Senin, 27 April 2026

Opini

Menaklukkan Iman Aceh

ACEH adalah daerah yang sangat menantang bagi sebagian orang non-muslim untuk ditaklukkan. Klaim bahwa 100 persen orang Aceh beragama Islam

Editor: bakri
Oleh Hasan Basri M. Nur

ACEH adalah daerah yang sangat menantang bagi sebagian orang non-muslim untuk ditaklukkan. Klaim bahwa 100 persen orang Aceh beragama Islam dan mereka sangat fanatik terhadap ajaran agamanya menjadi tantangan tersendiri bagi kaum misionaris. Keberadaan aneka lembaga yang mengurus masalah keislaman tak menyurutkan semangat misionaris untuk terus bekerja. Akhirnya terjadilah perang dakwah tentang keyakinan dengan objeknya adalah masyarakat.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, misionaris bermakna “orang yang melakukan penyebaran warta Injil kepada orang lain yang belum mengenal Kristus (http//bahasa.kemdiknas.go.id). Kaum misionaris seakan berlomba-lomba berjuang untuk menjinakkan iman orang Aceh. Berbagai pendekatan dalam menaklukkan iman orang Aceh diujicoba, mulai ajakan terbuka untuk mengikuti ajaran Yesus hingga ajaran “remang-remang” dengan memutarbalikkan fakta tentang Islam, seperti komunitas Millata Abraham, Laduni dan terakhir ajaran aneh (Serambi, 30/9/2012).

Sejarah membuktikan, menyeru secara langsung agar orang Islam Aceh mengubah keyakinannya kepada ajaran agama lain sangatlah sulit. Bertahun-tahun kaum misionaris berusaha menalukkan iman orang Aceh seperti dengan menerjemahkan dan menyebarkan Kitab Injil berbahasa Aceh di era 1980-an, tapi tak berhasil. Begitu juga pada era rehab-rekon, beberapa aktivis agama tertentu berusaha menggoyang keyakinan orang Aceh melalui argumentasi yang memojokkan Islam seperti kalimat: Tuhan kalian itu jahat karena menghancurkan Aceh dengan tsunami, sementara Tuhan kami sangat baik dan menyuruh kami menolong kalian. Propaganda ini juga tidak berhasil. Orang Aceh tetap teguh dengan kayakinannya dan percaya bahwa musibah tsunami adalah bagian dari sunnatullah yang mesti terjadi.

Melihat berbagai pendekatan untuk menjauhkan orang Aceh dari agamanya tidak berbuah, maka dilakukanlah pendekatan-pendekatan baru dalam upaya mencapai target besar yaitu pemurtadan. Gerakan-gerakan pendangkalan akidah yang marak belakangan ini adalah bagian dari menggiring orang Aceh ke sebuah terminal baru menuju gerbang pemurtadan. Gerakan Millata Abraham yang berdalih hendak mengembalikan kemurnian agama dengan kembali kepada ajaran Nabi Ibrahim adalah sebagai terminal menuju agama tertentu.

Pada tahap awal Millata Abraham memperkenalkan istilah-istilah agama tertentu yang berbeda dengan istilah Islam, seperti menyebut Isa sebagai Yesus, Musa sebagai Moses, Ibrahim sebagai Abraham dan seterusnya. Tujuannya adalah ketika sang mad’u (objek) sudah berada di terminal, maka dia tidak akan linglung lagi tatkala masuk ke dalam zona agama baru dan langsung dapat beradaptasi.

Bukti lain bahwa Millata Abraham sebagai terminal menuju agama tertentu dapat dilihat dari obyek seruan mereka yang hanya ditujukan kepada penganut Islam. Padahal jika memang hendak menyeru kepada ajaran Nabi Ibrahim idealnya mereka juga mengajak penganut Kristen bahkan Yahudi. Tapi itu tidak dilakukan. Tatkala saya mempertanyakan hal ini pada seorang pengajar Millata Abraham, dia kaget dan kemudian menjawab: “Ya, seharusnya begitu”.

 Agama misionaris
Islam dan Kristen adalah dua agama besar dunia yang mengemban misi penyebarluasan. Kedua agama itu tersebar dengan cepat ke seluruh penjuru dunia karena pengikutnya gigih dalam mendakwahkannya. Hanya saja kedua agama ini terkadang memiliki perbedaan dalam menyebarluaskannya. Bahkan, terdapat beberapa daerah tertentu yang silih berganti dikuasai oleh kedua agama itu. Salah satunya adalah Spanyol. Awalnya Spanyol adalah negeri Kristen, kemudian berubah menjadi kawasan Islam setelah ditaklukkan oleh imigran Afrika Utara hingga meraih puncak kegemilangan saat berada di bawah pemerintahan Islam (abad 8-15 Masehi), lalu meredup ketika penguasa Kristen mengambilalih kekuasaan dan mengusir bahkan membunuh orang-orang Islam yang ada di sana.

Dalam penyebaran agama, Islam mempunyai etika yang jelas dan tegas yaitu menghargai agama lain (QS. al-Kafirun: 1-6), serta meminta penganutnya untuk berdakwah dengan cara-cara yang penuh hikmah dan pelajaran yang baik serta berdebat dengan santun (QS. an-Nahlu: 125). Oleh karenanya, Islam melarang penyebaran agama dengan cara mengelabui, memaksa, menggarap anak-anak dan cara-cara tercela lainnya.

Ketika seseorang menyatakan tertarik pada Islam, ia akan disyahadatkan secara terbuka, bukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Maka jadilah Islam sebagai agama terbuka yang siap didebat oleh siapa saja. Simbol keterbukaan ini terdapat pada bentuk rumah ibadahnya yang isi dalamnya dapat dilihat secara jelas oleh siapa saja dari luar. Hasilnya, penambahan penganut Islam rata-rata berasal dari kalangan terdidik terutama dari negara-negara maju di Eropa dan Amerika Utara.

Sebaliknya ada agama tertentu yang menggarap penganut baru dengan cara-cara tidak gentelmen seperti memanfaatkan kemiskinan, kebodohan, memalsukan ayat-ayat al-Quran hingga menggarap anak-anak ingusan yang masih duduk di TK dan SD. Ini menunjukkan agama itu sangat tertutup, kebenarannya diragukan bahkan tidak siap diperdebatkan. Penyebaran agama semacam ini dipastikan hanya untuk mengejar kuantitas penganut dan mengabaikan kualitasnya.

 Kontribusi Fakultas Dakwah
Rabu 3 Oktober 2012 adalah hari bersejarah bagi Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry karena berusia genap 44 tahun. Sebuah usia yang cukup matang dan sejatinya sudah memberi kontribusi besar bagi pengembangan dakwah di Aceh. Namun kenyataannya fakultas ini belum berkiprah besar dalam memapankan akidah orang Aceh sehingga tak tergoyahkan oleh bujuk rayu misionaris.

Bagi beberapa kalangan ada kesan kuliah di Fakultas Dakwah tidak menjanjikan masa depan karena tidak mempunyai kavling pekerjaan yang jelas. Asumsi ini jelas keliru karena keilmuwan dakwah itu berada dalam bingkai komunikasi yang tentu dibutuhkan oleh siapa saja dan lembaga mana saja. Apalagi sejak 2012 akan dididik kader-kader unggul melalui kelas internasional yang terampil berkomunikasi menggunakan dua bahasa dunia; Inggris dan Arab.

Di luar persoalan itu, Fakultas Dakwah sejatinya memberikan kontribusi yang lebih nyata dalam membangun, membina dan mempertahankan akidah orang Aceh dari serangan agama lain. Salah satu caranya adalah Pemerintah Aceh perlu menggandeng Fakultas Dakwah guna mendidik dai-dai pedesaan melalui pendidikan khusus. Para dai pedesaan ini berasal dari pemuda desa atau imam meunasah yang dilatih secara khusus oleh Fakultas Dakwah.

Kepada para dai pedesaan diberi tugas membina dan mengawasi aktivitas keagamaan di desa masing-masing sehingga masyarakat mendapat siraman rohani secara rutin dan ketika ada aktivitas mencurigakan dari misionaris akan terdeteksi sejak dini. Dengan adanya pola pembinaan dan pencegahan, maka akidah orang Aceh akan terpelihara dan tidak akan ada korban pemurtadan karena kebodohan, kemiskinan, penipuan, pemalsuan ayat Alquran dan sebagainya. Semoga!

* Hasan Basri M. Nur
, Dosen Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Email: hb_noor@yahoo.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved