Cerpen
Maryam
MARYAM masih suka menuliskan mimpi-mimpinya pada kertas dan menempelkannya di kaca lemari, dinding, dan pintu
Karya Nanda Feriana
MARYAM masih suka menuliskan mimpi-mimpinya pada kertas dan menempelkannya di kaca lemari, dinding, dan pintu kamarnya. Meski sudah jarang membaca kembali apa yang dituliskannya, dia masih menikmati kegiatan itu. Sejak memutuskan berhenti kuliah dan terjun ke dunia politik, kertas-kertas impian itu tak lagi menjadi hal paling pertama dilihatnya saat dia terbangun dari tidurnya. Sejak saat itu pula Maryam tidak pernah bisa tidur nyenyak.
“Biarlah kalian melakukan dengan cara itu. Aku akan melakukannya dengan cara sendiri,” ujar Maryam membuang sebuah kotak kecil berisi kartu yang bergambar foto dirinya ke dalam tong sampah.
Usai mengunci pintu Maryam bergegas keluar rumah. Pagi itu, sebuah Avanza hitam sudah menunggunya. Bagian luar mobil itu dipenuhi gambar Maryam. Di dalam mobil, ada beberapa lelaki berpakaian hitam bercampur merah menyala. Suara hentakan musik dari mobil itu terdengar sampai ke dalam rumah Maryam. Dilihat dari luar, rumah itu terlihat seperti tak berpenghuni. Sepi.
Pagi itu langit di kampung Meuligoe memang tidak begitu cerah. Bahkan hampir-hampir turun hujan. Seorang laki-laki bertubuh kurus, yang warna janggut dan rambutnya sudah sama-sama memutih duduk termangu di teras rumah sambil terus menatap langit. Maryam mendekati laki-laki itu dan menyalami tangan keriputnya yang sedang memegang tasbih.
“Bapak, tak usah memandang langit yang tak tampak itu. Pandanglah Tuhan, dan mintalah kepada-Nya agar anakmu ini selalu dalam lindungan-Nya,” kata Maryam sambil memeluk erat tubuh ringkih yang duduk di atas kursi roda itu. Tidak banyak ekpresi yang ditunjukkan lelaki itu selain anggukan-anggukan kecil.
Suara klakson mobil tiba-tiba mengejutkan laki-laki tua yang telah lama buta dan lumpuh itu. Dengan tergesa-gesa Maryam berpamitan sambil mencium tangan ayahnya. Dengan langkah terburu-buru Maryam keluar dari pagar rumahnya.
Tidak ada tanda bahwa cuaca hari ini akan cerah. Angin terus bertiup pelan menerbangkan daun-daun kecil dari pepohonan sengon yang tumbuh berjejer rapi di sepanjang jalan. Mobil terus bergerak, menuruni tanjakan. Persawahan tampak menguning bagaikan ambal yang dibentangkan. Di tengah-tengah pemandangan itu, berjejer tiang-tiang yang terbuat dari bambu, terpancang tegak di pinggir jalan. Angin mengayunkan wajah demi wajah yang digantungkan di sana. Umbul-umbul yang memamerkan wajah demi wajah itu, mengalahkan orang-orangan penghalau burung di sawah.
Mobil Avanza hitam itu terus berjalan menuju arah kota dan meninggalkan deru suara musik yang keras di sepanjang jalan. Maryam mengalihkan pandangan keluar jendela. Memandang langit yang tak lagi mendung. Sawah-sawah meghilang, menandakan kota semakin dekat. Kini yang tampak tiang-tiang kayu di sepanjang jalan. Dari kaca mobil yang berdebu Maryam melihat wajah-wajah di pepohonan, di tiang listrik, atap rumah, di depan kedai-kedai kopi.
“Jangan risau kau, Maryam. Lihatlah, warna kita yang paling menonjol. Kemenangan sudah dekat,” kata seorang lelaki yang duduk di dekat sopir.
“Wajahmu itu Maryam, ada magnetnya. Aku yakin, pasti banyak suara akan jatuh padamu,” kata lelaki lainnya.
“Kita memang tak perlu bersedih hati. Selama masih ada foto Maryam di situ, lalu ada kain sarung dan beras yang kita berikan, maka orang-orang dungu itu bisa kita atur.”
Kata-kata itu langsung diukuti oleh derai tawa. Ikut tertawa adalah pilihan yang sulit. Namun membuka mulut dan memasang wajah seolah sedang sangat bahagia, itulah yang dipilih Maryam.
Pukul 12.00 siang mobil berhenti di depan sebuah toko dua tingkat yang berwarna sama dengan baju para laki-laki yang berada di dalam mobil. Langit tidak tampak sedikit pun kelabu. Awan membiru.
Seluruh penumpang turun dan memasuki ruangan tempat diadakannya rapat Caleg dan tim sukses. Puluhan orang berseragam mengambil tempat dan duduk manis. Pemimpin mereka, seorang bertubuh tegap dan berkulit hitam, maju ke depan dan membuka rapat. Kenyataannya, laki-laki itu lebih sering mengelus-ngelus kumisnya ketimbang berbicara. Ketika rapat akan ditutup, pimpinan kembali berdiri dengan tegap. “Ingatlah. Waktu kita untuk dapat berkuasa tinggal beberapa bulan lagi. Maka, bersiaplah untuk menjadi pemenang.”