Mengenang Tsunami
Petik Rindu Lewat Segenggam Telepon
Dan sekarang, sejauh apa pun waktu meretas langkah, akulah adik kecil yang akan terus mengingat Bang Ivan meski lewat goresan tintanya.
"Aku takkan melupakan sejarah, sehitam apa pun lembarnya. Jika aku
kembali dan kau masih sendiri, mungkin kau memang untukku. Jika tidak,
aku mengerti.."
TAK ada seorang manusia pun di bumi Serambi Mekkah yang serta merta mampu menepis semua kenangan yang pernah terlewat tepat di tanggal 26 Desember 2004, Minggu pagi tujuh tahun lalu. Masing - masing anak manusia memiliki rangkaian doa, syukur, atau rasa kehilangan paling besar yang mampu mereka wujudkan pada Rabb-nya, dengan cara mereka. Begitupun saya.
Saya hanyalah sekelumit dari mereka yang memiliki satu pelajaran "Cinta Tuhan lewat musibah" yang terdampar pada kenangan.
2004 silam, usia saya masih 15 tahun dan tepat duduk di bangku tingkat pertama SMU. Terlahir dengan tidak memiliki kakak lelaki, membuat saya amat dekat dengan sahabat kakak perempuan saya, tak terkecuali sahabat pria. Kadang, hal ini membuat anak seusia saya agak sedikit 'terbakar cemburu', saya memiliki jauh lebih banyak kakak lelaki daripada kakak lelaki yang mereka miliki dalam keluarga.
Nama beliau adalah Irvan Zulkarnain. Sahabat kakak sulung saya sejak di bangku SMP. Usia kami terpaut sekitar 8 tahun. Kenangan ini bukan tentang jatuh hati, hanya saja sosok Bang Ivan (begitu cara saya memanggilnya) adalah seorang 'abang' yang benar - benar terasa nyata saya miliki. Perawakannya tenang, sedikit bicara, banyak bertindak. Bang Irvan adalah salah satu penulis puisi favorit saya. Dan pelajaran listening pertama yang saya dapatkan darinya adalah tembang Right Here Waiting milik Richard Marx.
25 Desember 2004, saya dan kakak sulung menghadiri resepsi pernikahan kakak kandung Bang Irvan di kediaman mereka, desa Lampaseh Kota - Banda Aceh. Resepsi ini bisa dikatakan amat penting, sebab yang menikah adalah kakak perempuan satu-satunya dalam keluarga. Semua anggota keluarga yang tengah melanjutkan studi di luar, berkumpul di Aceh.
26 Desember 2004, saat semua orang berlarian meneriakkan "Lari! Air laut naik!" yang segera muncul di benak saya adalah semua teman - teman saya yang berdomisili di daerah Ulhee Lhee, Punge, dan sekitarnya. Saat ada yang menyampaikan "SMP 1 musnah", lutut saya yang masih lemah sejak berdiri dan ketakutan luar biasa gempa pagi tadi, semakin terasa ngilu.
Hamparan pemandangan mengerikan tentang teman-teman terbayang sudah, tak terkecuali Bang Ivan dan keluarganya yang memiliki rumah persis di depan sungai yang membelah Lampaseh Kota-Lampaseh Aceh. Hanya Tuhan yang tahu, kemana B Ivan saat itu. Beberapa malam kemudian, saya terus bermimpi B Ivan dan sahabt dekat lainnya. Mereka datang dalam keadaan penuh lumpur, tak terkecuali B Ivan. Hanya saja setiap saya ingin mendekat, mereka semakin jauh dan jauh. Tak berbicara kemudian menghilang dari pandangan saya.
11 Januari 2005, saya dan keluarga sudah tiba di Bekasi, Jawa Barat sejak tanggal 30 Desember 2004. Niat kami hanyalah satu, melanjutkan pendidikan sebab kami tak mengetahui seberapa lama Aceh akan pulih. Sejak hari pertama tiba, saya masih berusaha menghubungi satu persatu nomor ponsel yang tertera, berharap salah satu panggilan saya akan terjawab.
15 Januari 2005, panggilan saya ke nomor ponsel B Irvan masuk! dan kali ini dijawab. Pria di seberang sana meng-iya-kan panggilan saat saya tanya "Bang Ivan? Abang di mana? Abang?!" serta merta suara seorang pria menyahut "Adek, iya ini.." dan tek! panggilan putus sebab saya kehabisan pulsa. Saya panik, berlari ke wartel terdekat dengan rumah kembali memencet nomor yang sama. Dan kali ini, jawaban dari panggilan saya seakan merupakan langit runtuh pada hari itu.
Sosok lelaki yang di seberang sana bukanlah Bang Ivan yang saya kenal. Namun Kang Dedi, salah seorang relawan yang berhasil menemukan jenazah B Ivan di halaman SMU 1 Banda Aceh. Menurut Kang Dedi, saat ditemukan B Ivan masih mengenakan kaos putih lengkap yang telah berlumpur, dan celana berwarna kamuflase selutut. Di dalam saku celana Bang Ivan, terdapat dompet yang berisikan identitas serta ponsel yang masih berfungsi ketika diaktifkan. Kang Dedi menyimpan ponsel dan identitas Bang Ivan, menunggu jika ada sanak saudara yang akan menghubungi suatu hari nanti. Kang Dedi juga memohon maaf tidak mampu menghubungi. Dan ternyata, Tuhan memilih saya. Adik yang bukan adik kandungnya tentu saja, sebab beliau anak paling kecil di keluarga.
Saya tak mampu berbohong. Terpukul tentu saja. Sakit, pasti. Namun saya menguatkan diri untuk menyeka airmata. Oleh kakak sulung saya, berita ini di teruskan kepada kakak lelaki satu-satunya Bang Ivan yang masih tersisa. Saat resepsi pernikahan, kakak lelaki ini tidak bisa hadir sebab masih harus menyelesaikan studi di luar negeri dan tidak di izinkan pulang.
Setelah 15 Januari 2005, saya tak ingat persisnya kapan. Bang Ivan kembali datang dalam mimpi saya. Dan kali ini dalam keadaan yang berbeda. baju yang ia kenakan, masih sama dalam mimpi saya terdahulu, hanya kali ini benar-benar bersih. Tanpa noda kecoklatan dan lumpur. Ia masih sama. Tak berbicara. Hanya tersenyum luar biasa. Lalu melambaikan tangan dan sedikit demi sedikit menghilang meski saya sudah berteriak hendak ke mana lagi ia.
Akan ada mereka yang datang dan pergi dalam kehidupan manusia, sebagian akan pergi begitu saja namun sebagian tetap tinggal sebagai kenangan. Yah, saya mulai menyadari ungkapan lama itu benar adanya.
Seperti sebaris sajak yang pernah dituliskan Bang Ivan:
"Aku takkan melupakan sejarah, sehitam apa pun lembarnya. Jika aku kembali dan kau masih sendiri, mungkin kau memang untukku. Jika tidak, aku mengerti.."
Dan sekarang, sejauh apa pun waktu meretas langkah, akulah adik kecil yang akan terus mengingat Bang Ivan meski lewat goresan tintanya.
Hadiah untuk Irvan Zulkarnain (1981-2004) ***
Oleh Diyana Dewie Astutie
Mahasiswi FKIP Bahasa Inggris Universitas Syiah Kuala.
---------------------------------