Sabtu, 2 Mei 2026

Opini

Pembangunan Hotel, Memangnya Kenapa?

SEBENARNYA penulis tidak ingin mencampuri urusan rencana pembangunan Hotel Best Western di dekat Masjid Raya Baiturrahman

Tayang:
Editor: bakri
Oleh Muslim Amiren

SEBENARNYA penulis tidak ingin mencampuri urusan rencana pembangunan Hotel Best Western di dekat Masjid Raya Baiturrahman. Apalagi, menurut Walikota Banda Aceh, pihak investor belum pun mengajukan izinnya (Serambinews, 14 Januari 2012: 15.11 WIB). Namun penulis melihat ada “sesuatu” yang nggak nyambung, antara masalah yang sebenarnya dengan “bola panas” isu yang sedang berkembang.

Penulis melihat, isu ini bisa menjurus ke arah pembodohan masyarakat. Dan bila berkembang lebih besar, bisa menjadi sumber friksi antara masyarakat dan pemerintah kota. Apa pun motifnya, penulis berharap isu ini tidak berkembang destruktif mengingat masa pemilukada sedang menuju puncaknya.

Pihak yang tidak setuju dengan rencana pembangunan Hotel Best Western itu mengatakan bahwa mereka menentang pembangunan Best Western karena menyimpang dengan studi Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Konon, AMDAL dilakukan di Jalan Iskandar Muda, dekat Simpang Jam, sedangkan pembangunannya dilakukan di bekas Geunta Plaza (Serambi, 14 Januari 2012).

Argumentasi lainnya menyebutkan bahwa rakyat Aceh bukan menolak pendirian mall dan hotel. Tapi, posisi keberadaannya tidak di sekitar Masjid Raya Baiturrahman, melainkan satu kilometer dari Masjid Raya. Kenyataannya, masyarakat yang protes mayoritas bukan karena AMDAL, tetapi karena “image negatif” yang melekat pada hotel.

Hal ini jangan dibiarkan berlarut-larut, harus secepatnya di-clear-kan. Jawaban Walikota bahwa pihak investor belum pun mengajukan izin tidak cukup. Itu terkesan menggampangkan dan seperti nggak mau tahu. Seharusnya Walikota mengontak pihak terkait di Provinsi untuk menanyakan kebenaran isu tersebut. Bila perlu, bertemu dengan pihak Best Western dan menanyakan keseriusan mereka, tanpa perlu menuduh pihak tertentu punya agenda tertentu.

Sembari membereskan masalah ini dengan memberi informasi yang lebih terbuka, kini saatnya pemerintah kota dituntut lebih berani untuk memberi pencerahan kepada masyarakat tentang pentingnya keberadaan hotel bagi pariwisata. Tanpa perlu takut kehilangan suara pada pemilihan berikutnya. Sampaikan yang benar, walau pahit.

Melihat contoh
Terlepas dari persoalan pro dan kontra masalah pembangunan hotel Best Western, mari sejenak kita lihat contoh ke tempat atau masjid lain. Ambil saja masjid yang paling fenomenal, yaitu Masjid Nabawi atau disebut juga Masjid Nabi. Di mana bila seseorang shalat di Mesjid ini, maka lebih baik dari pada shalat 1.000 rakaat di masjid lain, termasuk di Masjid Raya Baiturrahman.

Timbul pertanyaan, apakah hotel di sana jauhnya 1 kilometer dari masjid? Tidak, di sebelah Masjid Nabawi terdapat Madinah Hilton Hotel yang hanya dibatasi pagar masjid, bukan beton. Para Jamaah Haji Plus biasanya menginap di hotel ini sehingga mereka bisa langsung menuju mesjid setiap kali azan bergema.

Di mesjid ini juga terdapat makam Rasulullah yang mulia dan juga Raudhah, yang merupakan salah satu taman surga dan tempat makbul-nya doa. Di belakang hotel Madinah Hilton terdapat sebuah hotel lain yaitu Radisson Hotel, yang tidak kalah terkenal.

