Opini
Logika Berbahasa Lagu Anak-Anak
Acapkali, sebagian besar orangtua sudah terpatron pada lagu-lagu anak yang sudah menjadi "lagu wajib"
Acapkali, sebagian besar orangtua sudah terpatron pada lagu-lagu anak yang sudah menjadi “lagu wajib”. Parameter dari hal tersebut yakni kebertahanan lagu-lagu anak tersebut sepanjang masa, misalnya lagu naik kereta api, balonku, dll. Akan tetapi, tanpa kita sadari lebih dalam sebenarnya pada sisi semantik, sebagian lagu-lagu anak-anak hanya memperhatikan unsur kemudahan dalam mencari harmonisasi tanpa mempertimbangkan adanya logika semantik di dalamnya. Hal ini yang menarik minat penulis untuk memberikan deskripsi atas ketaksesuaian antara syair di dalam lagu-lagu anak dengan makna sebenarnya atas logika berbahasa secara umum.
Sebagian pendapat mengatakan bahwa penggunaan bahasa pada lagu, apa pun jenis lagunya, merupakan hal yang biasa dan tidak perlu dipersoalkan. Pendapat tersebut terutama dikaitkan dengan persoalan berkesenian yang cenderung menghargai kebebasan berpendapat. Akan tetapi, pada konteks lagu anak-anak, logika berbahasa yang terjadi dapat mengaburkan makna atau hakikat sesungguhnya atas sesuatu, misalnya air, pohon, dsb. yang dikorelasikan dengan kata lain dalam tataran kalimat atau frase di sebuah lagu. Oleh karena itu, penulis beranggapan bahwa persoalan lagu anak-anak kaitannya dengan logika berbahasa patut untuk dijadikan wacana kajian.
Nida dalam Chaer (2006:53) menyatakan bahwa segitiga makna mengacu pada kesesuaian antara benda, konsep, dan referen. Oleh karena itu, salah satu topik dalam semantik yaitu hubungan antara konsep, benda, dan referen. Hubungan ini yang pada tahap selanjutnya digunakan untuk mencapai tingkat kebenaran secara fakta atau logika berbahasa.
Odgen and Richards dalam Aminuddin (2003:80) menyatakan bahwa simbol merupakan elemen kebahasaan baik berupa kata, kalimat, dsb, yang secara sewenang-wenang mewakili objek dunia luar maupun dunia pengalaman masyarakat pemakainya. Sementara itu, gagasan ataupun referensi ialah hasil konseptualisasi hubungan antara simbol dan referen yang diacu. Berdasarkan asumsi bahwa pemaknaan adalah hasil dari konseptualisasi pemakai, dapat dimaklumi bila pada akhirnya klasifikasi maupun pemberian julukan terhadap objek acuan tidak sepenuhnya bersifat alamiah dan universal, tetapi lebih banyak bersifat konseptual.
Logika berasal dari kata Yunani kuno logos yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa. Logika adalah salah satu cabang filsafat. Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur. Kajian logika berbahasa pada dasarnya tidak bertolak dari bahasa yang digunakan dalam pemakaian sehari-hari. Pierce dalam Aminuddin (2003:148) mengungkapkan bahwa lambang dan relasi lambang, selain menunjuk dunia luar, juga menunjuk dirinya sendiri. Apabila lambang dan relasi lambang sesuai dengan keberadaannya dalam pemakaian, salah satunya menjadi kajian linguistik deskriptif, maka lambang dan relasi lambang dalam hubungannya dengan dirinya sendiri itulah yang menjadi objek kajian logika. Oleh karena itu, berbeda dengan linguistik yang berusaha menghasilkan pemerian, logika bahasa berusaha menghadirkan pure system sebagai sistem dari sistem.
Logika semantik
Berdasarkan data yang telah terkumpul, dapat diketahui beberapa ciri yang menunjukkan adanya ketidaksesuain dalam hal logika semantik. Ketidaksesuaian ini bersifat menyeluruh. Artinya, pada satu sisi keharmonisan bunyi yang dihasilkan menghilangkan makna denotatif atas kata-kata yang menyusun syair lagu anak tersebut. Berikut data yang menunjukkan fenomena kesalahan logika semantik tersebut.
a. Lagu Bintang Kecil
Bintang kecil, di langit yang biru
Amat banyak, menghias angkasa dst.
Sekilas syair lagu tersebut biasa-biasa saja bahkan secara umum orang akan memiliki argumentasi dengan adanya pengertian langit dan biru. Memang secara awam dapat dipahami bahwa kata langit identik dengan warna biru. Akan tetapi, ketika syair tersebut mengangkat topik tentang munculnya bintang-bintang di langit, apakah yang muncul pada warna langit adalah biru? Secara faktual, bintang hanya akan muncul ketika matahari tidak menampakkan dirinya. Artinya, bintang akan tampak manakala tidak ada sinar matahari. Warna langit akan biru apabila terang dan kecenderungan yang ada yakni pada siang hari. Dengan demikian, syair bintang kecil di langit yang biru pada data (a) di atas mengalami kesalahan logika semantik berkaitan dengan realitas atau fakta yang ada. Bintang tidak akan pernah muncul dalam kondisi langit berwarna biru. Bintang muncul hanya pada malam hari dan malam hari identik dengan gelap gulita.
b.Lagu Naik-naik ke Puncak Gunung
....kiri kanan kulihat saja, banyak pohon cemara....
Logika semantik pada syair lagu (b) di atas tidak sesuai dengan realitas yang ada secara umum. Secara sepintas, pada sisi fisik kedua pohon yaitu pohon cemara dan pohon pinus memiliki kesamaan. Kesamaan terutama pada bentuk yang ditunjukkan oleh daun yang hampir memiliki motif yang sama. Pohon cemara (Casuarina eqnisetifolia) merupakan pohon yang berbatang tinggi lurus seperti tiang, daunnya kecil-kecil seperti lidi. Cemara sendiri merupakan tetumbuhan hijau abadi yang sepintas lalu dapat disangka sebagai tusam, karena rantingnya yang beruas pada dahan besar kelihatan seperti jarum, dan buahnya mirip runjung kecil. Namun kenyataannya pepohonan ini bukan termasuk Gymnospermae, sehingga mempunyai bunga, baik jantan maupun betina. Bunga betinanya tampak seperti berkas rambut, kecil dan kemerah-merahan. Pohon cemara lebih banyak tumbuh di daerah pantai ataau pesisir, tidak banyak ditemukan sebuah pegunungan yang ditumbuhi oleh jenis pohon ini.
Pohon pinus atau tusam (Pinus merkusii) merupakan pohon yang biasa ditanam di lereng-lereng gunung, daunnya seperti jarum. Tusam kebanyakan bersifat berumah satu (monoecious), yaitu dalam satu tumbuhan terdapat organ jantan dan betina namun terpisah, meskipun beberapa spesies bersifat setengah berumah dua (sub-dioecious). Pohon pinus lebih banyak ditemukan di daerah pegunungan atau dataran tinggi. Hal ini berkaitan dengan iklim yang cocok dan sesuai dengan pohon tersebut sebagai penghasil getah bahan gondorukem.
c. Lagu Pok Ame-ame
Pok ame-ame, belalang kupu-kupu
siang makan nasi, kalau malam minum susu
susu mamak muda, manis seperti gula
Penekanan lagu ini sebenarnya pada aspek persuasif terhadap anak-anak supaya si anak mau minum susu, sehingga dianalogikan bahwa susu (baca: Air Susus Ibu) memiliki rasa yang manis seperti halnya rasa manis pada gula. Seperti diketahui bahwa rasa Air Susu Ibu (ASI) cenderung gurih dan sangat sedikit akan rasa manis.
Lagu anak-anak memiliki karakteristik yang unik. Pada sisi logika berbahasa lagu anak-anak tidak memperhatikan kaitan antara fakta dan konsep yang digunakan sehingga muncul pemahaman yang keliru. Latar belakang terjadinya ketidaksesuaian ini yaitu upaya pengarang atau pencipta lagu yang hanya mencapai aspek kemudahan pemahaman kata-kata bagi anak-anak. Ciri-ciri lagu anak-anak yang menggunakan logika berbahasa yang salah yakni ketaksesuaian konsep dengan referensi menyangkut sifat, karakteristik, dan kelaziman yang melekat pada kata yang digunakan di dalam syair lagu anak tersebut.
Penulis adalah pereksa bahasa di Balai Bahasa Banda Aceh