Laila dan Air Mata
Laila, putri pertama Syarifah yang lahir karena air mata. Tidak ada yang aneh pada Laila. Secara fisik ia persis seperti anak-anak yang lain
Syarifah terkejut bukan kepalang, karena majikannya telah mengetahui bahwa Syarifah mengirimkan surat ke Indonesia. Ia menangis bersujud di kaki majikan. Pun ia sudah meminta maaf dan memohon ampunan. Namun, puntung rokok telah melekat pada kulitnya yang hitam. Puntung rokok yang masih berapi akan disundutkan ke tubuh Syarifah. Masalah belum rampung. Sebab, karena Syarifah keluar rumah tanpa izin majikan, maka daging Syarifah akan disayat hingga terluka.
“Ampun Tuanku.. Ampunkan hamba.” Terdengar suara Syarifah menangis melolong. Bukan ampunan yang ia terima. Malah ia menerima tambahan hukuman.
***
Laila tetap menunggu kepulangan Syarifah, emaknya. Tidak seorang pun wanita yang saat ini dirindukannya kecuali emaknya, Syarifah.
“Nek. Emak lama sekali.”
“Kita membeli es krim.”
“Aku tak mau es krim. Aku rindu emak, nek,” kata Laila sembari menarik-narik dan merengek-rengek di hadapan neneknya. Tiba-tiba suasana hening. Hujan rintik menghujam bumi.
“Kita berdoa saja agar emakmu cepat pulang, Laila.” Namun Laila diam. Ia merajuk.
“Laila tahu? Ada sebuah cerita, bahwa langit akan terbuka jika sedang hujan rintik. Para malaikat akan turun ke Bumi dan mendengar doa-doa manusia. Allah pun akan mengabulkan doa apabila kita berdoa jika sedang turun hujan rintik. Ayo kita berdoa agar emakmu cepat pulang ke gampong kita.”
Laila tersenyum, tatkala mereka berdoa agar emaknya pulang ke gampongnya. Hidup bersama dalam gembira.
***
Laila sedang duduk di teras rumahnya. Ia telah mendapat kabar bahwa emaknya akan pulang hari ini. Tiba-tiba sebuah ambulans meraung-raung merapat ke gubuk reotnya. Tiba-tiba suasana ramai. Beberapa kamera siap mengambil gambar, maka terlihat jelas jasad seorang wanita dikeluarkan dari pintu mobil ambulans. Saat kemudian terdengar tangisan air mata rindu pada Syarifah. Nenek Laila yang melolong.
Syarifah telah pulang dalam keharuan. Sebab, tubuhnya penuh luka sobekan, bernanah, dan bekas sundutan rokok. Kini bibir Syarifah tersenyum menghadap Mahakuasa. Seperti isi suratnya yang tak kunjung sampai ke Indonesia, “Allah Tuhanku. Muhammad nabiku. Alquran kitabku. Bila aku mati suatu hari nanti, Bu. Bila aku telah tiada. Jika hidupku berakhir di sini, . jagalah putriku, Laila.”
* Ramajani Sinaga, mahasiswa PBSI FKIP Unsyiah angkatan 2011. Cerpennya telah dibukukan dalam buku antologi “Siapakah Aku Ini?”