Lalu, mari kita berkunjung ke tempat yang paling sakral di dunia, yaitu Masjidil Haram. Siapa yang shalat di sini, maka shalatnya lebih baik dari 100.000 shalat di masjid lain. Tapi siapa yang menyangka bahwa tidak jauh dari tempat ini, Kerajaan Arab Saudi baru saja membangun hotel yang sangat megah yaitu Makkah Clock Royal Tower. Tempat digantungnya jam terbesar di dunia, mengalahkan jam GMT di London.

Tidak jauh dari tempat ini juga terdapat hotel megah lainnya yaitu Movenpick Hotel Mekkah. Banyak lagi hotel-hotel lain yang bertebaran di sekitar Masjidil Haram. Khususnya di sekitar Jabal Umar yang menjadi tempat paling megah di sekitar Masjidil Haram, di mana tender pembangunannya dimenangkan oleh kontraktor negeri jiran, Malaysia.     

Pembangunan hotel adalah keniscayaan bagi sebuah kota pariwisata, mengingat tamu yang berkunjung kualitasnya semakin meningkat dari hari ke hari. Di sisi lain, pembangunan hotel juga diperlukan untuk meningkatkan keindahan kota. Demikian juga dengan pembangunan Hotel Best Western. Saya pikir, salahnya bukan di hotel, tetapi di pemahaman masyarakat.

Ini yang perlu sosialisasi dan pencerahan. Bukankah kita sudah punya qanun yang melarang tamu hotel bukan muhrim menginap dalam satu kamar? Tinggal aplikasi dan pengawasannya saja yang harus diperbaiki.

Pengembangan kota
Penulis berpikir, sudah saatnya pemerintah kota fokus pada pengembangan kota dan keindahannya, tanpa melupakan rakyat kecil di dalamnya. Salah satu yang bisa dicontoh ialah Jokowi, walikota Solo, yang untuk kedua kalinya terpilih 96%. Beliau membuat kota Solo menjadi benar-benar nyaman bagi masyarakatnya. Pembangunan mall baru ditempatkan di daerah-daerah pinggiran yang masih sepi. Sarana transportasi ke sana dibangun dengan baik.

Sentra-sentra ekonomi baru ditumbuhkan hingga pinggiran. Untuk memindahkan pedagang kaki lima ke lokasi baru, tidak perlu Satpol PP. Tetapi, pedagang sendiri yang memindahkan barang-barang dagangan mereka. Mengapa? Karena Beliau tidak hanya membangun kota, tetapi juga mengkomunikasikannya dengan baik. Contoh saja pertemuan dengan pedagang hampir seratus kali sebelum dipindahkan.

Demikian pula pembenahan yang perlu dicontoh ialah mengembangkan daerah pinggiran, membuka kenyamanan akses ke tengah kota serta mempertinggi kualitas hidup (kualitas air bersih, sanitasi MCK, telekomunikasi murah dan transportasi terjangkau).

Masjid Raya Baiturrahman adalah ikon kota Banda Aceh, bahkan Aceh. Sudah selayaknya dari sinilah pembenahan harus dimulai. Misal, adanya transportasi gratis keliling untuk pengunjung, melakukan City Tour atau Sight Seeing. Rutenya adalah Mesjid Raya, Rumoh Aceh, Museum Aceh, Makam Sultan Iskandar Muda, Pendopo, Taman Putroe Phang, Kerkhof, Museum Tsunami, Taman Sari, Pesawat Seulawah RI 001, Kapal Apung, dan kembali ke Masjid Raya.

Kemudian, tempat di belakang Masjid Raya dibenahi menjadi tempat yang nyaman bagi pejalan kaki. Bila perlu, jalan Perdagangan hanya dikhususkan bagi pejalan kaki seperti Rundle Street di Adelaide, Australia, atau Nanjing Road di Shanghai, Cina. Ini tidak sulit diwujudkan jika semuanya lebih dulu dikomunikasikan dengan baik, termasuk rencana pembangunan hotel di sekitar Masjid Raya Baiturrahman itu. Kenapa tidak?

* Penulis adalah Pegiat Wisata dan Pemerhati Pembangunan Kota.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved