Gempa Aceh

Akibat Gempa, Murid Takut ke Sekolah

Gempa 5,6 skala Richter (SR) yang mengguncang Pidie dan sebagian Aceh, Selasa (22/10) siang, masih menyisakan trauma psikis di kalangan murid

Editor: bakri
Guru bersama murid mengikuti proses belajar mengajar di halaman sekolah pasca gempa di Madrasyah Ibtidaiyah Negeri, Desa Pulo Kawa, Tangse, Kabupaten Pidie, Rabu (23/10). Sebanyak 100 lebih murid MIN di desa itu tidak bisa menempati ruangan belajar karena dindingan bangunan sekolah retak dan plafonnya ambruk akibat gempa 5,6 SR yang terjadi Selasa (22/10).ANTARA/Ampelsa 

* Data Kerusakan Bertambah

SIGLI - Gempa 5,6 skala Richter (SR) yang mengguncang Pidie dan sebagian Aceh, Selasa (22/10) siang, masih menyisakan trauma psikis di kalangan murid sekolah dasar (SD) Desa Neubok Badeuk, Kecamatan Tangse, Pidie, hingga Rabu kemarin. Karena takut terjadi gempa susulan, mereka putuskan tidak datang ke sekolah.

“Murid-murid tidak hadir, padahal hari ini sekolah tidak diliburkan,” kata Kepala SDN 2 Neubok Badeuk, Kecamatan Tangse, Pidie, Abdul Muthalib SPd, saat ditemui Serambi di sekolah tersebut, Rabu (23/10).

Pantauan Serambi pukul 10.00 WIB, tujuh ruang di SD negeri itu masih berantakan oleh reruntuhan plafon dan mobiler yang berjatuhan ke lantai ruang kelas.

Murid di sekolah yang dipimpin Abdul Muthalib itu berjumlah 101 orang. Ditunggu gurunya hingga siang, tidak ada yang datang. “Kami sudah informasikan ke keuchik agar disampaikan ke wali murid supaya anak-anaknya hadir ke sekolah. Tapi sampai siang mereka tidak datang,” ujar Abdul Muthalib.

Beberapa murid sekolah itu yang ditanyai Serambi mengaku takut ke sekolah karena kemungkinan bakal ada gempa susulan. “Kami takut ke sekolah. Kami juga tidak tahu kalau hari ini sekolah tetap buka,” ujar Firlana, murid kelas I SDN 2 Neubok Badek yang ditemui di desanya.

Riswan dan Naiman, keduanya murid kelas V, juga mengaku sengaja tidak sekolah Rabu kemarin, karena khawatir ada gempa susulan. “Selain itu, rumah kami juga rusak,” ujar Riswan.

Kendati tak sekolah, puluhan murid SDN 2 Neubok Badeuk berlarian ke sekolahnya karena dikunjungi Haji Uma, komedian ‘Eumpang Breuh’. Sejumlah anak ingin melihat dari dekat wajah dan kekocakan pria bernama asli Sudirman itu.

“Kami ingin lihat wajahnya. Di film ia sudah tua, tapi sekarang kok lain,” ujar seorang anak di SDN Neubok Badeuk. Temannya malah bertanya lantang, “Kok tidak bawa parang, Pak Haji?”

Kepada Serambi, Haji Uma mengaku kedatangannya ke Tangse untuk memberi semangat kepada korban gempa. Terlebih anak-anak yang menjadi korban. Ia berpesan supaya murid-murid jangan libur lagi. “Besok sekolah ya,” ujarnya di hadapan anak-anak tersebut.

Sementara itu, Camat Tangse, Jafaruddin yang ditemui di kantornya, Rabu (23/10) mengungkapkan, jumlah sekolah yang dilaporkan rusak akibat gempa di kecamatan itu bertambah. Semula hanya SDN 2 Neubok Badeuk saja yang rusak. Tapi hingga kemarin, ada dua sekolah lainnya yang rusak diguncang gempa. Yakni, SDN Peunalom I dan SDN Layan.

Data jumlah rumah yang rusak hingga Rabu (23/10) kemarin juga bertambah. Sebelumnya didata ada 14 desa dan 380 rumah yang rusak. Tapi hasil pendataan TKSK di Kecamatan Tangse jumlah rumah rusak menjadi 480 unit yang tersebar di 15 desa.

Camat Tangse berharap masyarakat tidak terus menunggu. “Kita sudah minta keuchik memberi semangat kepada korban gempa. Benahi saja apa yang bisa. Beraktivitaslah seperti biasa,” wejangnya.

Dia tambahkan, jumlah korban gempa sementara ini baru didata di empat desa. Sedangkan sebelas desa lainnya hingga pukul 14.00 WIB, Rabu (23/10/2013) belum masuk ke kantor camat.

Sementara itu, hingga pukul 11.00 WIB, Rabu (23/10) korban gempa mengaku belum mendapatkan bantuan. Padahal, mereka sangat membutuhkan karena perabotan rumah mereka sudah rusak.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved