Obituari

Kematian yang Memperbesar Rongga Kesunyian

Ia terkapar di depan bioskop Kota Mexico City setelah satu pukulan mendarat telak di wajahnya

(Gabriel Garcia Marquez 1927-2014)

Karya Reza Idria

Ia terkapar di depan bioskop Kota Mexico City setelah satu pukulan mendarat telak di wajahnya. Sang pemukul, Mario Vargas Ilosa, berlalu setelah menambahkan caci maki kepada Gabriel Garcia Marquez -  atau akrab dipanggil Gabo oleh para penggemarnya -  yang masih terlentang di jalan. Tidak pasti apa penyebab kedua sastrawan yang kelak meraih Nobel Sastra itu berkelahi.

Spekulasi berkembang baku hantam itu bermula dari romansa cinta segitiga hingga debat karya dan saling mengumpat soal ideologi politik. Politik memang akrab dengan kedua penulis asal Amerika Latin tersebut (Marquez pernah tercatat sebagai anggota Partai Komunis Kolombia dan Ilosa adalah calon presiden Peru yang gagal). Sejak peristiwa yang terjadi nyaris 40 tahun lalu itu keduanya tidak pernah lagi bertegur sapa, dan kini mustahil kiranya setelah kita mendapat kabar kematian “paus sastra” dunia yang pernah dibikin terjerembah ke tanah oleh mantan kameradnya itu.

Gabriel Garcia Marquez meninggal dunia pada hari Kamis 17 April 2014 pada usia 87 tahun.

Ketika saya menulis obituari singkat ini, puluhan juta kali nama Marquez sedang diketik di halaman berita, media sosial , mesin pencari kata hingga kawat diplomatik dari kepala negara. Ucapan duka mendalam di antaranya datang dari Presiden Kolombia Juan Manuel Santos;  Enrique Peña Nieto presiden Mexico di mana Marquez menghabiskan hari tuanya; Presiden Amerika Serikat Barrack Obama; hingga seteru abadi Amerika seperti Fidel Castro dan gerilyawan EZLN (Ejército Zapatista de Liberación Nacional) Subcomandante Marcos dari rimba Chiapas.

Marquez memang dikenal akrab dengan dua nama terakhir. Selain menulis sastra, Marquez senantiasa membubuhkan jurnalis sebagai profesinya. Pekerjaan sebagai wartawan cum sastrawan menjadikannya semacam mediator sekaligus negosiator. Seperti ditulis The Guardian, Marquez suatu ketika berhasil mendudukkan pemerintah Kolombia dan gerilyawan pemberontak di satu meja perundingan. Sastra sebagai pembungkam letup senjata bukanlah jargon bagi Marquez.

Bagi pembaca sastra dunia Gabriel Garcia Marquez adalah penyihir kata-kata. Ia tidak diragukan sebagai sastrawan terpenting dari mazhab Realisme Magis. Novelnya One Hundred Years of Solitude (1967) telah menjadi semacam kitab suci yang senantiasa dirujuk ketika genre sastra ini dibicarakan.

Macondo, kota imajiner yang beberapa kali hadir dalam serial karyanya, akan tetap dikenang sebagai situs tersunyi yang pernah ada di dunia, di mana tokoh, hantu, wabah, warna, dan simbol diramu dalam teknik intertekstualitas yang membentangkan kewajaran terhadap apa-apa yang secara awam dinalar sebaliknya.  Bagi Marquez, yang diungkap dalam pidato Nobel Sastra tahun 1982, Macondo adalah Kolombia, dan juga seluruh Amerika Latin yang selama ini diwakili serta ditafsir dari sudut pandang kolonialisme. Itulah inti terdalam dari kesunyian,  katanya. Politik yang biasa diyakini hingar bingar bisa direntang jadi satu abad sunyi oleh kecanggihan penuturan Marquez.

Lahir di Aracataca, 6 Maret 1927, Marquez besar dalam asuhan orang tua dari pihak ibunya. Watak para tokoh dan imaji tempat dalam novel maupun cerita pendek Marquez adalah orang-orang dari lingkaran hidup dan kota tempat ia dibesarkan. Love in the Time of Cholera (1985) adalah romantika cinta orang tuanya, kedua sosok yang sama sekali asing dalam hidup Marquez,  namun akrab dalam imajinasinya berdasarkan cerita nenek dan kakeknya. Ia mengaku banyak belajar dan terilhami dari cara neneknya bercerita segala hal yang penuh fantasi dan menakjubkan, namun dengan nada yang natural. Nada kemudian menjadi sihir terpenting dari cara bertutur Marquez.

Di atas segalanya, realitas Amerika Latin adalah bahan dasar cerita-cerita Marquez, di antaranya dalam Leaf Storm (1955),  Autumn of the Patriarch (1975), Chronicle of a Death Foretold (1981),  dan Memories of My Melancholy Whores (2004). Tiga buku non-fiksi yang berjudul The Story of a Shipwrecked Sailor (1970),  News of a Kidnapping (1996) dan Living to Tell the Tale (2002) melengkapi deretan dedikasi Marquez pada perubahan politik di Amerika Latin.

Living to Tell the Tale adalah biografi yang ditulis oleh Marquez sendiri, konon setelah ia menolak begitu banyak permintaan orang lain yang ingin menulis riwayat hidupnya. Marquez adalah seorang yang otoritatif bagi sosoknya sendiri. Sikap yang juga bisa dibaca lahir dari penolakan terhadap “politik representasi”,  warisan kolonial yang diyakini Marquez masih bekerja menjadi hantu bagi Amerika Latin, dan dunia lain. Dunia di mana Marquez telah memperbesar rongga kesunyian ketika berita kematiannya tiba. Dunia lain yang terus berbagi kesunyian Macondo.

Ketika saya mulai menulis obituari ini, di atas telah saya sebutkan ada jutaan kali pengguna Internet mengetik dan menautkan nama Gabriel Garcia Marquez. Saya sadar bahwa angka itu kecil sekali dibanding milyaran orang lain yang tidak menganggap Marquez (baca: sastra) perlu dibaca. Setiap memulai kelas baru saya selalu memberi akun email “badai.daun” kepada para mahasiswa di UIN Ar-Raniry. Biasanya mereka bertanya kenapa atau apa arti “badai.daun”? Saya menjawab bahwa itu saya terjemahkan dari judul novel Gabriel Garcia Marquez, Leaf Storm.

Saya tidak terkejut mereka tidak mengenal karya Marquez. Beberapa saat setelah menerima kabar Marquez meninggal,  saya menyampaikan kepada dua kawan dari dua negara kaya berbeda Eropa. Mereka bertanya,  siapa dia? Itulah rupanya inti terdalam dari kesunyian,  comrade Gabo! Que en paz descanse.

* Reza Idria, berkumpul di Komunitas Tikar Pandan. Mahasiswa program doktoral di Universitas Harvard.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved