Jumat, 12 Juni 2026

Cerpen

Kohler dan Celaka Tiga Belas

Laut hanya berombak kecil. Angin seakan-akan berhenti. Seekor burung yang aku tidak tahu namanya

Tayang:
Editor: bakri

Karya Teuku Mukhlis

UDARA pagi itu cerah. Laut hanya berombak kecil. Angin seakan-akan berhenti. Seekor burung yang aku tidak tahu namanya tampak bersembunyi di balik nyiur sambil sesekali membenamkan kepalanya agar tidak terkena tembakan salah alamat. Sementara peluru-peluru berdesing, belasan sekoci dan dua stoombarkas (kapal uap) yang mengangkut para perwira menengah dan prajurit dengan gegas menuju bibir pantai.

“Werker! Segera merapat ke pantai,” perintahnya.    “Baik, Tuan Kohler.”

Sekoci pun segera menuju Pantai Cermin. Diikuti oleh sekoci-sekoci lain. Pantai Cermin hanya berjarak beberapa ratus meter lagi, dan tiba-tiba runtunan peluru muncul dari balik benteng. Aku terkesiap dan hampir saja melompati dinding kapal jika tidak segera disadarkan oleh seorang kopral yang sejak tadi tidak melepaskan pandangan ke arahku.

“Berpencar!” perintah Kohler pada sekoci lain. “Lepaskan tembakan! Serang!”

Sekoci yang mengangkut senjata berat memuntahkan tembakan ke arah benteng. Prajurit-prajurit lain membidik senapan mereka untuk mencari sesosok tubuh yang merayap dan bersembunyi di antara dinding-dinding benteng. Aku hanya membidik saja, tidak melepaskan tembakan karena aku tidak melihat seorang pun di sana. Setetes keringat melewati bibirku yang tertutup rapat, dan kuseka dengan ujung lidah sehingga aku merasakan sesuatu yang asin.

Melihat serangan tiba-tiba dari balik benteng, Kapal Siak dan Broonbeek kembali membombardir Pantai Cermin. Bantuan meriam juga datang dari Kapal Djambi dan Coehoorn. Ledakan-ledakan besar terdengar. Beberapa tubuh terlempar.

“Yaaaaaa, bagus! Mampus kau!” teriak Kohler. “Cepat! Serang lagi! Binkes, bawa beberapa pasukan ke arah timur.”

“Siap, Tuan!” Kolonel Binkes menunjuk beberapa prajurit agar ikut bersamanya. Ketika pasukan yang dibawa Binkes mencoba menerobos Pantai Cermin, mereka dihadang oleh puluhan musuh dengan menggunakan kelewang.

“Kurang ajar! Ayo, prajurit! Tumpas mereka semua!” ujar Binkes memberi semangat prajuritnya yang sudah kewalahan.

“Mereka terlalu dekat, Tuan. Dengan apa kita menyerang mereka?” tanya seorang prajuritnya yang tampak gamang. Itu adalah kopral yang berada di sampingku tadi. Aku lupa menanyakan namanya.

“Setan! Apa kau pikir Kerajaan Belanda tidak mempersenjataimu dengan bayonet? Gunakan bayonetmu itu, tolol!” bentak Binkes.

Beberapa prajurit Binkes bersimbah darah. Bayonet tidak mampu menahan tebasan-tebasan kelewang, bahkan Kohler kalap. Dia melepaskan tembakan beruntun tanpa membidiknya dengan benar. Peperangan ini telah menyebabkannya tertekan. Ia tentu tidak mau malu dan dianggap gagal di hadapan Gubernur Jenderal. Harga diri dan reputasinya yang gemilang sedang dipertaruhkan.

Satu per satu para musuh tewas. Begitu juga orang-orang kami, salah satunya adalah si kopral yang gamang. Kematiannya sungguh mengerikan. Sisa-sisa sabetan kelewang membuat bagian dalam tubuhnya terburai. Tiba-tiba musuh menyadari jumlah mereka semakin berkurang, lalu meninggalkan benteng. Kami tidak mengejarnya. Kami menganggapnya sebagai sebuah kemenangan. Teriakan-teriakan prajurit membahana. Tapi pesta kemenangan tidak berlangsung lama, gerombolan musuh muncul kembali. Kali ini dengan jumlah yang lebih banyak.

“Setan! Ternyata mereka belum mau kalah. Serang lagi!” seru Kohler dengan semangat yang menggebu.

Aku membidik musuh-musuh yang terus maju dengan tebasan kelewang mereka. Seorang musuh berhasil kutembak. Ia tersungkur.

Bayonet dan kelewang saling beradu, pertarungan jarak dekat tidak bisa dielakkan. Aku mengundurkan beberapa langkah kakiku untuk mencari tempat perlindungan. Aku ingin menghindari pertempuran jarak dekat, jadi kujauhi orang-orang nekat itu dan menyembunyikan diriku dari pandangan Kohler atau Binkes yang kapan saja siap untuk memerintahku maju ke garis depan pertempuran. Di antara gundukan pasir, kepalaku menyembul dan moncong senjataku mengikuti gerakan musuh. Lalu aku menembak. Kali ini luput. Kubidik lagi, dan luput lagi. Aku tidak tahu penyebabnya. Yang kurasakan adalah getaran bertubi-tubi pada tanganku. Sementara itu musuh kian menggila. Berteriak-teriak dengan kalimat yang sama seolah-olah kalimat itu serupa mantra yang membuat mereka kebal.

Tapi prajurit kami terlalu tangguh bagi musuh-musuh itu. Tangguh karena jumlah kami lima kali lipat jumlah mereka. Bisa dipastikan, kemenangan berada di pihak kami. Sementara ini, dapatlah kita katakan perang telah berhenti sejenak.

“Binkes! Berapa jumlah prajurit kita yang tewas?” tanya Kohler pada sang kolonel.

“Lapor, Tuan! Sebanyak sembilan prajurit kita tewas dan empat puluh enam lainnya luka-luka.”

 “Binkes, buat laporan kepada Gubernur Jenderal bahwa kita berhasil menguasai Benteng Pantai Cermin. Kau tulis musuh yang tewas sebanyak seratus orang, dan prajurit kita yang tewas hanya dua orang.”

“Baik, Tuan!”

Kemudian Kohler dan Binkes memeriksa keadaan benteng yang telah kami taklukkan itu. Benteng ini sudah tampak tua. Tidak seperti perkiraan kami yang menganggap bahwa benteng ini adalah salah satu garis pertahanan terkuat yang dimiliki musuh. Salah! Kami hanya mendapati tiga meriam tua, sebuah meriam perunggu, meriam tanpa penahan di atas tembok, dan sebuah meriam lagi yang hampir tenggelam oleh pasir.

“Dasar mata-mata tak berpengalaman!” ujar Kohler.

“Benar, Tuan!” tegas Binkes. “Dan bagaimana rencana Anda selanjutnya, Tuan?”

“Kumpulkan beberapa perwira, kita adakan rapat strategi. Dan perintahkan beberapa prajurit untuk bersiaga.”

“Siap, Tuan!”

Kohler kembali memeriksa benteng tua itu. Beberapa prajurit yang berpapasan dengannya langsung mengalihkan langkah mereka menuju ke tempat lain. Dan tiba-tiba Kohler berteriak, “Sial! Celaka tiga belas!”

“Ada apa, Tuan?” tanya Werker terburu-buru yang kebetulan berada di samping Kohler.

Kohler menunjukkan sepatunya yang telah menginjak kotoran lembu setengah lembab. Werker tersenyum geli. Melihat kejadian konyol itu, aku pun ikut tersenyum.

“Apa kau pikir ini lelucon? Cepat cari lembu yang telah seenaknya membuang kotoran di sini! Dan jangan kembali sebelum kau temukan itu lembu.”

“Siap, Tuan!”

Setelah Werker berlalu, Binkes muncul bersama beberapa perwiranya. Rapat darurat pun digelar.

   “Benteng ini telah kita kuasai,” kata Kohler menunjuk peta. “Setelah pasukan selanjutnya tiba di sini, kita akan menyerang Kraton Sultan. Kalian paham?”

Tapi seorang perwira tampak bingung membaca peta itu.

“Tuan, apa Anda yakin kalau keraton sultan itu berada di sini. Bukankah gambar ini tampak seperti rumah ibadah orang Islam?” tanya perwira itu ragu.

Kohler melihat kembali peta itu.

“Tidak mungkin mata-mata kita salah dalam hal ini,” tegas Kohler meyakinkan perwiranya meskipun ia setengah ragu.

Peperangan telah membuat Kohler kelelahan. Baru saja Kohler hendak melepaskan penat, tiba-tiba Werker datang tergopoh-gopoh menghampirinya.

“Tuan, saya sudah membawa binatang yang Anda maksud tadi?”

“Oh ya, aku baru ingat. Padahal aku telah melupakannya tadi. Di mana binatang itu?”

Werker pun menggiring Kohler menuju ke sebuah pohon Ketapang yang berada di sebelah barat benteng. Seekor binatang besar tertambat di sana.

“Ini dia, Tuan,” tunjuk Werker dengan bangga.

Melihat binatang itu, Kohler tiba-tiba menjadi jengkel.

“Werker! Apa kau tidak bisa membedakan antara lembu dan kerbau?” ujar Kohler lalu meninggalkan Werker yang tampak bodoh itu. Kami hanya tertawa saja melihat kejadian itu. Sedangkan kerbau yang tertambat itu melenguh panjang.

* Teuku Mukhlis, lulusan IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Guru bahasa Arab di SMAN 1 Baktiya Barat, Aceh Utara.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved