Opini
Andai Aku Gubernur Aceh
MENARIK berdiskusi tentang Aceh dengan seorang diplomat Inggris yang bertugas di Indonesia, belum lama ini
Ibarat pesawat, kondisi Aceh sekarang dapat dilihat dalam dua sisi, pesawat (Aceh) dapat dikatakan bersiap untuk take off atau malah sudah take off. Jika dilihat dari sisi perubahan politik dan ketatanegaraan, pesawat sudah take off dalam hal ini tentu banyak pihak yang sudah ketinggalan. Malah ada yang tidak sempat naik, meminta pesawat turun kembali walaupun belum tentu sampai ke tujuan (penerbangan yang dipaksakan).
Sementara dari segi kesejahteraan rakyat, SDM, kemajuan ekonomi, penyedian lapangan kerja. Maka Pesawat ini sudah menunju runway (landasan pacu) tapi karena kerusakan teknis pilot tidak berani take off. Malah pesawat ini harus melakukan pembenahan struktur mesin pesawat (tidak layak terbang). Jika dipaksapun take off dikhawatirkan pesawat bernasib seperti Mandala Airlines atau Adam Air, yang hilang dalam penerbangan yang ujung-ujungnya menyengsarakan rakyat.
Bagi saya, Aceh adalah daerah yang bersejarah, tempat saya lahir, tumbuh dan dibesarkan --sebagaimana telah saya singgung di atas tadi-- tentunya ini hanyalah mimpi. Saya tentunya hanya bisa berharap agar mimpi ini mendapat perhatian dan menjadi satu kenyataan, yang akan diwujudkan oleh gubernur terpilih sebagai pemimpin Aceh ke depan.
* Penulis adalah Mahasiswa Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI)/Ketua Bidang Politik Hukum dan HAM Ikatan Mahasiswa Pascasarjana (IMPAS) Aceh-Jakarta.