Cerpen

Makam Bunga Bangkai

BUNGA itu berwarna ungu serupa roti tawar matang yang baru keluar dari pemanggangan

Makam Bunga Bangkai

Karya Ayi Jufridar

BUNGA itu berwarna ungu serupa roti tawar matang yang baru keluar dari pemanggangan. Batang penyangganya sebesar lengan bocah, kuning bergerigi dan agak tertutup dengan piringan di bawahnya berwarna ungu. Ujung-ujung piringan berwarna senada, tapi makin ke dalam, warna putihnya semakin dominan.  Tampaknya bunga itu belum mekar dengan sempurna. Kubus berbentuk roti di bagian atas harus menunggu waktu untuk terbuka dan menguarkan aroma yang kian membusuk, sebusuk bangkai.

Seorang warga menemukan bunga itu tanpa sengaja ketika mencari kambingnya yang hilang.  Dia curiga ketika mencium aroma yang khas, serupa aroma bangkai tetapi meyakini bukan bangkai manusia. Ia pernah melihat berita di televisi mengenai bunga bangkai tetapi tidak  pernah tumbuh di kampungnya sehingga penemuan itu menjadi sesuatu yang  berharga dan membanggakan. Ketika orang sekampung datang melihat, ia dengan gembira bercerita seolah itulah penemuan terbesar dalam hidupnya. Ia dikerubungi dan orang-orang bertanya kepadanya seperti wartawan memperlakukan orang terkenal. Entah tahu dari mana, kemudian wartawan datang. Mula-mula hanya satu orang, lalu datang beberapa lagi dengan menenteng kamera. Kebanggaan yang dirasakan laki-laki itu seolah  mencapai puncaknya ketika ia mengulang kembali kisah penemuan bunga bangkai di depan beberapa kamera.

Tumbuhnya bunga bangkai di kampung itu terbilang unik karena tidak pernah terjadi sebelumnya. Kampung yang jauh dari jalan raya itu memang bukan daerah yang kering, tapi juga tak bisa dikatakan sebagai daerah lembab yang biasa ditumbuhi bunga bangkai. Keunikan itu menjadi bertambah karena tumbuh di atas makam. Bisa dikatakan, bunga bangkai tumbuh di atas bangkai manusia. Namun, tak ada seorang pun berani berkata demikian karena makam itu milik Markam, seorang tokoh yang disegani bahkan setelah kematiannya. Markam dinilai berani melawan pemerintah dan berkat jasanya itu  rakyat mendapatkan berbagai kemudahan yang tak pernah terbayangkan selama ini. Dia dipanggil Ayah Markam sebagai bentuk penghormatan karena telah mengangkat senjata memperjuangkan kehidupan rakyat. Dia hidup sebagai pejuang, dan mati sebagai ulama. Ketika kawan-kawan seperjuangan memilih menjadi pejabat baik di pemerintahan maupun di parlemen, atau menjadi pengusaha untuk menggarap proyek-proyek pemerintah, Ayah Markam memilih hidup bersama rakyat. Ia mendalami ilmu agama, memperdalam al-Quran, dan kemudian menjalani hidup sebagaimana perintah Allah tanpa pernah menjadi pendakwah yang mengajak orang kepada kebaikan. Dakwahnya, kata orang, adalah perbuatannya.

Ayah Markam hidup sederhana di rumah kecilnya meski teman-teman seperjuangan siap membangun rumah mewah untuk membalas jasa-jasanya. Di rumahnya itu dia menanam berbagai jenis sayuran yang kemudian dijualnya ke pasar dengan sepeda tua. Setiap pagi dia membawa sayuran yang disimpan di sebuah keranjang rotan di belakang sepeda. Perjalanan dari rumah ke pasar hanya sekitar setengah jam, sehingga ia sudah berada di rumah kembali untuk salat Dhuha. Dia tak pernah berlama-lama di pasar dengan alasan itulah tempat yang paling dibenci Tuhan. Namun, undangan minum kopi dari beberapa orang yang mengenalnya, jarang ditampik kecuali ketika ada hal yang sedang mendesak. Karena sudah tahu kebiasaannya, jarang ada orang mengajaknya minum kopi apabila ia sudah berada di atas sepeda. Orang harus menunggu dia dalam perjalanan dari pasar ke tempat penyimpanan sepeda untuk bisa mengajaknya minum kopi.

Beberapa pejabat yang mantan gerilyawan pernah datang ke gubuknya, mereka bahkan pernah menjadi anak buahnya ketika mengangkat senjata dulu dan kini ada yang sudah menjadi bupati atau anggota dewan. Dia melayani dengan ramah, tidak memandang mereka dengan hina meski para sahabatnya itu sudah terlalu mencintai kekuasaan dan harta. Ketika ditawari uang atau bantuan dalam bentuk lain, ia selalu menolak. “Aku hanya hidup sendiri, mati pun nanti sendiri. Tak ada apapun yang perlu kuwariskan kepada siapapun. Rumah dan tanah titipan Allah ini pun sudah cukup membuatku repot mengurusnya. Janganlah kalian menambah bebanku. Kalau ingin membantu, doakanlah aku. Penuhilah janji-janji kalian kepada rakyat.”

Bila pembicaraan sudah menyangkut hal-ihwal tersebut, teman-teman Ayah Markam langsung terdiam. Tak berani lagi memperpanjang perbincangan. Diamnya mereka tidak pernah dimanfaatkan Ayah Markam untuk memberikan ceramah. Padahal, jangankan diceramahi, kalaupun dia sampai memaki, para pejabat itu akan tetap diam saja karena demikian kuat kharisma Ayah Markam di mata mereka.

Dia meninggal dalam usia 63 tahun seperti yang dikehendakinya. Bila orang lain selalu berdoa ingin panjang umur, dia malah ingin meninggal seusia Nabi Muhammad. Katanya, semakin panjang usia, semakin besar kemungkinan berbuat dosa kalau tidak bisa menggunakan umur tersebut untuk beramal. Tidak ada penyakit parah yang diderita Ayah Markam. Dia demam selama tiga hari dan menghembuskan napas terakhir pada hari keempat di gubuknya.

***

Tumbuhnya bunga bangkai di atas makam mengingatkan orang kepada kehidupan Ayah Markam. Ada yang mengaitkan bunga dengan dosa-dosa yang tidak diketahui banyak orang, apalagi setelah diteliti ternyata ada sebuah kelopak menyerupai mata di antara kubus bunga bangkai tersebut. Orang langsung menyebutnya mata Dajjal. “Tak mungkin tanda seburuk itu bisa ada di makam orang baik,” bisik orang-orang.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved