Opini
Kepemimpinan Visioner
KATA visioner menjadi ikon dalam setiap pembicaraan mengenai perdebatan panjang akan pemimpin masa depan, termasuk di Aceh
KATA visioner menjadi ikon dalam setiap pembicaraan mengenai perdebatan panjang akan pemimpin masa depan, termasuk di Aceh. Setiap proses pemilihan calon pemimpin baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi, terlebih pemimpin negara, masalah visioner ini kerap dikaji, dibahas dan diperdebatkan. Idealnya calon pemimpin, bahkan untuk rumah tangga pun harus diuji visinya. Visi itu harus dimiliki oleh setiap individu dalam menggerakkan langkah, hati, pikiran pada tujuan yang ingin dicapai. Regenerasi kepemimpinan di Aceh sudah berjalan baik walaupun dari sisi kualitas kepemimpinan dan integritas perlu tinjauan lebih lanjut.
Visi dalam rangkaian pemaknaan dapat dikatakan sebagai bayangan tentang masa depan pribadi atau organisasi yang realistis untuk diraih dan diyakini mampu dicapai. Realistis penting untuk memberi keyakinan kepada pengikut, bahwa yang ingin diraih di masa depan adalah sesuatu yang mungkin dicapai (kon cet langet). Selanjutnya pemimpin atau individu harus yakin bahwa dia mampu meraih apa yang terpatri dalam benaknya. Mind set semacam itulah atau impian yang tergambar jelas akan capaian yang diinginkan akan masa depan dirinya atau organisasi yang dipimpinnya.
Berani bermimpi
Visi merupakan visualisasi yang tergambar jelas dalam pikiran seorang pemimpin. Kata orang, pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang punya mimpi hebat pula, maka beranilah bermimpi dan berani mewujudkan mimpi itu. Jadikan mimpi sebagai peta bawah sadar yang memotivasi menuju tujuan itu. Jangan takut bermimpi karena mimpi itu suatu yang kita inginkan yang tidak kita miliki saat ini.
Dengan keyakinan, usaha dan doa akan mampu mewujudkan mimpi itu. Mimpi memiliki kekuatan dahsyat. Kekuatan mimpi yang diyakini mampu membawa perubahan dan dapat diwujudkan. Maka dari itu jangan takut bermimpi. Bermimpi itu gratis. Mewujudkannya harus dibayar dengan kerja keras, optimis, berani gagal, kreatif, inovatif, taat beribadah serta rajin sedekah. Simak mimpinya Chairul Tanjung dalam bukunya Anak Singkong dari orang biasa menjadi penguasa media dan masuk jajaran orang terkaya di Indonesia.
Selanjutnya visi itu sendiri dapatlah dikatakan sebagai niat. Sebelum melakukan sesuatu dalam ritual agama, niat itu selalu yang pertama dan utama. Niat sesuatu yang kita ucap dengan lidah dan kita yakini dengan hati. Orang yang niatnya benar ibadahnya khusuk. Sering petuah disampaikan ke kita oleh orang-orang shalih, benerin dulu niat sebelum beribadah. Hadis nabi: Innama a’malu bin niat. Saya meyakini niat itu adalah visi. Kalau visi seseorang seperti syarat niat, insya Allah visinya akan benar dan yakin dapat diwujudkan.
Kenyataan hari ini dalam konteks visi/niat seorang yang mencalonkan diri sebagai pemimpin atau sudah menjadi pemimpin, visi itu hanya tulisan pelengkap syarat administrasi, yang terkadang siempunya visi tidak tahu apa yang tertulis karena bisa jadi visinya orderan. Untuk itu jangan heran hari ini kita saksikan kepemimpinan di sekitar kita, para kepala pemerintahan yang tidak mampu mewujudkan apa yang dia janjikan, wakil rakyat yang salah jalan dalan menjalankan visi kampanyenya sehingga tidak mampu membuat perubahan untuk kesejateraan rakyat yang dipimpinnya.
Itu karena niat/visinya tidak benar. Atau yang lebih parah lagi bisa jadi sipemimpin itu tidak punya visi. Ibarat perahu yang terombang-ambing di lautan tanpa arah tujuan, hanya diseret arus dan terbawa angin. Inilah akibat kepemimpinan tanpa visi. Lemah, goyah, tanpa arah. Jangan berharap perubahan pada pemimpin seperti ini.
Pemimpin adalah orang yang mengartikulasikan seluruh harapan pengikut dengan langkah yang terorginisir, jelas capaiannya dan terukur hasilnya. Jelas Aceh butuh kepemimpinan yang kuat, memiliki visi/niat yang mampu mengartikulasikan harapan dan kepentingan rakyat. Pemimpin bukan simbol kekuasan semata, tapi dia adalah panglima perubahan yang bisa menularkan virus motivasi pada rakyatnya, menjadi harapan perubahan, memberi keyakinan kepada segenap bawahan untuk bekerja mewujudkan cita-cita, menjadi perlambang keadilan.
Pemimpin bukanlah orang yang berkemampuan rata-rata, pemimpin bukanlah orang yang berkuasa karena keberuntungan lotre pilkada. Tapi pemimpin haruslah yang memiliki kelebihan dibandingkan pengikutnya (bukankah kita memilih imam shalat orang yang lebih baik dari makmum) sehingga mampu menebar semangat perubahan dan memiliki gambaran rancang bangun pemikiran yang jelas dan terukur akan tujuan kepemimpinannya dan hasil yang akan dicapai. Pemimpin harus menjadi motivator yang menggerakkan segenap elemen dalam pemerintahannya berkerja terarah berkelanjutan pada tujuan yang ditetapkan.
Pemimpin menjadi teladan dalam menyusun skenario pembangunan, kreativ dalam mengubah tantangan menjadi peluang, hambatan ditiadakan, aturan dan hukuman diciptakan sebagai patron yang adil dan mencerminkan keteraturan. Bijaksana dan tegas pada jalan kebenaran. Tipe pemimpin yang seperti ini tidak akan melahirkan program yang paradoks dan nyeleneh seperti ngurusin jenggot dan rok. Pemimpin adalah orang yang bisa di diteladani akhlak dan perilakunya, ilmunya bisa jadi penerang, janjinya bisa dipercaya, jujur dan tidak munafik (bukankah agama mengajarkan demikian).
Agenda besar
Aceh menyimpan banyak agenda besar yang membutuhkan perhatian serius, mulai dari persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, lapangan kerja dan lain-lain. Ini semua memerlukan perhatian hingga melahirkan rangkaian program dan implementasinya secara akurat dan berkelanjutan. Seperti membina dunia usaha yang sehat, misalnya, agar tercipta pertumbuhan ekonomi hingga membuka lapangan kerja. Demikian pula urusan pendidikan, bukan hanya persoalan anak usia sekolah sudah sekolah atau belum, tapi apa yang dipelajari, siapa yang mengajarkan, serta bagaimana serapan dan korelasinya dengan dunia kerja.
Di sinilah intervensi gubernur, bupati dan walikota melalui kewenangan yang melekat pada jabatannya untuk memimpin dalam menghimpun berbagai kalangan, kepala dinas, dan seluruh jajaran di bawahnya partai politik dan seluruh jajaran pemerintah terkoordinir ibarat simphoni orchestra walau nada suara berbeda tinggi rendah beragam alat music tapi menjadi kolaborasi indah mengikuti arahan dirigen hingga menghasilkan nada-nada yang teratur, semarak, menggugah dan indah. Ya pemimpin adalah dirigen simponi peradaban dalam wilayah kekuasaannya.
Kini, Aceh di bawah kepemimpinan baru memiliki momentum untuk berubah. Kita bersepakat jadikan ini momentum perubahan mari kita luruskan niat menghapus perbedaan, memperkuat persamaan, pemimpin dan rakyat bersinergi bersama menggapai arah tujuan yang ingin kita capai sepenuh hati berusaha sekeras tenaga untuk mewujudkannya.
Kita semua adalah pemimpin yang miliki impian. Tulisan dan sampaikan impian itu pada anak, istri, keluarga, teman dan kolega serta pada rakyat agar semua tahu impian kita dan berusaha mewujudkannya bersama-sama. Sehingga kalau pemimpin lupa dan salah arah dapat diingatkan oleh pengikutnya. Aceh punya mimpi dan harapan dan karena mimpi dan harapannya sejarah Aceh ditulis dengan tinta darah. Rakyat Aceh berharap pada gubernur, bupati, wali kota yang baru terpilih untuk memimpin mewujudkan mimpi dan harapan kita semua.
* Edwar M. Nur, Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Aceh. Email: edomnur@yahoo.co.id