Senin, 20 April 2026

Opini

'Taharap keu Pageue, Pageue Pajoh Pade'

JUDUL artikel ini mangandung makna lughawi dan istilahi. Makna lughawi adalah; mengharap kepada pagar agar binatang seperti lembu, kerbau

Editor: bakri

Oleh Hasanuddin Yusuf Adan

JUDUL artikel ini mangandung makna lughawi dan istilahi. Makna lughawi adalah; mengharap kepada pagar agar binatang seperti lembu, kerbau, kambing dan lainnya tidak makan padi di dalamnya ternyata pagar itu sendiri yang makan padi. Sedangkan makna istilahi; bangsa Aceh menaruh perhatian penuh kepada penguasa wilayah sendiri yang sudah dibantunya dalam perjuangan panjang dulu agar menjalankan syariat Islam secara sempurna di bumi meutuwah ini, namun bukannya mereka tidak mau menjalankan syariat di Aceh tetapi mereka pula yang menghancurkannya. Masya Allah. Taharap keu pageue, pageue pajôh padé. Taharap keu luweue, luweue nyang peulumah bacé.

Istilah tersebut, dulu sering dijadikan tamsilan memberikan gambaran salah urus dan salah kaprah seseorang dalam menjalankan tugas keseharian dalam hidupnya. Di zaman kerajaan dulu, puteri raja disuruh kawal pada orang-orang lelaki yang terpercaya kejujurannya, tetapi sekali-sekali sang pengawal juga terjebak berhubungan badan dengan sang puteri raja yang cantik jelita. Ketika peristiwa itu terjadi, orang-orang Aceh berucap: Taharap keu pageue, pageue pajôh padé. Taharap keu luweue, luweue nyang peulumah bacé.

Ketika ada orang kaya yang tidak mempunyai anak atau keturunan, namun dia memiliki banyak harta benda yang dulu belum ada tempat penyimpanan yang aman seperti bank hari ini. Lalu dia memintakan seseorang untuk menjaganya dari gangguan dan pencurian dengan memberikan hak alakadarnya kepada dia. Tetapi sang penjaga mencuri atau membawa lari harta itu. Ketika prilaku semacam ini terjadi maka ungkapan awal yang keluar adalah: Taharap keu pageue, pageue pajôh padé. Taharap keu luweue, luweue nyang peulumah bacé.

 Kecewa dan dikecewakan
Ketika kita sedikit bernostalgia ke zaman silam, di sana kita dapati beberapa peristiwa penting menyangkut Aceh yang kecewa dan dikecewakan. Umpamanya; ketika Kerajaan Aceh Darussalam (KAD) bersahabat dengan kerajaan Inggris dengan saling bertukar hasil alam dan saling membantu diplomasi luar negeri, orang-orang Aceh memegang kuat komitmen perjanjian tersebut. Tetapi kemudian Inggris menyerahkan Aceh kepada Belanda, yang pada 1873 memerangi Aceh. Kembali lagi pepatah Aceh berkumandang; Taharap keu pageue, pageue pajôh padé. Taharap keu luweue, luweue nyang peulumah bacé.

Demikian pula ketika berteman dengan Jepang, Belanda lari dari Aceh atas usaha keras pejuang Aceh bantuan Jepang itu. Namun apa yang terjadi kemudian? Jepang yang membawa motto: Pembebasan Asia Timur Raya untuk Asia bukannya membantu dan memberi keamanan kepada Aceh dan bangsanya, melainkan menjajah bangsa Aceh dan memeras hasil bumi Aceh melebihi kekejaman Belanda sebelumnya (Tuha adoe ngön aduen). Kembalilah para pejuang Aceh berucap: Taharap keu pageue, pageue pajôh padé. Taharap keu luweue, luweue nyang peulumah bacé.

Dalam konteks perjuangan Aceh terhadap eksistensi Indonesia dalam agresi kedua Belanda pada 1948, presiden pertama Indonesia Soekarno datang ke Aceh menjumpai ulama dan pemimpin kharismatik Aceh, Tgk Muhammad Daud Beureuéh. Ia meminta beliau mengajak dan mempengaruhi bangsa Aceh untuk melawan agresi kedua Belanda tersebut dengan janji kalau Indonesia merdeka penuh nanti akan diberlakukan syariat Islam di Indonesia dan khususnya di Aceh.

Tetapi yang terjadi kemudian adalah ketika Indonesia resmi menjadi sebuah negara dalam peta dunia, Soekarno berpidato di kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba dan di Amuntai Kalimantan Selatan: “Kita tidak mungkin menjalankan syariat Islam di bumi Indonesia. Kalau kita menjalankannya bagaimana saudara kita yang Hindu di Bali, bagaimana saudara kita yang Kristen di Menado, di Maluku, di Sulawesi dan sebagainya. Kembali Aceh tertipu: Taharap keu pageue, pageue pajôh padé. Taharap keu luweue, luweue nyang peulumah bacé.

