Membuang Uang demi Merokok
Meski iklan tentang bahaya merokok ada di mana-mana, kebiasaan merokok tetap ada, termasuk di lingkungan kampus.
Kebiasaan
merokok mahasiswa biasanya dimulai sejak mereka berusia remaja, bahkan
bisa terjadi sejak duduk di bangku SD. Harapannya, saat mereka menjadi
mahasiswa, seiring kemampuan berpikir yang lebih dewasa, akan mampu
mengurangi kebiasan merokok. Ternyata mereka tak kunjung berhenti
merokok.
Psikolog Anna Surti Ariani, yang akrab disapa Nina,
mengatakan, kebiasaan merokok bisa menjadi semakin bertambah saat masuk
dunia perkuliahan. Apalagi sebagai mahasiswa mereka sudah bisa mengambil
keputusan sendiri. Jika mereka tidak mendapat uang saku dari orangtua,
pasti berbagai cara mereka lakukan untuk mendapat rokok.
”Kalau
sudah kuliah, sulit bagi orangtua membatasi uang saku untuk membeli
rokok karena mereka sudah bisa mengambil keputusan sendiri. Mereka juga
bisa mencari uang saku sendiri,” kata Nina.
Untuk menghentikan
kebiasaan merokok pada mahasiswa, menurut Nina, tidak bisa dengan cara
yang sederhana. Seharusnya mahasiswa diajak berpikir untuk
memperhitungkan berapa uang yang dibuang dalam sehari untuk membeli
rokok, bukan hanya mengenai kenikmatan merokok.
”Misalnya, dalam
sehari merokok satu bungkus butuh uang berapa, lalu berapa produktivitas
yang dihasilkan. Kalau ada hasilnya, mereka pasti berani menjawab,
misalnya dengan membuang uang Rp 30.000 bisa menghasilkan satu bab
skripsi,” ujar Nina.
Nah, jika mahasiswa tidak menghasilkan
apa-apa dengan banyaknya rokok yang diisap, Nina menganjurkan agar
menghentikan kebiasaan merokok sekarang juga.
”Kalau mereka
bilang merokok untuk menghilangkan stres, apakah benar? Apakah tidak ada
stres tambahan yang dialami dengan merokok? Apakah tidak ada risiko
kesehatan yang diderita? Banyak pertanyaan yang harus diajukan kepada
mereka,” katanya.
Pengaruh lingkungan juga mempunyai peran besar
bagi mahasiswa yang masih mempertahankan kebiasaan merokok. Mahasiswa
mempunyai banyak waktu di kampus. Bukan hanya saat kuliah, mereka juga
sering menghabiskan waktu untuk nongkrong di kantin atau lokasi lain di
kampus.
”Di kampus, kami suka nongkrong di kantin kemudian kumpul
bersama teman-teman yang merokok. Karena takut diledek, mereka pasti
ikut merokok. Apalagi seusia mahasiswa masih membutuhkan dukungan
teman-teman. Jadi, agak sulit bagi mereka menghentikan kebiasaan
merokok,” kata Nina.
Seberapa kuat niat menghilangkan kebiasaan
merokok, menurut Nina, bukan masalah pengetahuan mahasiswa tentang
dampak merokok. Namun, harus didukung oleh orang-orang di sekitarnya.
Seharusnya ada aturan tegas dari kampus untuk melarang merokok di area
kampus.
Nah, mau berhenti merokok atau tidak kembali pada diri
kita sendiri. Jika kita mempunyai rasa percaya diri tidak merokok,
kenapa tidak mulai dari sekarang untuk berhenti. Tak perlu lagi kita
membuang uang hanya karena ikut-ikutan merokok.