Felomena
BUMI menangis. Langit mendung. Halilintar menggodam Bumi. Kilatannya seakan mencabut setan yang menggoda manusia
***
Hari ketiga, empat botol cairan sinto telah masuk di dalam tubuh istriku. Pagi itu, azan subuh baru terdengar. Usai melaksanakan shalat, kujenguk kembali istri di ruang persalinan. Dia mengatakan, perutnya mules. Mulai ada tanda-tanda akan melahirkan.
Jam dinding terus berputar. Sudah dua jam, dokter belum juga datang. Para bidan sibuk mempersiapkan kelahiran. Sesekali mereka memeriksa kondisi istri. Kutelepon dokter dan jawabannya dia sedang sibuk.
“Saya sedang sibuk Pak. Nanti saya ke rumah sakit,” dia pun menutup telepon. Aku tertegun. Daerah ini kekurangan dokter kandungan. Dokter yang ada bisa seenaknya mengatakan dirinya sibuk. Dia tidak tahu, nyawa istriku di ujung rambut. Dia meringis kesakitan. Sumpah kedokteran hilang. Nyawa manusia tak ada arti apa pun. Butuh dokter lebih banyak di daerah ini.
Menjelang siang, dokter baru datang. Tiga menit dia di dalam ruangan bersalin, anakku berhasil dikeluarkan. Dia perempuan. Cantik, seperti ibunya. Namun sayang, dia sudah meninggal.
Istriku menangis sejadinya. Dia masih belum bisa menerima anak kami telah meninggal dunia. Telah pergi untuk selamanya. Menunggu kami di surga. Kubungkus anakku dengan kain panjang, kubawa pulang untuk dimakamkan. Air mata seakan sudah kering. Tak mampu keluar lagi. Aku kehilangan orang yang paling berharga. Membuatku bangga. Membuatku rajin berkarya. Kuberi dia nama Felomena. Felo, gadis cantikku yang telah pergi untuk selamanya.
* MASRIADI SAMBO, penikmat sastra, menetap di Lhokseumawe