Kota Pengap
KOTA ini menjadi bertambah pengap setiap kali anak anak muda yang berstatus mahasiswa berkumpul di jalan dan segera disergap polisi
Kini belasan korban telah berjejer di bawah pohon akasia. Sebagian mereka merintih kesakitan. Sebagian lagi diam terbujur dan beberapa di antaranya sudah mampu duduk kembali dengan mulut yang merintih kesakitan. Para ilalang itu dengan kendaraan apa saja kini bahu membahu membawa mereka ke rumah sakit.
Sementara matahari mulai condong ke barat, asap masih mengepul dari pompa bensin yang terbakar. Pecahan kaca, batu, kayu dan lain sebagainya masih berserakan di sana sini. Tetesan darah masih belum kering dihisap debu-debu jalan. Berpuluh petugas polisi masih berjaga di sepanjang jalan itu. Suasana kini menjadi lengang. Belum ada kendaraan yang melewati jalan itu. Ilalang pun kini menyandarkan tubuh mereka di warung warung mereka yang berantakan. Entah besok masih ada hari untuk mereka di kota pengap ini.
* Bambang Sukmadji, guru MA Futuhiyyah 1 Mranggen Demak, Jateng