KUPI BEUNGOH
Amarah Bukan Takdir: Menelusuri Akar Temperamen dari Sudut Pandang Psikologi
Ledakan amarah seperti itu bukan semata soal watak buruk. Di baliknya, ada kisah panjang tentang bagaimana seseorang dibesarkan.
Oleh: Widia Sari
Pernahkah kita menyaksikan seseorang melempar benda atau memukul meja hanya karena satu hal kecil tidak berjalan sesuai keinginannya?
Ledakan amarah seperti itu bukan semata soal watak buruk. Di baliknya, ada kisah panjang tentang bagaimana seseorang dibesarkan.
Menurut Psikolog ibu Juli Andriyani,M.Si. Dosen fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh, temperamen seseorang termasuk kecenderungan mudah marah berakar kuat pada keluarga.
Keluarga adalah sekolah pertama. Di sanalah seorang anak belajar merespons tekanan dan mengekspresikan perasaan.
Bila yang ia saksikan setiap hari hanya amarah dan kekerasan, maka kemarahan pula yang kelak ia pakai untuk menghadapi dunia.
Pola Asuh yang Membentuk Bom Waktu
Pola asuh otoriter adalah salah satu akar masalahnya . Anak tumbuh tanpa ruang untuk bertanya atau memahami alasan di balik setiap aturan.
Ketika dewasa, satu-satunya cara yang ia kenal untuk menyampaikan ketidaknyamanan adalah ledakan emosi persis seperti yang pernah ia alami di rumah sendiri.
Tak kalah berbahaya, orang tua yang terlalu sibuk mengejar materi hingga kehadiran emosionalnya tak dirasakan anak.
Anak dititipkan, dijejali les sejak usia empat tahun, dan kehilangan masa bermain. Anak yang kelelahan dan tak pernah didengar tumbuh menjadi pribadi yang mudah agresif dan tidak mengenal dirinya sendiri.
Genetik atau Lingkungan?
Sifat pemarah memang bisa diturunkan secara genetik. Namun ibu Juli Andriyani menegaskan, lingkunganlah yang menentukan apakah kecenderungan itu berkembang menjadi amarah yang merusak atau bisa dikelola secara sehat.
Karakter terbentuk bukan hanya dari keturunan, tetapi dari pengalaman dan cara kita diasuh.
Langkah Pertama: Sadar Diri
Perubahan dimulai dari kesadaran. Ketika seseorang mulai menyadari bahwa amarahnya menyakiti orang-orang di sekitarnya, di situlah dorongan untuk berubah muncul. Dengan kemauan yang kuat dan bila perlu pendampingan profesional pola lama bisa diurai perlahan.
Masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi nilai keluarga perlu terus merefleksikan pola pengasuhan yang diwariskan turun-temurun. Kita memang tidak bisa mengubah masa kecil yang telah berlalu. Tapi kita selalu punya pilihan hari ini: pola mana yang kita teruskan, dan pola mana yang kita putus demi anak-anak kita, demi generasi yang lebih tenang dan lebih mampu mencintai tanpa amarah.
Banda Aceh, 23 Mei 2026
Penulis Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry, Email: widiasari121006@gmail.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Widia-Sari-Mahasiswa-Prodi-Komunikasi-dan-Penyiaran-Islam-UIN-Ar-Raniry.jpg)