Serambi Kuliner

Pisang Sale dari Pase

KABUPATEN Aceh Utara dikenal dengan kejayaan Kerajaan Samudera Pasai

Editor: hasyim

KABUPATEN Aceh Utara dikenal dengan kejayaan Kerajaan Samudera Pasai. Dari cacatan sejarah, daerah dimaksud merupakan perkembangan Kerajaan Islam di pesisir Sumatera yang terletak di Kecamatan Samudera Geudong--tempat pertama kehadiran Agama Islam di kawasan Asia Tenggara. Sejak masa kerajaan sampai sekarang, banyak warisan leluhur yang kini masih terus mewaris. Terutama di bisang kuliner. Salah satu yang masih melegenda sampai saat ini yakni pisang sale di kawasan Panton Labu. Pada Serambi Kuliner edisi Sabtu ini, Masriadi Sambo akan menyajikan tulisan dan resep pisang sale asal Aceh Utara itu.

TANGAN Ibrahim lincah membalikan pisang sale di tungku perapian, Selasa (8/10) siang. Pria berkumis ini serius membolak-balik puluhan pisang yang mulai berubah warna agak kecoklatan. Sesekali, lelaki berusia 45 tahun itu menghentikan aktivitasnya. Dia memerhatikan ke arah pisang sale atau melihat api di bawah tungku perapian itu.

“Apinya harus diatur agak kecil. Jangan terlalu panas. Biar rasanya enak dan warnanya bagus, tidak hitam legam,” terang warga Lorong Tgk Syam, Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara itu.

Ayah empat anak ini membuat tungku perapian dengan ukuran 1,5 x 6 meter. Tungku itu terpaut sekitar 10 meter dari rumahnya. Berada di antara tanaman pinang dan kakao. Suasana di tungku itu terasa sejuk dan asri.

Asap putih tipis keluar dari tungku perapian. Ibrahim mengucek mata. Menahan pedih tersapu asap putih. Usaha kecil itu dirintis pria berbadan kurus ini sejak sepuluh tahun lalu. Dia tak sendiri. Sekitar 50 warga desa itu juga memproduksi makanan khas Aceh tersebut.

Selain itu, lima desa di kecamatan tersebut: Alue Krak Kaye, Padang Meuria, Geudumbak, Tanjong Seulamat, dan Matang Tengoh, juga memproduksi pisang sale. Ya, kecamatan yang berbatasan langsung dengan Aceh Timur dan Bener Meriah itu merupakan sentra pembuatan pisang sale.

Untuk menuju lokasi pembuatan pisang sale ini, cukup menguras tenaga. Desa itu terletak sekitar 1,5 jam naik sepeda motor arah timur Lhokseumawe atau sekitar 45 menit arah selatan, Kota Pantonlabu, Kecamatan Tanah Jambo Aye. Jika hendak menuju lokasi itu, dariLhokseumawe bisa menempuh jalan lintas Medan-Banda Aceh.

Setiba di perempatan jalan Kota Pantonlabu, berbeloklah ke kanan. Lalu, lurus saja sampai menemukan Geudumbak. Kemudian berbeloklah ke kiri. Maka di sana akan ditemukan puluhan pengrajin pisang sale.

Ibrahim membeli bahan baku pisang wak Rp 2.000 per sisir. Hanya pisang ini yang bisa dibuat menjadi pisang sale. Sedangkan jenis pisang lainnya tidak bisa karena warnanya berubah menjadi hitam dan agak keras. Sedangkan pisang wak warnanya kecoklatan dan lembut. Sangat nyaman untuk digigit.

“Sebanyak 500 sisir pisang untuk sekali produksi. Setelah diproduksi itu bisa menghasilkan pisang sale sekitar 100 kilogram. Saya dapat untung antara 300 ribu-400 ribu rupiah per sekali produksi,” terang Ibrahim.

Untuk membuat pisang sale, dibutuhkan waktu selama enam hari. Awalnya, pisang yang belum matang diperam selama empat hari. Setelah matang lalu dikupas, kemudian masuk ke tahap perapian selama dua hari.

Diangkat dari perapian, warna pisang yang awalnya putih berubah menjadi kecoklatan. Artinya, pisang sale sudah bisa dinikmati. Saya mencicipi pisang sale dari bumo Pase itu. Rasanya gurih, manis, dan lembut. Sangat nyaman di mulut.

Setelah rangkaian produksi selesai, pisang itu akan dibawa ke pembeli di Pante Bidari, Aceh Timur. Harga jual Rp 20 ribu per kilogram. Sedangkan harga eceran pada sejumlah pedagang di Aceh Utara, Aceh Timur, dan Lhokseumawe, sekitar Rp 30 ribu-Rp 35 ribu per kilogram.

Kini, Ibrahim terus memproduksi pisang sale. Meraup laba dari penganan tradisional itu. Ibrahim terus bekerja. Di sampingnya sang istri dan seorang bayi berusia delapan bulan setia menemani. Mereka menjadi penyemangat buat sang kepala rumah tangga.(*)

Bahan Baku yang Tak Menentu
MASA keemasan pebisnis pisang sale sirna sejak dua tahun lalu. Kini, harus tertatih mencari bahan baku. Sangat sulit mendapatkan pisang selama wak dua tahun terakhir. Pasalnya, ratusan pisang di kecamatan pedalaman Aceh Utara itu mati mendadak akibat diserang jamur pada batangnya.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved