Serambi Kuliner

Masam Jing di Teluk One-One

KABUPATEN Aceh Tengah yang terletak di Dataran Tinggi Gayo (DTG) selain memiliki ragam budaya, juga menyimpan aneka masakan maupun

Editor: bakri
zoom-inlihat foto Masam Jing di Teluk One-One
SERAMBI/MAHYADI
Memasak masam jing di Kantin Awas 12, Teluk One-One, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah.

KABUPATEN Aceh Tengah yang terletak di Dataran Tinggi Gayo (DTG) selain memiliki ragam budaya, juga menyimpan aneka masakan maupun makanan khas. Salah satu masakan yang mungkin sudah cukup dikenal asal daerah kawasan tengah Aceh ini adalah masam jing (asam pedas).

Jenis masakan ini, hampir sama dengan model masakan di beberapa daerah di bumi Serambi Mekkah ini. Jika di kawasan pesisir Aceh, masakan sejenis masam jing sering disebut dengan asam keueung atau orang minang menyebutnya dengan asam padeh. Namun, bumbu maupun cara pengolahannya yang sedikit berbeda, sehingga masam jing menyajikan taste (rasa) yang memang khas dari Dataran Tinggi Gayo (DTG).      

Masakan ciri khas Gayo ini bisa dijumpai di beberapa tempat di Takengon, ibu kota Aceh Tengah. Salah satunya di kawasan Teluk One-One, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah. Di lokasi ini, konsumen bisa memilih sendiri ikan yang akan dimasak untuk menu masam jing atau ikan bakar. Artinya, ikan yang dijual kepada penikmat menu khas Gayo ini, masih segar.

Karena, sebelum dimasak konsumen bisa memilih sendiri ikan mujahir atau ikan bawal (ikan mas) dari dalam jaring. Di tempat itu juga disediakan berbagai jenis ikan bakar. Tentunya, sebelum menikmati santapan ikan bakar dan masam jing, pengunjung telah duluan “digoda” dengan aroma ikan bakar yang menyeruak dari asap pemanggangan sehingga makin menambah selera makan.

Kawasan Teluk One-One, berjarak sekitar tiga kilometer dari Takengon. Daerah tersebut terletak di kawasan pesisir Danau Lut Tawar. Sembari menikmati hidangan ikan bakar dan asam jing, pengunjung bisa menyaksikan langsung keindahan Danau Lut Tawar. Termasuk di antaranya lokasi pembudidayaan ikan air tawar.

Keberadaan ikan bakar di Teluk One-One, Kampung One-One ini, baru sekitar enam tahun terakhir berkembang. Sejak kawasan tersebut menjadi lokasi budidaya ikan air tawar, sebagian masyarakat memanfaatkan kesempatan bukan hanya menjual ikan mentah, tapi bisa langsung menyajikan masakan siap hidang dengan menu khas Gayo.

Seperti yang dilakukan Abrar, warga Kampung One-One dimana ia membuka usaha ikan bakar di Teluk One-one. Usaha itu sudah ia lakukan sejak enam tahun lalu. Berawal dari membuka tempat seadanya, namun kini usahanya  mulai berkembang. Bahkan warga Takengon, banyak yang mulai menikmati ikan panggang maupun ikan masam jing di lokasi itu.

Bila sebelumnya kawasan tersebut tidak lebih menjadi area lintasan warga yang hendak menuju kawasan wisata danau, kini Teluk One-One telah menjadi salah satu kawasan wisata kuliner dengan sajian menu khusus ikan bakar dan masam jing yang merupakan masakan ciri khas Gayo. “Alhamdulillah, banyak juga yang datang dari luar daerah untuk makan ikan segar di warung saya,” kata Abrar.

Menurutnya, hidangan ikan bakar maupun ikan masam jing ketika penyajian dipadukan dengan beberapa jenis masakan lokal lain seperti, cecah terong angur dan sayur pucuk jipang rebus. Ada juga sambal kecap untuk ikan bakar. “Sajian yang kami buat untuk masakan ikan-ikan ini, lebih memperkenalkan masakan lokal. Selama ini, banyak juga peminatnya,” ujar pemilik Kantin Awas 12 ini.

Bila hari-hari biasa, lanjut Abrar, paling sedikit dalam sehari ia bisa laku hingga lima kilogram ikan. Tapi, di akhir pekan atau hari libur penjualan ikan bakar maupun menu masam jing bisa lebih banyak. Apalagi, setelah lebaran ikan bakar maupun masam jing, bisa laku hingga puluhan kilogram. “Lama kelamaan, usaha saya ini mulai dikenal. Ada beberapa orang warga di sini yang juga mulai membuka usaha ikan bakar dan asam jing seperti saya ini,” pungkas Abrar.

Soal harga, ia menjelaskan untuk Ikan mujahir bakar plus nasi, cecah terong angur, dan sayur dijual Rp 35 ribu per porsi. Untuk Masam jing mujahir plus nasi, cecah terong angur, dan sayur, sebut Abrar, harganya Rp 35 ribu per porsi. “Sedangkan masam jing bawal plus nasi, cecah terong angur, sayur, saya jual 50 ribu rupiah per porsi,” jelasnya.

Soal cara mengolah masam jing, menurutnya, tidak serumit mengolah rendang. Bumbu yang digunakan cukup sederhana. Tapi dalam membuat masakan ini butuh pengalaman dalam meracik bumbu sehingga masam jing yang disajikan memiliki rasa yang khas dan nikmat untuk dicicipi.

Anda penasaran dan ingin menikmati ikan bakar dan masam jing khas Gayo, silakan datang di kawasan Teluk One-One, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah. Anda bisa menikmati aneka kuliner dengan harga terjangkau.(mahyadi)

Jadi Kawasan Wisata Kuliner
MULAI menggeliatnya kawasan Teluk One-One sebagai lokasi penjualan ikan bakar serta menu lokal khas Gayo seperti masakan masam jing, membuat kawasan itu bisa menjadi lokasi wisata kuliner di Kota Dingin Takengon.

Harapan saya, di samping kawasan tersebut merupakan daerah wisata, ikan bakar maupun ikan masam jing, bisa menjadi ikon Teluk One-One. Di samping,  kawasan tersebut memang merupakan lokasi budidaya ikan air tawar.
* Subhandhy AP MSi, Camat Lut Tawar.(c35)

Pertahankan Masakan Gayo
BERAGAM jenis masakan Gayo, harus bisa dipertahankan jika punya rasa yang khas dan sisi kesehatannya terjamin. Karena, hampir semua masakan Gayo seperti masam jing, pengat Gayo dan dedah tak menggunakan bahan yang mengandung lemak berlebihan seperti santan. Sehingga makanan itu tidak akan menggangu kesehatan orang yang mengonsumsinya. Warung nasi yang menyajikan jenis masakan lokal di Takengon, sudah mulai banyak, termasuk di antaranya beberapa warung nasi yang khusus menyajikan masakan masam jing, dedah, pengang gayo, cecah dan berbagai jenis lain. Kita berharap hal-hal yang berbau lokal ini, bisa dipertahankan dan bisa berkembang sebagai salah satu pendukung untuk kemajuan pariwisata di Gayo
* Hj Ummi Kalsum, Hj Ketua BKMT Aceh Tengah.(c35)

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved