuhan yang ada.

C-Band vs Ku-Band
Antena parabola, harus diakui, sangat ‘berjasa’ bagi masyarakat yang tinggal di wilayah kosong alias blank spot. Sebab, berkat piring raksasa inilah--melalui sistem satelit--mereka bisa menikmati siaran televisi di rumah masing-masing.

Pita-pita  yang umum digunakan oleh sistem satelit adalah pita frekwensi C (C-band) dan Ku (Ku-band). C-band mengoperasikan antena berukuran besar (minimal berdiameter 1,8 meter) memiliki rentang frekwensi 3.7 – 4.2 GHz untuk komunikasi dari satelit ke penerima di bumi (downlink), dan 5.9 – 6.4 GHz untuk komunikasi dari penerima di bumi ke satelit (uplink).

Sedangkan Ku-band emiliki rentang frekwensi sebagai berikut:
- 11,7-12,2 GHz untuk komunikasi dari satelit ke penerima di bumi (downlink), dan 14,0-14,5 GHz untuk komunikasi dari penerima di bumi ke satelit (uplink).

C-band lebih dahulu digunakan untuk sistem komunikasi satelit. Namun, ketika pita frekwensi inikelebihan beban (karena frekuensi yang sama digunakan oleh sistem gelombang mikro teresterial), mulailah dibuat satelit untuk pita frekuensi yang tersedia berikutnya, yaitu Ku-band.

C-band memiliki satu masalah yang signifikan, yakni rentang frekuensinya digunakan juga untuk sistem komunikasi teresterial radio gelombang mikro.

Ada sejumlah besar sistem gelombang mikro terestrial yang berkaitan dengan komunikasi komersial. Akibatnya, lokasi penerima perlu dibatasi dalam rangka untuk mencegah interferensi dengan sistem komunikasi gelombang mikro, seperti yang banyak digunakan oleh telepon seluler. Itu sebabnya penggunaan C-Band di masa depan mungkin akan menurun. Saat ini C-band masih digunakan secara luas, karena kapasitas KU-band masih terbatas.

Akan halnya Ku-band, biasanya, digunakan untuk siaran dan koneksi internet dua arah. Rentang frekuensi Ku-band dialokasikan secara eksklusif untuk digunakan oleh sistem komunikasi satelit, sehingga menghilangkan masalah interferensi dengan sistem teresterial gelombang mikro. Karena tingkat dayanya yang lebih tinggi, maka dimungkinkan untuk menggunakan antena dan unit RF penerima yang jauh lebih kecil.

Ada Plus Ada Minus
Pada awal komunikasi satelit, C-band adalah satu-satunya pilihan. Dan telah menjadi keyakinan yang berlangsung lama bahwa Ku-band tidak bisa digunakan di di wilayah yang memiliki curah hujan tinggi. Namun, dengan kemajuan teknologi dalam industri satelit (misalkan penemuan ACM untuk sistem pengendali kekuatan sinyal), dan satelit-satelit baru yang berdaya lebih besar, dampak dari hujan lebat telah dapat dikurangi. Dengan disain yang benar dan peralatan yang tepat, maka Ku-band dapat sama stabilnya dibandingkan dengan C-band terhadap pengaruh hujan.

Solusi untuk memilih antara C-band dan Ku-band sekarang ini lebih berdasarkan faktor komersial, bukan faktor teknis lagi. Walaupun biaya perangkat keras untuk C Band lebih mahal, tetapi karena biaya frekwensinya lebih murah, pelanggan dengan kebutuhan bandwidth yang besar umumnya lebih memilih teknologi ini.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved