Cerpen

Maryam

MARYAM masih suka menuliskan mimpi-mimpinya pada kertas dan menempelkannya di kaca lemari, dinding, dan pintu

Editor: bakri

“Maksud anda, tebas siapa pun yang suka cari perkara? Bukankah begitu?” teriak salah seorang dari peserta rapat.Maryam terdiam. Tanpa disadari, dua tangannya terkepal. Maryam tiba-tiba seperti tersandera. Terjepit dalam kotak pengap kedap udara. Ia memutuskan keluar dari ruangan. Ia tiba-tiba mual dan merasa ingin muntah.

Di bawah sebuah pohon tak jauh dari toko, Maryam menenangkan diri. Dari kejauhan matanya tiba-tiba menangkap sosok misterius mengendap memasuki gerbang bagian bawah toko. Setelah itu, lelaki tersebut buru-buru berlari ke jalan dan menaiki motor  bersama temannya.

Maryam tak peduli. Ia menutup mata. Rasa bersalah dan tak berdaya membuatnya ingin berteriak.

Maryam berteriak. Dalam hitungan detik, suara teriakan itu  menyatu dengan suara ledakan mahadahsyat. Api membumbung tinggi. Terdengar teriakan manusia. Toko berwarna merah itu berubah menjadi hitam.  Tak ada lagi umbul dan bendera. Semua hangus dilahap api.

Maryam pulang dengan tubuh gemetar. Di rumah, ia berlari menyongsong ayahnya. Ia memeluk erat tubuh ringkih laki-laki tua yang tadi pagi diinggalkannya sendiri dan kini masih memegang tasbih. “Maafkan aku, Pak. Aku akan menuliskan kembali mimpi-mimpiku dan menceritakan itu kepadamu,” ucap Maryam sambil berurai airmata. 

* Nanda Feriana, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Unimal.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved