Cerpen
Menjadi Kucing
MENINGGALKAN ruang kerja dan berleha-leha di halaman belakang sambil menikmati sejuknya suasana petang
Kupacu CRV hitamku melewati jalan Daoed Bereueh. Melintasi bundaran Simpang Lima, terus melewati halaman depan Mesjid Raya yang nampak bermatabat berdiri di tengah kota yang terkenal dengan Hukum Syariah. Dari arah Mesjid Raya aku berbelok ke kanan hingga tiba di Rise Up kafe yang lumayan bersih, dan segera disambut oleh pelayanan yang hangat dan ramah.
Aku mencari tempat duduk di pojok utara agar bisa memperhatikan para pelanggan yang keluar masuk kafe. Dari pojok ini enak sekali memperhatikan gerak gerik orang lain. Sebenarnya tidak baik memperhatikan tingkah laku orang lain. Tetapi perasaan nikmat yang menjalari hatiku telah mengalahkan sopan santun. Lalu, aku memesan teh jahe panas untuk menghangatkan tubuh. Tanpa menunggu lama, pelayan segera menyodorkannya.
Aku berpikir, betapa cerianya para pelanggan yang datang menghabiskan malam di kafe ini. Aku juga berpikir betapa sempurna malamku jika ada teman yang menemaniku minum teh saat ini. Aku juga berpikir, apa yang sedang dilakukan Tina sekarang, dia yang dulu selalu setia menemaniku minum teh setiap pulang kerja ketika aku masih di Jakarta. Aku jadi teringat wajah Tina yang ceria dan baik. Aku membayangkan, barangkali suatu hari aku akan mendatangi Tina dan betapa terkejutnya dia ketika melihat aku telah berubah menjadi cantik dan seksi seperti dirinya. Tapi aku tetap tidak mau menjadi kucing, apalagi anjing.
Terlintas dalam benakku mungkin baik juga menasehati Tina agar dia tidak lagi menjadi kucingnya Pak Rasyid. Menasehatinya sama artinya dengan membalas penilaiannya terhadap penampilanku. Tapi tidak mungkin, sebab Tina sangat menikmati perannya itu, sebagaimana aku menikmati penampilanku yang biasa-biasa saja ini. Persetan dengan kesucian! Biar saja Tina seperti itu, lagi pula dia masih menjadi seekor kucing dan belum lagi menjelma seekor anjing. Andai saja Tina ada di sini, pasti kami sedang tertawa mencela kelemahan (atau kelebihan) masing-masing sebagaimana gelak-tawa para pelanggan lain yang terdengar dari sudut sana. Tapi setelah aku pikir kembali, kota ini bukan tempat yang cocok untuk orang seperti Tina.
Suasana kafe kadangkala membuat aku memikirkan sesuatu yang jarang aku pikirkan. Misalnya hal-hal bodoh dan sia-sia seperti yang barusan aku pikirkan. Sekarang aku ingin menghabiskan teh jaheku dan membayarnya. Lalu melangkah pulang menembus dingin malam.
Tiba di rumah aku berpikir untuk menulis semua yang aku pikir hari ini. Menulis tentang si sedap malam; si kucing hitam; penampilanku yang seperti pocong, kesucian, kesia-kesiaan, dan juga menulis tentang Tina sahabatku yang belajar hidup dari kucing tapi tidak pernah mau menjadi anjing. Aku yakin cerita ini akan menjadi cerita yang menarik.
* Cut Meutia adalah seorang ibu rumah tangga. Tinggal di Meurah Mulia, Aceh Utara.