Cerpen

Persimpangan

DI PERSIMPANGAN itu, agak menikung ke kanan, di dekat toko buah, gadis itu berdiri menenteng baki kue

Persimpangan

Karya Muarrief Rahmat

DI PERSIMPANGAN itu, agak menikung ke kanan, di dekat toko buah, gadis itu berdiri menenteng baki kue. Bau menyengat dari lubang got menusuk hidung. Di dinding toko antik di sebelah toko buah ada mural bertuliskan: “Bunda, mana baktimu?”. Aku memperhatikan gambar itu sekilas. Cuma sekilas, karena ada sosok lain yang minta aku perhatikan. Setiap aku menaiki bus menuju kampus, aku memperhatikan seorang gadis. Gadis berkerudung kuning berbaju merah. Tiada yang berubah dari gadis itu. Dia selalu tersenyum kepada setiap pembeli. Aku heran, kenapa aku tidak pernah melihat raut kekesalan di wajahnya. Sore itu aku memutuskan mencari tahu tentang gadis itu.

Gadis itu akan terlihat lebih jelas bila dilihat dari sebuah kedai kopi. Kedai kopi paling terkenal di kota ini. Aku memesan segelas kopi tanpa gula. Si penyaring kopi menarik saring ke udara, menyebabkan air jatuh setinggi alat penyaring. Sekali saring untuk beberapa gelas kopi. Lantas kopi pesananku tiba.

Aku mengepulkan asap rokok yang telah aku bubuhi sedikit daun hijau. Rasanya nikmat betul.

Seorang ibu di sebelahku duduk dengan kaki terangkat. Sanggul besar menghiasi rambutnya. Wajahnya gemuk dan tubuhnya gempal. Dia mengenakan rok hitam di bawah lutut, dipadukan dengan baju berwarna merah. Di depan ibu itu, duduk seorang pejabat dan kawannya. Aku kenal wajah mereka berdua melalui berita-berita di Facebook. Si pejabat mengenakan kacamata. Rambutnya telah memutih. Temannya memiliki brewokan cukup lebat,  mirip aktor Chuck Noris. Saat berbicara suara mereka lumayan keras. Jadi aku mendengar isi pembicaraan mereka. Aku terkejut, karena pokok pembicaraan mereka adalah gadis yang sedang aku cari tahu.

Jantungku berdetak lebih cepat daripada biasanya. Agaknya si pejabat teras dan kawannya terganggu dengan kekagetanku. Lalu aku pura-pura membuang muka. Sial. Tiba-tiba dua orang berseragam loreng merah-hitam datang menghampiriku.

“Kau ini siapa? Kau orang mana? Kau tahu kami siapa?” bentak salah satunya. Tangannya memegang kerah kemejaku. Dia memiliki raut wajah yang sangar dengan kumisnya yang tebal serta ada tahi lalat di hidungnya. Tubuhnya atletis, aku perkirakan dia sering latihan membentuk badannya. Tertutupi  kacamata hitam, aku tak bisa bola matanya ketika dia membentakku. Sementara yang satunya lagi memiliki badan yang kurus dan tidak berkata-kata. Dia menatapku begitu dingin.

“Tahu Pak!” jawabku dengan keringat mengucur deras.

“Kalau kau ingin tetap hidup, pulanglah sekarang!”

Plakkk!

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved