Serambi Kuliner

Dari Warung Kayu Hingga Ruang Ber-AC

AWALNYA, sate matang yang sudah terkenal di nusantara ini hanya ada di Keude Matang Geulumpangdua, Peusangan, Bireuen. Berawal dari gerai kecil

Editor: bakri
zoom-inlihat foto Dari Warung Kayu Hingga Ruang Ber-AC
SERAMBI/FERIZAL HASAN
Satu keluarga sedang menikmati nasi sate matang di warung sate Siang Malam, Matang Geulumpangdua, Peusangan, Bireuen.

Dari puluhan warung yang berdiri di Kota Sate—julukan Keude Matang, menawarkan aroma, rasa, dan ciri khas yang hampir sama. Inilah kekhasan Sate Matang.

“Cita rasa sate matang yang enaknya, tetap di Matang,” pungkas lelaki 30 tahun itu, seraya menyebutkan pernah mencicipinya di beberapa tempat lain di Aceh.

Sate matang ini tak hanya nikmat dimakan saat panas. Ketika sudah dingin pun, rasa sate pun masih tetap gurih. Inilah satu salah kuliner untuk menyajikan kenikmatan sate dengan kekhasan rasa dan menggugah selera.(*)

Piyoh... piyoh... Buka 24 Jam
TANGANNYA bergerak cepat sambil duduk di kursi kayu menghadap ke Jalan Medan-Banda Aceh. Pria bertubuh kurus itu terus bekerja menusuk sate pada lidi bambu yang dipegang di tangan kirinya.

Hiruk-pikuk suara kendaraan di jalan nasional itu tak berpengaruh pada pekerjaannya. Sesekali, lelaki paruh baya itu melambaikan tangannya ke arah mobil pelintas di jalan nasional tersebut. “Piyoh... piyoh... Bu sate matang (mampir... mampir... makan nasi sate matang),” begitu Fadli memanggil pelanggan untuk singgah di warung sate matang di Keude Matang Geulumpangdua, Peusangan, Bireuen.

Untuk melayani pelanggannya, Fadli tak hanya bekerja separuh hari. Dia terpaksa membagi shift dengan beberapa rekannya, agar para penikmat sate matang bisa mengonsumsi sate kapanpun.

Setiap harinya, warung-warung sate di Keude Matang Geulumpangdua itu dipadati pengunjung. Tak heran kalau warung sate di sana buka 24 jam. “Pekerjanya ganti-gantian. Ada yang masuk pagi sampai sore dan ada yang masuk sore hingga pagi,” kata Fadli saat ditemui Serambi di warung sate Siang Malam, dua hari lalu.

Saban hari, dia mampu menghabiskan 25-35 kilogram daging sapi untuk seribuan tusuk sate. Jumlah tersebut menurun dibandingkan beberapa tahun lalu. Kondisi itu akibat semakin menjamurnya warung sate matang di Keude Matang Geulumpangdua dan sekitarnya.

“Dulu, warung kami menghabiskan 50-70 kilogram daging sapi atau satu ekor sapi sehari. Kalau Lebaran bisa hingga dua ekor sapi. Akan tetapi, sejak beberapa tahun terakhir, pada hari raya kami hanya menghabiskan seekor sapi atau 60-75 kilogram daging,” kata Fadli yang mengaku sudah 25 tahun menjadi pedagang sate matang.

Meski omzet menurun, tak lantas memancing niat Fadli untuk beralih usaha. Bahkan, dia kian melayani pelanggan yang singgah setiap hari. Kini, untuk memuaskan pelanggan, warung sate matang miliknya ditata menawan dengan pelayanan prima. Ini ditujukan untuk memberikan kepuasan dan kenyamanan bagi pelangggan yang menikmati nasi sate matang di warung tersebut.(*)

Menu Utama Keude Matang
KALAU Anda bertandang ke Bireuen, belum lengkap rasanya bila tak mencicipi makanan khas berupa tusuk-tusuk sate daging sapi di Keude Matang Geulumpangdua, Peusangan. Puluhan pedagang sate matang memadati sejumlah pelataran warung kopi yang disinggahi angkutan umum maupun mobil pribadi.

Sate matang itu dilengkapi bumbu kacang tanah yang digiling dengan cabai merah, cabe rawit, bawang merah, kemiri, dan lada. Ditambah santan, garam, dan gula pasir putih secukupnya. Bila dimakan dengan nasi putih, lebih sedap lagi ditambah kuah soto bercampur tulang daging atau otot-otot sapi. Kuah soto itu pun diracik khusus, sehingga rasanya nikmat, sedap, dan memuaskan.

Tidak heran bila setiap pengunjung lahap menikmati sate matang. Seperti Abah (52), warga Lhokseumawe, sangat menikmati kelezatan sate matang yang dijual di kawasan Keude Matang tersebut.

Sekitar 1980-an, harga satu bungkus nasi sate matang dengan tiga tusuk sate ditambah bumbu kacang dan kuah soto, hanya dijual Rp 2.500 per bungkus. Karena kian meningkatnya harga berbagai kebutuhan pokok, harga satu porsi dengan 10 tusuk sate ditambah bumbu kacang, kuah soto, dan nasi putih, dijual Rp 25 ribu per porsi. Harga tersebut sangat terjangkau.

“Kalau satu tusuk sate kami jual Rp 2.500, satu bungkus nasi sate dengan tiga tusuk sate plus bumbu kuah soto dan nasi putih kami jual Rp 10 ribu per bungkus,” ujar Irfan, pelayan di warung sate matang, sembari tangan kanannya bergerak mengipas sate pesenan pelanggan.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved