Opini
Pembelajaran Melalui ‘Diary’ Guru
ESENSINYA, kualitas seorang guru menentukan kualitas pendidikan
Oleh Rina Rahmi
ESENSINYA, kualitas seorang guru menentukan kualitas pendidikan. Profesi guru memiliki akses dan wewenang besar terhadap realitas lapangan. Kelas adalah situs utama dimana guru berperan sebagai pendidik dan melakukan perubahan terhadap proses belajar mengajar. Argumen saya dalam tulisan ini adalah profesi guru bukan produk, melainkan berorientasi sebagai proses dinamis yang menjadikan rutinitas sebagai pengalaman berharga. Kendati abstrak, pengalaman sering dijadikan basis dalam bertindak untuk merefleksikan diri. Sesuai dengan makna sebuah kata bijak: “Pengalaman adalah guru terbaik”.
Seorang guru, misalnya, menghabiskan 25-30 tahun umurnya berbakti sebagai pendidik. Dengan beban kerja hingga 24 jam per minggu, sewajarnya guru tersebut telah memiliki pengalaman lebih baik dalam hal pedagogi, manajemen kelas ataupun psikologi. Dengan pengalaman, guru dituntut untuk belajar secara berkelanjutan. Tetapi, ketika mendengar keluhan seperti; “sangat susah mengajak guru untuk belajar”, atau bahkan komentar seperti; “guru sekarang malas membaca atau menulis”, tidak perlu marah.
Keluhan atau komentar yang demikian dapat menjadi sarana untuk berintropeksi diri.
Konsep belajar memiliki makna yang luas, tidak hanya sekedar membiasakan diri menghargai ilmu pengetahuan melalui buku, tetapi juga melatih diri untuk menghargai pengalaman masing-masing. Masih banyak di antara guru kita yang hanya menjadikan profesinya sekadar rutinitas belaka. Tentu hal demikian akan berimbas pada proses pengajaran yang monoton, hambar dan “ala kadar”. Seolah-olah, mengajar itu bukan aktivitas yang menantang.
Sikap apatis tersebut muncul karena guru belum mampu berinteraksi dengan pengalamannya, belum peka terhadap apa yang terjadi, tidak menganalisa dan memahami implikasinya terhadap potensi diri dan semangat profesionalisme yang dimilikinya.
Sebagai instrumen
Saya ingin menegaskan, pengalaman itu “nyata” ketika direproduksi dalam bentuk lisan atau tulisan. Narrative atau cerita dapat mendokumentasikan setiap potongan pengalaman yang dapat berfungsi sebagai instrumen merefleksi diri dengan cara menceritakan kembali, memberi ide, mempertanyakan, menganalisa dan menyimpulkan pengalamannya. Bagi guru, merefleksi diri dapat difasilitasi dengan journal writing atau menulis jurnal yang bertujuan untuk mendokumentasikan pengalaman selama proses belajar mengajar berlangsung.
Istilah tersebut mungkin terdengar ilmiah, di sini saya menyebutnya diary sebagai satu bentuk journal writing. Walau terkesan informal, diari memiliki peran penting sebagai instrumen evaluasi. Peristiwa yang terjadi kemarin, hari ini, besok atau lusa dapat dituliskan ke dalam diary dan berbentuk narasi. Narasi dapat menjadi sarana transformasi sosial (Lawler, 2002). Proses perubahan yang bersifat top-down bisa digantikan dengan kekuatan bottom-up, di mana perubahan dimulai dari dalam kelas dan oleh guru, sebagaimana tuntutan Kurikulum 2013.
Perubahan tersebut dapat menentang status quo, apolitis, dan netralitas dunia kependidikan. Proses refleksivitas ini menuntut guru untuk berpikir kritis dan mampu merekonstruksi pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya. Misalnya, permasalahan yang dihadapi di dalam kelas; apakah berkaitan dengan metode pembelajaran maupun manajemen kelas dapat dituliskan dalam diary guru.
Saat menulis, sebetulnya seseorang sedang berinteraksi dengan dirinya sendiri, menganalisis apa yang terjadi dan mencarikan solusinya. Pada akhirnya, guru dapat belajar mendesain pembelajarannya sesuai kebutuhan siswa di lingkungannya. Istilah pembelajaran kontekstual sudah sangat sering disuarakan. Namun demikian, sering sekali kita menemukan guru yang notabenenya menggunakan pendekatan kontekstual, tapi masih mengarahkan kelas pada buku teks yang konteksnya bisa dikatakan jauh dari kebutuhan siswa lokal.
Pada masa sekarang ini, narasi menjadi trend dalam ilmu pengetahuan karena menjadi alat untuk memahami fenomena sosial dan membentuk identitas diri (Lawler, 2002). Identitas itu sendiri merupakan bagian dari profesionalitas. Menjadi guru yang profesional tidak sekadar bergantung pada individu masing-masing, tetapi sangat erat kaitannya dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya, seperti pengalaman mengajar dan peserta didiknya. Hal ini memberikan pemahaman bagi guru bahwa perannya bukan hanya sebagai praktisioner, tetapi juga pembuat teori (Kumaravadivelu, 2001).
Secara tidak langsung, bukankah menulis diary justru memberikan latihan kepada guru untuk memulai karyanya? Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang menjadi syarat kenaikan pangkat sering membuat guru merasa terbebani. Padahal, melakukan PTK akan lebih efektif dan mudah ketika sudah terbiasa menulis diary. Alhasil, PTK yang mengikuti prosedur ilmiah, yang berangkat dari pengalaman nyata guru di dalam kelas, dan bukan hasil plagiasi justru dapat berkontribusi dalam peningkatan kualitas pendidikan.
Pelaksana mandat
Hal demikian dikarenakan guru tidak hanya berperan sebagai pelaksana mandat kurikulum nasional, tetapi juga sebagai pembuat keputusan terhadap kebutuhan konteks anak didiknya sendiri. Karena itu, menjadikan narasi sebagai satu proses merefleksi diri, tentu harus diimplemetasikan dengan tepat supaya “cerita” para guru bukan hanya sebatas deskripsi, yang justru menimbulkan skeptisme untuk melakukan perubahan.
Oleh karena itu, Dinas Pendidikan setempat perlu memfasilitasi kapasitas guru untuk memahami secara konkret konsep journal writing melalui pelatihan atau seminar. Sehingga, diary ribuan guru yang tersebar di seluruh pelosok Aceh dapat dijadikan sumber informasi vital dalam mengevaluasi tingkat profesionalisme pendidik dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Singkat kata, tulisan ini adalah bagian refleksi saya sebagai insider atau guru dan semoga dapat menjadi dorongan bagi rekan sesama pendidik atau pihak lainnya untuk lebih menghargai pengalaman, mampu berintrospeksi diri, dan menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik. Selamat Hari Pendidikan Nasional 2014!
Rina Rahmi, Lulusan Masters of Education (TESOL International) di Monash University, Australia. Saat ini bertugas di SMA Negeri 1 Samalanga, Bireuen. Email: rinarahmi_86@yahoo.com.