Akibatnya, bangsa Aceh mewujudkan perlawanan baru lewat jalur gerakan Darul Islam/Tentera Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin oleh Tgk Muhammad Daud Beureuéh. Setelah perjuangan yang memakan waktu lebih kurang 10 tahun, dan para pejuang Aceh rujuk kembali dengan Indonesia dengan janji baru dan harapan baru; Aceh diberi keistimewaan dalam bidang agama, pendidikan dan adat istiadat. Namun keistimewaan tersebut ternyata hanya keistimewaan semu belaka.

Bangsa Aceh waktu itu sangat berharap banyak perubahan positif untuk kemajuan Aceh lewat keistimewaan tersebut, apalagi perjuangan DI/TII sudah sangat banyak memakan korban. Namun kemudian apa yang terucap di bibir para pejuang Aceh waktu itu adalah: Taharap keu pageue, pageue pajôh padé. Taharap keu luweue, luweue nyang peulumah bacé.

 Mengharap kesetiaan pagar
Bangsa Aceh tidak pernah henti dan bosan mengharap kepada kesetiaan pagar. Kali ini, ketika rezim Soeharto menzalimi dengan menguras hasil alamnya secara membabi buta, khususnya gas alam di Aceh Utara tanpa bagi hasil yang wajar, Dr Tgk Muhammad Hasan Tiro membuka lembaran baru Aceh meng-isytihar-kan perlawanan terhadap Indonesia dengan wadah Aceh Merdeka (AM), yang kemudian berubah menjadi Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

Perjuangan yang memakan sekitar tiga dekade itu berhenti setelah terjadinya gempa dan tsunami 2004. GAM dan RI berdamai seraya wujud MoU Helsinki dan UUPA untuk Aceh yang sejahtera, orang-orang Aceh kembali bergembira dengan perjanjian dan harapan baru. Eforia MoU Helsinki dan UUPA menggema ke seluruh pelosok bumi Aceh, masyarakat Aceh ramai-ramai mendukung mantan kombatan GAM yang berafiliasi dalam Partai Aceh (PA). Dalam pemilu 2009 serta pemilukada 2006 dan 2012 berikutnya PA menang mutlak di Aceh.

Harapan orang Aceh terhadap kemenangan PA adalah untuk syari’at Islam di Aceh yang sudah sangat lama ambruk. Namun ketika eksekutif dan legislatif Aceh dikuasai PA sehingga hari ini syariat Islam Aceh dipermainkan seperti bola pimpong yang setiap waktu dipukul sehingga ia pecah secara perlahan, kembali lagi orang Aceh berucap: Taharap keu pageue, pageue pajôh padé. Taharap keu luweue, luweue nyang peulumah bacé.

Bangsa Aceh yang terus dirundung malang ini berharap ada al-ghurabak atau “Ratu Adil”, yang mampu mengubah situasi Aceh dari berbagai keterpurukan, menjadi bangsa yang menjalankan syariat Islam sepenuhnya (kaffah). Para ghurabak harus muncul untuk memperbaiki suasana di Aceh sehingga pepatah itu berubah menjadi; Taharap keu pageue, keubeue nyang pajôh padé. Taharap keu luweue, luweue nyang peuseulamat bacé.

Rasulullah saw pernah berucap: Innallaha yab’atsu lihazihil ummah raksun ‘ala kulla miatin sanah (Sesungguhnya Allah swt akan mengutuskan seorang pembaharu/pemimpin untuk umat ini dalam 100 tahun seorang). Walaupun waktunya tidak persis 100 tahun, di Aceh sudah lahir pemimpin seperti Ali Mughayyatsyah, Al-Qahhar, Iskandar Muda, Safiatuddinsyah, Tgk Syhik Di Tiro, Tgk Muhammad Daud Beureuéh, Tgk Muhammad Hasan Tiro, dan lain-lain.

Para penguasa Aceh hari ini wajib berpikir dan berusaha untuk mewujudkan para pemimpin Aceh ke depan yang setara dengan mereka. Maka lakukanlah segala sesuatu dalam bingkai syariat Islam untuk Aceh masa depan, bukan untuk kaum, partai dan golongan tuan-tuan. Dalam hadis lain Rasulullah saw berucap: Fathuwba lilghurabaak, allazina yushlihu ma afsadannaasi mim ba’di min sunnatiy (Beruntunglah para ghurabak/perintis yaitu orang-orang yang memperbaiki apa yang sudah dirusakkan manusia dari sunnahku sesudahku).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved