Senin, 27 April 2026

KUPI BEUNGOH

Mendesain Ulang Arah Pendidikan Kita

mendesain ulang pendidikan berarti menggeser fokus dari sekadar “mengisi kepala menjadi membentuk cara berpikir

Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Dr. Iswadi, M.Pd, Dosen Universitas Esa Unggul-Jakarta 

Penulis Dr. Iswadi, M.Pd*)

Mendesain ulang arah pendidikan bukan sekadar urusan mengganti kurikulum, menambah mata pelajaran baru, atau memperbarui buku teks. 

Ia adalah upaya yang jauh lebih mendasar: mempertanyakan kembali tujuan pendidikan itu sendiri. 

Kita perlu bertanya dengan jujur, pendidikan ini sedang membentuk manusia seperti apa, dan sedang diarahkan untuk masyarakat yang bagaimana di masa depan?

Selama ini, banyak sistem pendidikan masih terlalu berfokus pada transfer pengetahuan satu arah. Sekolah sering kali menjadi tempat di mana siswa diminta menghafal informasi sebanyak mungkin, lalu menuangkannya kembali dalam bentuk ujian. 

Keberhasilan pun sering diukur dari angka: nilai ujian, peringkat kelas, atau kelulusan dengan predikat tertentu. Dalam kerangka seperti ini, yang dihargai adalah kemampuan mengingat dan mengikuti standar, bukan kemampuan berpikir secara mandiri.

Masalahnya, dunia di luar sekolah tidak bekerja seperti itu. Kehidupan nyata tidak menyediakan soal pilihan ganda dengan satu jawaban benar. 

Dunia kerja dan kehidupan sosial modern menuntut kemampuan yang jauh lebih kompleks: berpikir kritis, beradaptasi dengan perubahan, bekerja sama dalam tim yang beragam, serta mampu belajar ulang sepanjang hayat. 

Ketika pendidikan tidak selaras dengan realitas ini, muncul kesenjangan antara apa yang dipelajari di sekolah dan apa yang benar-benar dibutuhkan di kehidupan.

Karena itu, mendesain ulang pendidikan berarti menggeser fokus dari sekadar “mengisi kepala menjadi membentuk cara berpikir. 

Siswa tidak cukup hanya tahu jawaban, tetapi juga harus memahami bagaimana suatu jawaban ditemukan. Proses berpikir menjadi lebih penting daripada hasil akhir semata. 

Baca juga: Earth Day: Saatnya Pendidikan Menjawab Krisis Lingkungan

Dalam pembelajaran matematika, misalnya, yang lebih berharga bukan hanya hasil perhitungan, tetapi bagaimana siswa memahami logika di baliknya dan mampu menggunakannya untuk memecahkan masalah nyata dalam kehidupan sehari hari.

Selain itu, pendidikan perlu bergerak dari pendekatan seragam menuju pendekatan yang lebih personal. Setiap siswa memiliki cara belajar, kecepatan, dan minat yang berbeda. 

Namun sistem pendidikan yang terlalu kaku sering memaksa semua siswa untuk mengikuti jalur yang sama. 

Akibatnya, sebagian siswa tertinggal, sementara yang lain tidak tertantang secara maksimal. Padahal, jika diberikan ruang yang lebih fleksibel, potensi setiap individu bisa berkembang lebih optimal.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved