Jumat, 24 April 2026

Opini

Malu dan Bala

Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak. Hukum tak tegak, doyong berderak-derak

Editor: bakri

Tampaknya  orang Indonesia, apalagi ureueng Aceh,  harus malu, seperti kata Taufiq Ismail.

 Setidaknya kita merasa malu hati sehingga tidak membuat malu orang lain. Dan malu ‘hati’ akan menjadi karakter bila selalu mengasah matahati agar hati tidak tertutup cahaya ilahiah. Sebab, hanya ‘hati’lah yang bisa mengendalikan seseorang untuk  mencapai kemajuan besar secara material, spiritual,  dan sosial.

Cara mengasah mata hati, kata Nabi saw, dengan belajar menghitung diri sendiri. Ada nasihat, jika enggan ditunjuk publik, silakan tunjuk jari sendiri. Jika engkau sudah berani tunjuk jari diam-diam, dan jika telah engkau akui dalam hati bahwa gaji resmimu hanya cukup untuk hidup pas-pasan, bahwa untuk hidupmu yang mewah itu harus ditopang oleh serangkaian penghasilan tambahan tanpa peduli apakah ia barang terlarang, maka mengakulah dengan rendah hati, bahwa engkaulah pewaris yang sah dari kelaliman zaman jahiliyah. Karena bagaimana mungkin engkau tega memperkaya diri di tengah penderitaan rakyatmu? Bagaimana mungkin engkau malah lahap memakan jatah orang yang lebih susah?

Ternyata, memang sulit melaksanakan, termasuk menjaga malu. Dan berapa banyak ustaz, penceramah atau orang ahli agama, mendakwahkan dari atas mimbar, namun sangat sedikit yang melakukannya. Berapa banyak orang kaya yang menghambur uang, tapi ketika seorang gembel datang minta sedekah dengan enteng ia berdalih, “Lakee me’ah”.  Ini karena tidak merasa malu hati. (***)

* Penulis adalah pemerhati soal-soal budaya.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved