Breaking News:

Cerpen

Klikkk!

MALAM kian larut. Kau log out dari Facebook, memadamkam laptop, meninggalkan meja baca, menuju ke ranjang

Editor: bakri

“Tidak, tidak, Nona! Aku mau kembali ke dunia nyata. Tolonglah, bagaimana caranya?”

“Tidak ada cara.”

“Kok?!”

“Apa kok-kok!”

“Tolonglah! Ini tidak mungkin! Ini kejam sekali. Masak tekhnologi begitu kakunya? Aku ingin kembali ke dunia nyata, tolonglah, Nona. Bagaimana caranya?”

“Pergilah ke kuburan Mark Zuckerberg. Tidur di samping kuburannya. Mintalah wangsit sama dia. Tiap orang akan mendapatkan kode yang berbeda, sama seperti password akun Facebook waktu di dunia nyata.”

Dan kau pun pergi ke kuburan Mark Elliot Zuckerberg. “Bulsyit itu orang! Ada-ada saja akalnya! Bikin dunia ini-lah, bikin dunia itu-lah! Mentang-mentang otaknya encer! Yaaaaaaah!” Kini kau tiba di kuburan Mark. Kau tidur satu malam di samping kuburannya agar mendapatkan wangsit. Dan malam itu kau bermimpi seakan-akan berbicara dengan si pencipta dunia maya Facebook itu. Dia bertitah, “Sujud di kuburanku tiga kali, lalu bilang ini: sa, dua, lhee, peut, limong, nam, tuuuuuuu-joeh! Nyang lakoe puwoe u binoe, nyang binoe puwoe bak lakoe. Nyang ka keunoe puwoe u nanggroe, nyang han eik theun sidroe puwoe bak sot keunoe.”

Dan kau pun terjaga. Keesokan paginya, kau bersujud tiga kali menyembah kuburan Mark Zuckerberg, lalu kau mengucapkan mantera yang diberikannya tadi malam dalam mimpi, “Sa, dua, lhee, peut, limong, nam, tuuuuuuu-joeh! Ureung lakoe puwoe bak binoe, nyang binoe puwoe bak lakoe. Nyang ka keunoe puwoe u nanggroe, nyang han eik theun sidroe puwoe bak sot keunoe.” Setelah itu kau menuggu. Penasaran. Menunggu lagi. Sudah agak lama. Tidak terjadi apa-apa, tidak terjadi perubahan apa-apa. Kau kesal. Menunggu. Menyumpahi Mark Zuckerberg sebagai manusia penemu dunia baru sekaligus beragam problem baru itu. Lalu malamnya kau datang lagi ke kuburannya. Tidur di situ. Lalu bermimpi. Dalam mimpi, Mark datang dengan senyumnya yang khas itu. Katanya, “Passwordnya salah. Salah di awal. Bukan “ureung lakoe”, tapi “nyang lakoe”. Ulangi besok pagi.”

Esok pagi kau kembali bersujud tiga kali menyembah kuburan Mark Elliot Zuckerberg, lalu kau mengucapkan mantera-password, “Sa, dua, lhee, peut, limong, nam, tuuuuuuu-joeh! Nyang lakoe puwoe u binoe, nyang binoe puwoe bak lakoe. Nyang ka keunoe puwoe u nanggroe, nyang han eik theun sidroe puwoe bak sot keunoe.” Dan, tiba-tiba, blaaaaaa! Kau kembali berada di halaman rumahmu di dunia nyata.

Namun, kini baru jelas kaurasa. Sunyi mendera. Sunyi menyiksa. Dunia tanpa ada lagi manusia. Dan serta-merta kau masuk ke kamarmu. Menekan tombol power pada laptopmu. Kau tak mungkin berlama-lama lagi di dunia nyata yang sunyi menekan begini. Kau ingin segera kembali ke dunia yang ramai. Tetapi, “Oh, Tuhan, baterai laptopku sudah habis!” Laptop tak mungkin menyala lagi. Sedangkan listrik di dunia ini sudah beratus-ratus tahun tak ada lagi. Mesin-mesin pembangkitnya pun sudah berkalang tanah.

“Oh, Tuhan, bagaimana caranya ini? Oh-oh-oh! Ya-ya-ya!” kau ingat. Kau masih punya baterai serap yang sering kaugunakan dulu dalam perjalanan. “Semoga dia masih ada di dalam laci meja ini.” Dan laci meja segera kaubuka. Wah! Kau menemukan baterai itu. Segera kaupasangkan pada laptop. “Semoga ia masih menyimpan arus barang sedikit.” Nah, sekarang power laptop kautekan. Blaaaaaaa! Laptop menyala. Kau mengakses internet. Membuka akun Facebook. Lalu keluar tulisan, “Mau meneruskan? Klik di sini!” Dan kau mengklik di situ. Klikkk!

 Kembang Tanjong, Januari 2014

* Musmarwan Abdullah, cerpenis

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved