Opini
UN Siapa Takut?
MESKI sudah menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun, namun masalah Ujian Nasional (UN) ini masih saja membuat berbagai pihak terkait
MESKI sudah menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun, namun masalah Ujian Nasional (UN) ini masih saja membuat berbagai pihak terkait --siswa, orang tua, guru, kepala sekolah, dan para stakeholders pendidikan-- merasa ketakutan, khawatir, gelisah dan kalang kabut menghadapinya. Menyimak fenomena ini, tentu menimbulkan pertanyaan: Apa yang sebenarnya menjadi sumber ketakutan? Mengapa UN jadi menakutkan?
Adalah sah dan wajar-wajar saja, bahwa rasa takut akan menghinggapi hati siapa saja yang sedang dihadapkan pada suatu permasalahan. Sebagaimana perasaan/emosi lainnya; merasa sedih ketika seseorang menghadapi kegagalan, musibah atau bencana; merasa senang, puas atau bahagia manakala seseorang mendapatkan sesuatu yang diinginkan atau dicita-citakan; dan sebagainya.
Menurut penulis, ketakutan yang menghantui para pihak dalam menghadapi UN ini juga merupakan gejala emosi yang wajar. Siswa takut tidak bisa menjawab soal dengan baik, orang tua takut anaknya gagal dalam ujian, guru/kepala sekolah takut anak didiknya tidak lulus dan berakibat pada “prestise” sekolah, dinas pendidikan dan pemerintah takut kelulusan tidak mencapai target yang diharapkan. Akumulasi dari ketakutan tersebut mengerucut pada satu kondisi yaitu takut tidak terpenuhinya harapan yang sudah jauh-jauh hari dicanangkan.
Ekses negatif dari rasa ketakutan tersebut muncullah beragam perilaku yang mengemuka di tengah-tengah masyarakat, seperti: kebocoran soal, beredarnya isu “kunci jawaban”, praktik jual-beli lembar soal dan jawaban dan sebagainya. Yang lebih naif lagi, seperti diberitakan di berbagai media pada tahun 2011 yang lalu, adanya guru yang terlibat langsung membantu siswa/peserta ujian dalam menjawab/mengerjakan soal-soal UN.
Hal yang wajar
Dengan jujur, kita harus akui bahwa sebenarnya ujian adalah merupakan hal yang wajar dan harus ditempuh oleh setiap peserta didik dalam sebuah proses pendidikan. Terlepas dari pro dan kontra pelaksanaan UN, menurut hemat penulis, UN adalah suatu proses yang seyogyanya dilakukan untuk mengetahui kadar keberhasilan proses pendidikan yang telah dilakukan oleh institusi atau lembaga pendidikan pada tingkat SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA dan SMK.
Adanya pembelajaran remedial, tambahan belajar les sore dan pelaksanaan uji coba (try out), adalah contoh konkret yang dilakukan oleh banyak sekolah dalam upaya mempersiapkan pesera didiknya dengan baik untuk menyambut datangnya UN. Penulis berkeyakinan, bila proses-proses persiapan tersebut dilaksanakan dengan baik, niscaya rasa ketakutan menghadapi UN dapat berkurang.
Siapa yang masih takut menghadapi UN? Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis ilustrasikan pengalaman pribadi sekitar tiga tahun silam. Saat itu anak penulis mau ikut UN setingkat SMP (sekarang sedang mengikuti UN SMA), dia was-was, cemas dan ragu-ragu. Padahal pihak sekolah sudah melakukan upaya-upaya maksimal sebelumnya; remedial, les tambahan, dan try out. Yang menambah keragu-raguannya waktu itu adalah banyaknya berita dan sms dari para “oknum” yang membeberkan dan menawarkan kunci jawaban.
Selaku orangtuanya, saya katakan dan pesankan tiga hal; belajar, optimis dan berdoa. Ketiga kata kunci itu saya jelaskan panjang lebar dengan bahasa yang mudah ia pahami. Bila ketiga hal tersebut dihayati dan dilakukan dengan baik, konsisten dan sungguh-sungguh, insya Allah, kita tak perlu takut menghadapi UN. Dan, alhamdulillah, UN SMP yang ia hadapi dapat berjalan dengan lancar dengan hasil yang tidak mengecewakan. Demikian juga ketika ia UN setingkat SMA pada tahun ini.
Jangan Takut Menghadapi Ujian
Setelah kita lewati wacana tentang fenomena ketakutan di atas, mudah-mudahan tensi “ketakutan” yang mengalir dalam aliran darah kita masing-masing dalam menghadapi UN ini semakin menurun. Selanjutnya, untuk memompakan tensi “semangat”, berikut penulis kemukakan langkah-langkah atau kiat-kiat kita-khususnya para siswa peserta UN---dalam menghadapi UN.
Hal mendasar yang harus disadari adalah bahwa sesungguhnya UN adalah proses wajar yang harus dilalui agar kita dapat menunjukkan kemampuan diri setelah melalui serangkaian proses pendidikan. UN memberikan dasar evaluasi dan penilaian terhadap akhir dari perkembangan belajar pada satuan pendidikan (SD/MI, SMP/MTs, dan SMK/MA dan SMK). Jadi, hadapilah UN dengan wajar-wajar saja dan hilangkan rasa takut yang berlebihan.
Kiat lancar UN
Kiat-kiat berikut kiranya akan dapat dapat membantu kita-kita dalam menghadapi UN: Pertama, berdoalah kepada Tuhan dan mohon doa restu kepada orang tua. Yakinlah, bahwa setiap keberhasilan yang kita raih di dalamnya ada andil Sang Pencipta. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan, kita hendaknya memanjatkan doa agar diberi kesehatan, kemudahan dalam menghadapi ujian, dan kelulusan.
Selain itu, jadikan perjuangan menghadapi UN sebagai ajang untuk mempersembahkan yang terbaik kepada kedua orang tua tercinta. Oleh karena itu, kita perlu mohon doa kepada kedua orang tua kita agar diberi kemudahan dan kelancaran;
Kedua, belajar kelompok. Dengan Belajar kelompok, kita dapat berbagi dengan teman yang lain dalam memecahkan soal dan saling menguatkan motivasi belajar dan prestasi. Manfaatkanlah waktumu dengan belajar secara berkelompok; Ketiga, perbanyak tatihan soal.
Kita perlu membiasakan diri menghadapi beragam soal. Dengan sering kamu berlatih, kamu tidak akan cemas atau takut lagi dalam mengerjakan dan menghadapi soal UN;
Keempat, bersikap jujur, sportif, dan optimis. UN merupakan ajang yang sangat prestisius. Tidak mengherankan jika ada yang melakukan tindakan tidak terpuji dalam pelaksanaan UN. Misalnya, membeli bocoran soal atau melakukan kecurangan saat UN. Hindari tindakan-tindakan seperti itu. Yakin (optimislah) pada kemampuan diri kita, bersikaplah jujur dan sportif, niscaya Allah akan memberi kemudahan, dan;
Kelima, hindari belajar sistem ‘kebut semalam’. Perlu diingat, belajarlah jauh-jauh hari sebelum hari ujian tiba. Usahakan jangan menggunakan sistem belajar kebut semalam. Justru pada hari-hari mendekati ujian, badan dan pikiran harus rileks. Jangan lupa, makanlah makanan yang bergizi.
Selamat mengikuti UN dan tak perlu takut. Ukirlah prestasi dan keberhasilanmu sebagai wujud dari usaha dan doamu, harapan dan kebanggaan orang tuamu, simbol dan prestise dari sekolah tempat belajarmu. Semoga!
* Achmad Ghozin, Praktisi Pendidikan/Kepala SD Negeri 24 Banda Aceh.