Cerpen

Ramadan Yang Suram

OH, kami minta maaf,” kata tentara itu. “Kalau dia memang teman karib Anda, kami minta maaf,” sambung dia sambil memeluk

Karya Musmarwan Abdullah

OH, kami minta maaf,” kata tentara itu. “Kalau dia memang teman karib Anda, kami minta maaf,” sambung dia sambil memeluk senjata otomatis laras panjang di pangkuannya. “Dia memang target “A-Satu” kami. Saya benar-benar minta maaf. Dia benar-benar target “A-Satu” kami di kecamatan ini. Oh, saya benar-benar minta maaf.”

“Tidak apa-apa,” jawabku seraya mengalihkan pandang dari wajahnya ke gelas kopi di depan kami. “Kami kawan sekelas,” sambungku. “Malah sebangku waktu SMP. Hanya sampai kelas dua. Dia menghilang sebelum kami sampai di kelas tiga. Beberapa tahun setelah itu baru saya tahu bahwa kami telah menempuh jalan hidup yang berbeda. Tak apa-apa. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.”

Malam hening sejenak. Ada yang tiba-tiba merayap bagai ular kecil yang menjijikkan, yaitu semacam suasana tak enak di antara kami. Tadi dia dengan bangga mengabarkan pada kami bahwa pasukannya baru saja menembak mati seorang pemberontak yang bernama Hanafiah.

“Hanafiah?”

“Ya.”

“Orang mana?”

“Orang Pasi Lhok.”

“Kapan ditembak?”

“Tadi pagi, di tepi pantai.”

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved