KUPI BEUNGOH
Stigma Gembel, Mengapa Jalan Kaki di Banda Aceh Dipandang Sebelah Mata?
stigma negatif terhadap pejalan kaki dapat diatasi dan Banda Aceh dapat menjadi kota yang lebih sehat, nyaman, dan berkelanjutan
Oleh: Alda Livia Saldani Barus*)
Banda Aceh, kota religius yang menjunjung tinggi kesederhanaan. Tapi, kenapa berjalan kaki justru dianggap aneh, bahkan dicurigai?
Apakah kemewahan kendaraan telah membutakan kita dari nilai-nilai luhur? Mari kita bedah stigma "gembel" yang melekat pada pejalan kaki di kota ini.
Kepemilikan kendaraan pribadi, khususnya mobil dan sepeda motor, telah menjadi simbol status sosial yang kuat di Banda Aceh.
Semakin mewah kendaraan yang dimiliki, semakin tinggi pula status yang disandang. Kondisi ini diperparah oleh infastruktur kota yang belum sepenuhnya ramah terhadap pejalan kaki.
Trotoar seringkali sempit, rusak, bahkan tidak tersedia di beberapa titik. Ironisnya, ruang yang seharusnya menjadi hak pejalan kaki justru kerap dialihfungsikan menjadi tempat parkir kendaraan.
Penelitian oleh Myna Agustina Yusuf (2024) menunjukkan bahwa kondisi ini berdampak langsung pada menurunnya kenyamanan dan meningkatnya risiko keselamatan bagi pejalan kaki.
Selain itu, kurangnya kesadaran akan manfaat jalan kaki bagi kesehatan dan lingkungan turut memperburuk situasi.
Masyarakat cenderung kurang menyadari bahwa jalan kaki adalah aktivitas fisik yang murah, mudah, dan efektif untuk menjaga kebugaran tubuh serta mengurangi risiko penyakit tidak menular.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sekitar 95,8 persen orang dewasa di Indonesia kurang melakukan aktivitas fisik .
Bahkan, dalam survei nasional lainnya, 37,4 % penduduk Indonesia masih tergolong kurang aktif secara fisik.
Angka ini menjadi sinyal bahwa berjalan kaki sebagai aktivitas paling sederhana justru semakin jarang dilakukan.
Padahal, kurangnya aktivitas fisik bukan masalah kecil. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa lebih dari 1,4 miliar orang di dunia tidak cukup beraktivitas fisik .
Dampaknya sangat serius: mulai dari meningkatnya risiko penyakit jantung, diabetes, hingga kanker. Bahkan, kurang aktivitas fisik berkontribusi pada jutaan kematian setiap tahun secara global .
Baca juga: 821 Tahun Kota Banda Aceh: Jejak Sultan Johan Syah dari Gampong Pande hingga Imperium Maritim
Jika dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia bahkan di dunia, Banda Aceh masih jauh tertinggal dalam hal fasilitas dan dukungan bagi pejalan kaki.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Alda-Livia-Saldani-Barus_mahasiswa-UIN-Ar-Raniry_20260419.jpg)