Sabtu, 11 April 2026

Opini

Fatamorgana Politik

FATAMORGANA adalah sebuah fenomena yang biasanya terjadi di tanah lapang yang luas di kala terik matahari, seperti padang pasir

Editor: bakri

Oleh Helmy N Hakim

FATAMORGANA adalah sebuah fenomena yang biasanya terjadi di tanah lapang yang luas di kala terik matahari, seperti padang pasir atau jalan aspal yang licin. Fenomena ini dipengaruhi oleh ketinggian titik pengamatan mata kita. Makin tinggi pengamatan, fatamorgana semakin tidak jelas. Dan sebaliknya, fatamorgana akan jelas terlihat jika titik pengamatan kita rendah.

Tentang fatamorgana Prof Yohanes Surya menjelaskan, akibat panas aspal atau gurun pasir, udara di atasnya berlapis-lapis. Tiap lapisan suhunya berbeda, makin dekat dengan aspal atau gurun pasir makin panas. Sinar yang berasal dari langit atau awan akan mengalami pembiasan berantai oleh lapisan-lapisan itu, sampai akhirnya sinar ini berbalik ke atas (pemantulan total).

Ketika pantulan tersebut mengenai mata orang, maka orang tersebut akan melihatnya sebagai sesuatu yang kebiruan muncul dari aspal atau gurun pasir (seperti kolam air). Jadi, fatamorgana bukan karena mata kelelahan. Fenomena ini nyata dan dapat difoto. Yang jadi masalah adalah kesalahan interpretasi di otak kita.

Lebih lanjut ia menjelaskan kesalahan interpretasi di otak kita itu sering dimanfaatkan oleh para pesulap untuk mengelabui kita. Orang yang kelihatan dipotong sebenarnya tidak dipotong, tetapi ia menyembunyikan bagian tubuhnya di suatu tempat yang tersembunyi (kalau itu berupa peti, biasanya tubuh ditekuk agak ke bawah sehingga tubuhnya selamat ketika alat pemotong mencoba memotongnya).

 Fatamorgana Politik
Dalam politik praktis, fatamorgana pun sering terjadi. Apalagi biasanya dalam situasi pertarungan politik. Para aktor politik berupaya sedemikian rupa menciptakan fatamorgana politik untuk menarik perhatian masyarakat terhadap mereka. Melalui retorika yang begitu menjanjikan atau bentuk kampanye yang menakjubkan, sehingga rakyat percaya dan rela melakukan apa pun karena mengharapkan janji dari kelompok atau tokoh politik.

Presiden Soekarno dengan kharismanya, misalnya, pernah berhasil menghipnotis jutaan massa untuk berkumpul di lapangan Ikada (sekarang lapangan Banteng) di Jakarta. Pertemuan akbar yang berlangsung pada 19 September 1945 itu dimaksudkan dalam rangka peringatan satu bulan kemerdekaan RI yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945.

Ketika itu, rakyat dengan antusias sambil membawa Bendera Merah Putih hendak mendengarkan pidato dari presidennya. Sekelompok massa yang lain ingin sekadar memastikan bahwa bangsa kita sudah benar-benar merdeka. Ternyata Presiden Soekarno hanya berpidato beberapa menit saja, yang isinya mengajak rakyat untuk percaya kepada Pemerintah RI.

“Walaupun dada kami akan dirobek-robek, maka kami tetap akan mempertahankan Negara Republik Indonesia yang telah diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 itu. Maka berilah kepercayaan itu kepada kami dengan cara tunduk kepada perintah-perintah dan tunduk kepada disiplin,” demikian salah satu kutipan pidato Presiden Soekarno di lapangan Ikada saat itu.

Namun, apa yang yang terjadi? Aalaupun proklamasi sudah berlangsung 17 Agustus 1945, faktanya pemerintah Indonesia pertama pada masa itu belum benar-benar menjalankan hak dan kewajibannya. Terlebih di sekeliling massa yang berkumpul di Ikada terdapat tentara Jepang yang mengawal ketat dengan posisi siaga. Bahkan mengutip cerita orang-orang tua dulu, Soekarno mengenyangkan rakyat Indonesia dengan pidatonya yang berapi-api.

Fatamorgana politik adalah hal lumrah dilakukan, apalagi dalam kontestasi politik baik di tingkat nasional. Dalam situasi kekinian di tingkat Internasional, misalnya, kita saksikan bagaimana Iran menyajikan fatamorgana dalam bentuk unjuk kekuatan di selat Hormuz. Iran seakan ingin memberikan gambaran pada dunia bahwa mereka siap menghadapi perang melawan Amerika Serikat.

Sedangkan Amerika Serikat sendiri mengakui pula bahwa Iran masuk dalam jajaran negara kuat di Timur Tengah. Namun, faktanya situs www.globalfirepower.com hanya menempatkan kekuatan militer Iran di peringkat 12 dunia setelah Brazil dan Israel di peringkat 10.

 Interpretasi otak
Dalam hal fatamorgana, aktor politik di Aceh pun tidak diragukan keahliannya dalam menciptakan fatamorgana politik. Seperti layaknya pesulap yang memanfaatkan kesalahan interpretasi otak, para aktor politik di Aceh memiliki kemampuan melebihi Deddy Corbuzier sehingga dapat menyuguhkan fatamorgana yang membuat rakyat bertepuk tangan gembira atas sebuah trik sulap politik.

Di tengah situasi menjelang pilkada, ada yang mengatakan bahwa selama lima tahun terakhir, telah terjadi berbagai perubahan di Aceh terkait dengan taraf hidup masyarakatnya. Tapi, faktanya Aceh menduduki peringkat ketiga terbawah se-Sumatera di atas Provinsi Kepulauan Riau dan Sumatera Barat (Waspada, 7 Agustus 2011).

Tak sebanding puluhan triliun yang telah dikucurkan pusat di Aceh. Bahkan lebih jauh, dari 122 kasus dugaan korupsi selama tahun 2011, potensi kerugian negara yang ditimbulkan mencapai Rp 1,7 triliun, menurut catatan Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh. Bahkan ICW menominasikan Aceh masuk dalam 10 provinsi terkorup di Indonesia.

Tak jarang pengerahan massa besar-besaran dilakukan disertai simbol-simbol seperti yang Hitler lakukan pun digunakan untuk membangkitkan romantisme masa lalu dan melupakan fakta masa kini bahwa masih adanya ribuan korban konflik yang masih menderita, Tapol dan Napol Aceh yang masih belum dibebaskan, pelabuhan Sabang yang masih sunyi dan investasi yang masih sepi dan berbagai masalah yang membuat Aceh masih bermimpi untuk maju.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved