Opini
Panglima yang Menolak Tahta
KETIKA pulang dari berhari raya Idul Fitri 1433 H ke Samalanga, Bireuen, saya menyempatkan diri berziarah ke makam Tuanku Hasyim Banta Muda
Hasyim sejak itu memindahkan ibukota Aceh dari Kuta Raja ke tempat yang aman di Keumala Dalam, Pidie, bersama dengan para tokoh Aceh lainnya seperti Tuanku Mahmud Bangta Keucik. Sedangkan Tuanku Itam diminta membantu Tgk Chik di Tiro Muhammad Saman dan Tgk Tanoh Abee memperkuat pertahanan Aceh di kawasan Aceh Besar. Sementara Teugku Imeum Lueng Bata tetap bersama Hasyim di Keumala.
Setelah Teungku Chik di Tiro Muhamad Saman dan Panglima Polim Muda Kuala tutup usia pada tahun 1891 M, Belanda mencari jalan melunakkan Tuanku Hasyim untuk mengakhiri peperangan dan mengutus Raja Ismail bin Raja Abdullah dari Selangor dengan membawa surat Sultan Abubakar dan Johor. Utusan ini mengharapkan agar persoalan Aceh dan Belanda dapat diselesaikan secara damai. Selangor dan Kedah bersedia menjadi penengah. Tapi, usul ini ditolak oleh Tuanku Hasyim. Ia tetap pada pendiriannya, tidak mau berdamai dengan Belanda.
Ketika Sultan Muhamad Daud Syah dianggap sudah mampu memegang pimpinan pemerintahan Aceh, maka pada tahun 1894 Hasyim beserta keluarganya meninggalkan Keumala Dalam dan pulang ke Reubee. Kemudian dalam tahun 1896, beliau menetap di Padang Tiji sambil terus mengatur strategi perang melawan Belanda yang telah menjajah negerinya, sampai beliau menghembuskan napas terakhir pada Jumat, 22 Januari 1897. Hasyim dimakamkan di Masjid Tuha Padang Tiji, Kabupaten Pidie.
Itulah sekilas sosok mujahid Tuanku Hasyim Banta Muda. Ulama zuhud yang menolak tahta dan jabatan, demi persatuan dan martabat bangsanya. Beliau memilih jalan sunyi dengan kebersahajaan hingga akhir hayat.
Seperti penggalan hadih maja yang diucapkannya, “Nibak muparak, gèt tameutoë, aman nanggroë, ma’mu bangsa.” Itulah bedanya dengan situasi sekarang, “muparak (berpisah)” lebih diutamakan daripada “tameutoë (mendekat)”, sehingga kawan bisa menjadi lawan hanya untuk kepentingan sesaat. Sebaliknya, yang selama ini lawan bisa menjadi sahabat, juga dilandasi kepentingan pribadi atau kelompoknya.
Rakyat Aceh sekarang butuh tokoh seperti Tuanku Hasyim Banta Muda. Kecendekiawan, kearifan, dan kepemimpinannya sudah pantas menjadi contoh bagi generasi muda saat ini.
Penulis adalah dosen Fakultas Hukum Unsyiah, pencinta adat dan sejarah Aceh