Serambi MIHRAB
Masjid Tuha Indrapuri
MASJID berbentuk segi empat yang terletak di Pasar Lama Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar
MASJID berbentuk segi empat yang terletak di Pasar Lama Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar ini lebih menyerupai candi, karena di masa silam bangunan tersebut merupakan benteng sekaligus candi kerajaan hindu.
Masjid ini berada di areal tanah seluas 33.875 meter, berlokasi di poros jalan Banda Aceh-Medan, Desa Pasar Indrapuri, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar. Masjid berkonstruksi kayu didirikan di atas reruntuhan bangunan berkonstruksi batu berspesi kapur dan tanah liat yang pernah difungsikan sebagai benteng pertahanan pada saat pendudukan Portugis dan Belanda di Aceh.
Masjid yang dikelilingi tembok empat lapis yang terletak tak jauh dari DAS Krueng Aceh ini merupakan salah satu situs sejarah Islam di Aceh. Namun sayangnya, kondisi bangunan masjid ini mulai tak terurus, dan kegiatan keagamaan pun mulai jarang dilakukan kecuali untuk shalat lima waktu dan tarawih di bulan Ramadhan.
“Dulu sering diadakan pengajian kitab kuning di sini. Namun sekarang sudah tidak ada lagi. Di bulan Ramadhan, warga datang ke sini hanya untuk melaksanakan shalat tarawih. Sementara, kegiatan lainnya seperti tadarus, tidak dilakukan lagi,” ujar Sulaiman, seorang warga setempat kepada Serambi beberapa waktu lalu.
Padahal dulunya, masjid ini berperan besar dalam menyebarkan syiar Islam di Aceh, khususnya di era tahun 1.300 Masehi, di mana pengaruh Islam di Aceh mulai menyebar, dan bangunan yang dulunya candi ini pun berubah fungsi menjadi mesjid pada masa Sultan Iskandar Muda berkuasa (1607-1637).
Bahkan masjid ini sempat menjadi tempat penobatan sultan terakhir Kerajaan Aceh, Muhammad Daud Syah pada tahun 1874, dan masa itu Indrapuri pun pernah menjadi ibukota Kesultanan Aceh. Namun, saat ini kondisi masjid banyak ditumbuhi rerumputan sehingga tampat seperti tak terurus. “Seingat saya, masjid ini terakhir kali direhab tahun 1993, dan setelah itu tak pernah lagi dilakukan perbaikan bangunan,” ungkap Sulaiman.
Beberapa literatur menyebutkan, sejarah berdirinya masjid ini diawali pada masa Kesultanan Iskandar Muda berjaya, dimana Indrapuri merupakan daerah yang ditempati oleh orang-orang Hindu di Aceh. Candi Hindu itu dulu juga dikenal dengan benteng atau kerajaan Hindu, yang didirikan pada tahun 604 M oleh adik perempuan dari Putra Harsha, yang melarikan diri dari kerajaannya ke Aceh.
Dalam buku “Tawarich Raja-raja Kerajaan Aceh”, karangan Yunus Djamil menyebutkan, Indrapuri merupakan bagian dari kerajaan Hindu Indrapurwa dan salah satunya termasuk benteng Indrapatra.
Dalam artikel lain juga disebutkan, pengelola pertama masjid ini adalah Teungku Syiah Kuala, sekitar tahun 1.600 Masehi, kemudian masjid ini diurus oleh Teungku Chik Eumpe Trieng pada masa Panglima Polem dan selanjutnya diwariskan kepada cucu Panglima Polem, Teungku Wahab. Terakhir, masjid tua penuh sejarah ini diurus oleh Abu Indrapuri. Sepeninggal Abu Indrapuri lalu beralih kepada Teungku Harun dan Teungku Nasrudin yang mendirikan sekolah di pekarangan masjid.
Meski terlihat kurang terurus, namun masjid ini masih tetap terjaga dan tetap menjalankan fungsinya sebagai rumah ibadah bagi warga di sekitarnya.(yat)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/masjid-tuha-indrapuri_20160621_154014.jpg)