Serambi Kuliner
Pisang Sale dari Pase
KABUPATEN Aceh Utara dikenal dengan kejayaan Kerajaan Samudera Pasai
“Bukan hanya pisang wak, pisang kapok, pisang raja, dan pisang lainnya juga mengalami hal sama. Sulit sekali mendapatkan bahan baku untuk pisang sale,” terang pengrajin pisang sale lainnya, Abdul Hamid (38).
Siang itu, Abdul Hamid tak memproduksi pisang sale. Dia hanyamengumpulkan bahan baku. Baru ada sekitar enam tandan pisang wak. “Saya kumpulkan dulu pisangnya. Baru saya produksi. Sulit cari pisang sekarang. Dulu, dari kebun saya saja sudah cukup untuk membuat sale,” ujar Abdul Hamid sembari menggaruk kepalanya.
Benar saja, tungku perapian pisang di samping rumahnya kosong. Tak ada pisang, tak ada pula kepulan asap. “Dulu, saya bisa produksi satu ton per bulan. Sekarang, 200 kilogram saja sulit. Nggak ada bahan baku,” ujarnya.
Keluhan sama diutarakan Ibrahim. Dua tahun lalu, Ibrahim tak perlu membeli bahan baku. Dia bisa menebang pisang dari kebun miliknya. Kini, Ibrahim harus membeli bahan baku, agar tungku pisang sale tetap mengepul dan rupiah memenuhi dompet.
“Dulu membuat pisang sale ini menjadi pekerjaan utama saya. Sekarang, pekerjaan utama saya menanam padi, cabai, dan lainnya. Pisang sale hanya sampingan. Bahan bakunya sulit didapat,” kata Ibrahim.(*)
Kemasan Penganan Lokal
KELEZATAN rasa pisang sale sudah tak asing lagi bagi lidah masyarakat Indonesia. Penganan ini bahkan dijadikan oleh-oleh. Jika hendak berpergian, pedagang eceran di sejumlah terminal di Aceh kerap menenteng pisang sale. Bahkan, penjualan pisang sale sudah sampai ke Medan, Sumatera Utara.
Namun, kemasan penganan lokal ini masih sangat tradisional. Dibungkus dalam plastik putih. Tak ada kotak atau pun jenis pelastik yang lebih enak di pandang mata.
Karena pisang sale ini menjadi salah satu kuliner yang dikenal bila melintasi Aceh Utara, pemerintah kabupaten di sana telah menyiapkan langkah pengtembangan pisang sale ini. Konon lagi, Wakil Bupati Aceh Utara, Muhammad Jamil telah memasukkan pisang sale sebagai prioritas pengembangan penganan lokal di kabupaten itu.
“Termasuk soal kemasannya. Setelah Idul Adha, kami akan bertemu pedagang dan pengrajin pisang sale. Kami akan meminta masukan dari mereka, kemasan yang bagus bagaimana,” terang Muhammad Jamil.
Mantan Kadis Pensisikan Aceh Utara ini menyebutkan, jika ada kendala permodalan pada pengrajin, pihaknya siap membantu. “Pisang sale itu akan kami promosikan secara masif sebagai penganan khas Aceh Utara. Dinas koperasi yang kami perintahkan fokus untuk pengembangan pisang sale itu,”terang Jamil.
Selain itu, terkait kendala bahan baku, dirinya akan memerintahkan Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Peternakan Aceh Utara, untuk turun ke lokasi.
“Setiap penyakit pasti ada obatnya. Untuk itu, saya intruksikan agar ahli pertanian di dinas itu turun ke lokasi. Bantu masyarakat mengobati penyakit pisang itu, agar bahan baku jadi mudah untuk membuat pisang sale,” pungkas Jamil.(*)
Rasa Lidah Mereka
Rasanya Gurih
PISANG sale itu varian lain dari makanan bahan baku pisang. Rasanya gurih, lembut, dan agak kenyal. Manisnya pas. Saya sering membeli pisang ini untuk penganan di rumah dan oleh-oleh jika berkunjung ke keluarga di luar Aceh. Saya pikir, pisang sale asal Aceh itu khas Aceh. Tidak ada di daerah lain. Jika ada, modelnya berbeda, seperti pisang sale goreng di Pulau Jawa.
Mentari Dhuha | Wiraswasta